Home / Alumni / Semangat Srikandi Indonesia Menapaki Puncak Dunia

Semangat Srikandi Indonesia Menapaki Puncak Dunia

Menapaki puncak-puncak tertinggi dunia menjadi impian banyak petualang sejak lama. Dibutuhkan pengalaman dan semangat yang tinggi untuk menempuh medan berat yang merintangi jalan menuju puncak. Namun, hal tersebut justru menjadi tantangan tersendiri bagi para pecinta alam, termasuk dari Indonesia. Tantangan untuk mencapai tujuh puncak dunia atau seven summit telah dilalui oleh pemuda-pemudi Indonesia.

Pada 2009, Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam Universitas Katolik Parahyangan (Mahitala Unpar) mengirimkan ekspedisi seven summit pertama dari Indonesia. Indonesia Seven Summits Expedition (ISSEMU) Mahitala Unpar terdiri dari empat orang pendaki yang juga mahasiswa Unpar, yaitu Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, Broery Andrew Sihombing, dan Janatan Ginting. Puncak Denali yang dikenal juga sebagai McKinley di Amerika Utara menjadi puncak pamungkas dalam ekspedisi yang berakhir dengan sukses pada tahun 2011.

ISSEMU tidak menjadi akhir dari ekspedisi tujuh puncak yang digagas oleh Mahitala Unpar. Pada tahun 2014, dimulailah pendakian oleh Tim The Women of Indonesia Seven Summits Expedition (WISSEMU) yang diawali dengan pendakian ke Puncak Carstensz Pyramid, puncak tertinggi di kawasan Oceania sekaligus puncak tertinggi di Indonesia pada 13 Agustus 2014. Selama tiga tahun, tim Wissemu berhasil menaklukkan gunung tertinggi di setiap benua, hingga mencapai klimaks dengan kibaran bendera Merah Putih dan gema angklung di Puncak Everest, Pegunungan Himalaya, pada 17 Mei 2018.

Pantang menyerah

Mendaki atap dunia bukanlah perkara mudah. Bagi Fransiska Dimitri (DeeDee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda), setiap puncak gunung memiliki tantangannya sendiri. Mulai dari suhu dingin yang menusuk, cuaca yang tidak menentu dan karakteristik medan pendakian yang beragam mewarnai pendakian Tim WISSEMU di tujuh gunung tertinggi dunia. Tantangan-tantangan ini malah menambah keseruan dan menjadi pengalaman tersendiri. Dengan keyakinan yang teguh, tim pendaki dan tim pendukung WISSEMU mampu menaklukkan tantangan yang ditemui dalam ekspedisi.

Ekspedisi WISSEMU menghasilkan cerita tersendiri dari para pendaki. Perbedaan iklim di ketinggian membuat para pendaki harus beradaptasi secara perlahan. Proses pendakian maupun kembali dari puncak juga dipersulit dengan beban yang harus dibawa, dengan atau tanpa bantuan porter. Tim WISSEMU tidak sendirian dalam menapaki atap dunia. Pertemuan dengan para pendaki dari seluruh dunia menjadi penyemangat bagi mereka untuk menaklukkan puncak. Hal-hal inilah yang semakin menambah keseruan dan menjadi pengalaman tersendiri. Tidak salah bila WISSEMU berencana membagikan kisah mereka kepada khalayak ramai dalam bentuk buku ekspedisi tujuh puncak dunia.

Jauh dari bumi pertiwi dalam ekspedisi yang berbahaya sesekali mengundang kecemasan dan ketakutan, baik dalam anggota tim WISSEMU, maupun berbagai pihak yang mendukung kelancaran ekspedisi tersebut. Namun, hal tersebut tidak lantas memutus asa dan mengurungkan niat WISSEMU. Mereka berhasil mempertahankan semangat membara untuk mencapai puncak dan pulang membawa nama harum bagi bangsa.

Dukungan dari Universitas

Keberhasilan WISSEMU menaklukkan tujuh puncak dunia terwujud dengan dukungan dari berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar lingkungan Unpar. Ekspedisi ini juga didukung secara penuh oleh pihak universitas, yang secara berkesinambungan mendampingi Tim WISSEMU dan Mahitala Unpar untuk mewujudkan mimpi besar mereka dan mengharumkan nama perempuan Indonesia di puncak dunia. Dengan diraihnya prestasi yang membanggakan, Unpar memberikan apresiasi dalam bentuk beasiswa pascasarjana bagi tim pendaki maupun tim pendukung WISSEMU.

Unpar sebagai wadah berkembangnya generasi muda memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri sesuai minat dan bakatnya. Mahitala Unpar menjadi satu dari banyak jalur yang tersedia bagi mahasiswa dalam menjadi insan yang humanum. Ada banyak unit kegiatan mahasiswa, komunitas keilmuan dan minat, serta organisasi kemahasiswaan yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, tidak hanya untuk belajar dan bergaul, namun juga untuk meraih prestasi yang membanggakan bagi bangsa Indonesia.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 10 Juli 2018)