Home / Berita Terkini / Seminar Nasional “Poros Maritim Dunia: Jembatan Emas Asia Afrika”

Seminar Nasional “Poros Maritim Dunia: Jembatan Emas Asia Afrika”

Sekolah Pasca Sarjana Universitas Katolik Parahyangan mengadakan seminar nasional pada hari Kamis 16 April 2015 mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Seminar yang dilaksanakan di Gedung Pasca Sarjana Jalan Merdeka No. 30 Bandung ini bertema Poros Maritim Dunia: Jembatan Emas Asia Afrika. Seminar ini bertepatan dengan seminggu persiapan Kota Bandung menjelang KTT Asia-Afrika. Ratusan peserta dari berbagai institusi antusias mengikuti seminar ini.

Pada sesi II hadir tiga pembicara dari berbagai background dengan moderator dosen Ilmu Hubungan Internasional, I Nyoman Sudira, Ph.D. Tiga pembicara tersebut adalah Dr Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si (Dirut Universitas Pertahanan), Rizal Sukma Ph.D. (Direktur CSIS Jakarta), dan Dr. Ir. Arifin Rudiyanta, M.Si., (Staf Ahli Meneg PPN Bidang Tata Ruang dan Kemaritiman).

Indonesia merupakan negara strategis yang diapit oleh dua samudera dan dua benua. Menurut Rizal Sukma, deskripsi Indonesia yang sangat familiar di telinga itu harus dipahami sebagai jatidiri bangsa maritim. Negara kepulauan dengan wilayah perairan yang begitu luas membuat Indonesia secara natural menjadi negara maritim. Perpindahan center of gravity dari barat menuju timur menjadikan peluang bagi Indonesia untuk berkembang bersama negara maju Asia lainnya seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Posisi secara geografis yang sangat strategis pada jalur perdagangan dunia ini membuat Indonesia memiliki peluang untuk menjadi negara yang memiliki power (berpengaruh di dunia).

Di dalam pernyataan akhirnya, Rizal Sukma menjelaskan empat relevansi Poros Maritim Dunia dengan KTT Asia Afrika yang akan digelar Jumat, 24 April 2015. Salah satunya adalah Solidarity. Perubahan peta kekuasaan dunia akan membuat Asia menjadi benua dengan negara-negara yang kuat dari berbagai aspek. Kerjasama yang akan dibangun antar negara-negara Asia dan Afrika diharapkan dapat menghilangkan gap di antara mereka. Seperti yang sudah diberitakan bahwa konferensi yang akan dilakukan di dua tempat, yaitu Jakarta dan Bandung ini akan menghasilkan tiga dokumen yaitu Bandung Message, Declaration on Reinvigorating the New Asian-African Strategic Partnership, dan Declaration of Palestine.

Seminar yang bersamaan dengan kunjungan Presiden Joko Widodo untuk mengecek persiapan KTT Asia Afrika di Bandung ini merupakan wujud perhatian akademisi Universitas Katolik Parahyangan terhadap isu Indonesia sebagai poros maritim dunia dan juga solidaritas Asia Afrika.