Home / Opini / Saudari dan Saudara

Saudari dan Saudara

Tulisan‐tulisan Jacques Derrida, yang banyak mengacu pada Martin Heidegger, pernah dikatakan gender‐less. Mungkin karena Derrida menulis dalam bahasa yang tidak merupakan asal dari istilah jender, selain daripada genre. Akan tetapi, benar, bahasa seperti berkembang sendiri dan pada titik‐titik tertentu mempengaruhi pemakainya hingga mengadopsi kerangka‐pikir dan kerangka‐pandang yang bias. Bahasa tutur kita pun seringkali bias, dan bahkan diskriminatif, tetapi tetap saja kita tidak menyadarinya. Padahal, pengaruhnya sudah sampai ke mana‐mana.

Mungkinkah sebuah pola pikir nonjender? Mengapa tidak? Manusia mestinya dipandang lebih utuh dengan kedua sisi seksualnya, sebab pembedaan seksual tidak relevan untuk diterapkan dalam banyak bidang. Beberapa sosiolog menunjukkan adanya pengaruh pandangan masyarakat atas pekerjaan‐pekerjaan tertentu yang cenderung diasosiasikan dengan perempuan atau laki‐laki. Meskipun begitu, pembedaan seksual tetap tidak relevan. Manusia adalah manusia. Ketika berbicara tentang martabat, keutuhan diri manusia jauh lebih fundamental. Pendidikan pada dasarnya adalah untuk menyingkapkan kepenuhan martabat kita sebagai manusia.

 

Pembelajaran Rekognitif

Semakin pandai seseorang, yang masih diperlukannya barangkali ialah pengenalan dan pengakuan atas berbagai sisi dalam dirinya. Pengakuan ini bukan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri. Mengenali dan mengakui sisi serta karakter tertentu dalam diri tidak selalu mudah, apalagi bagi mereka yang, sekali lagi, sudah semakin pandai. Mungkin kalimat ini akan lebih dimengerti bila yang dimaksud ‘sisi’ itu adalah yang kurang dikehendaki. Kita cenderung membentuk citra‐diri, artinya, membangun gambaran yang kita kehendaki. Tanpa sadar, kita mengikis karakter‐karakter yang tidak kita kehendaki, padahal itu pun adalah bagian dari diri kita. Rasionalitas kita, kaum berpendidikan, ternyata bisa mengurangi keutuhan diri.

Bisakah membayangkan proses pembelajaran yang dibimbing oleh para pendidik yang ternyata ‘kurang’ utuh? Mungkin proses yang terjadi pun sebenarnya tak pernah menyeluruh. Selalu ada hal‐hal yang meleset, tidak dibahas, tidak dicari jalan keluarnya, dan tidak menginspirasi siapapun. Kita bisa meneruskan ekses domino gara‐gara ketidakutuhan yang dibiarkan dan seakan‐akan dimaklumi ini. Dalam dunia pendidikan ketidakutuhan sudah menjadi mentalitas, atau spiritualitas, yang korup.

Dari bahasa, kini kita menuju pada mentalitas yang sangat internal, sebelum semua yang kita pikirkan dituturkan keluar. Pembelajaran adalah sebuah proses internal, di dalam diri kita masing‐masing, sangat tersembunyi dan personal. Pertumbuhan diri kita pun dalam kerangka ini hanya kita saksikan sendiri. Kita tahu bahwa kita bertumbuh, atau tidak bertumbuh. Kita tahu bahwa kita belajar, atau tidak belajar. Kita tahu bahwa dalam kesadaran yang paling dalam sebagai manusia, kita tidak membedakan karakter diri secara seksual, sebab kita sekaligus adalah perempuan dan laki‐laki. Pembedaan itu, sekali lagi, muncul ketika kita memandang “yang lain” dan berkomunikasi dengan‐nya (yang dalam Bahasa Indonesia tidak dibedakan jendernya). Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa pembelajaran yang sangat internal dan personal dalam diri kita pertama‐tama adalah sebuah pengenalan atau pengakuan.

Aku mengenali dan mengakui baik karakter feminin maupun maskulin dalam diriku, sebab kalau tidak, aku hanya akan berakhir sebagai pribadi yang tidak utuh. Kalau Tuhan menciptakan manusia sesuai gambaran‐Nya, bukankah itu berarti mengacu pada keutuhan gambaran diri Tuhan sendiri? Lewat kesadaran spiritual, kita bertumbuh dan mempelajari siapa diriku ini sebagai manusia di hadapan Tuhan. Dengan kata lain, pembelajaran awal dan internal kita ialah perkara mengenali seluruh karakter yang ada dalam diri serta mengakuinya sebagai pembentuk martabat yang utuh.

Lebih dari soal bahasa, proses pembelajaran adalah gerakan internal mengenali dan mengakui. Setiap perjalanan yang dimulai baik oleh pendidik maupun terdidik harus dimulai dengan dua intensi tersebut bila hendak mengarah pada kepenuhan kemanusiaan. Kesadaran untuk bertumbuh ini akan membutuhkan lebih dari kecerdasan atau rasionalitas.

 

Spiritualitas Inklusif Persaudaraan

Salah satu metafor kuat spirit adalah ‘api’. Seseorang yang tak bersemangat dikatakan kehilangan api dalam dirinya, sebab spirit adalah yang menggerakkan seluruh diri. Ketika merasa hidup dan ingin berbuat sesuatu, kita disebut ‘berapi‐api’. Dan itu bisa terlihat baik pada ekspresi kita maupun terdengar dari suara kita. Akan tetapi, spirit pun bisa agresif dan memecah belah apabila didominasi kepentingan pribadi. Supaya jangan merusak “yang lain”, spirit harus diarahkan pada komunalitas, persaudaraan, dan keutuhan lebih banyak umat manusia.

Mengenali dan mengakui sisi‐sisi diri demi keutuhan martabat sebagai manusia bersifat nonjender, dan  demikian pula kerangka lebih luas persaudaraan sebuah komunitas. Sayangnya, kata ‘persaudaraan’ tampaknya semakin kurang dipahami secara real. Ia tinggal sebagai gagasan yang dituturkan lewat retorika, namun tidak bergema ke dalam maupun mempengaruhi ke luar. Persaudaraan cenderung diajarkan sebagai gagasan daripada dilakukan sebagai sebentuk kesaksian.

Terhadap kritik atas ketidaksetaraan jender dalam bahasa, tiba‐tiba muncul tanggapan yang cenderung dipaksakan untuk mengucapkan “Saudari dan Saudara”. Pengucapan dengan urutan tersebut disengaja untuk memberikan penghargaan kepada kaum perempuan lebih dahulu daripada kepada kaum laki‐laki. Sebagai sebuah tanggapan (atau latihan), ini perlu dibiasakan, tetapi sebagai gerakan transformatif, ini mungkin pantas diragukan. Pembedaan –i dan –a justru meruncingkan klasifikasi seksual, dan sekadar penempatan sapaan dengan urutan tertentu dalam tutur kata menunjukkan bahwa perubahan ini tidak serta merta berasal “dari dalam”.

Memperbaiki apa yang selama ini diskriminatif terhadap kaum perempuan tidak cukup hanya dengan membalik urutan sapaan. Kita memerlukan suatu spirit yang sifatnya ‘merangkul’, inklusif, dan meng‐utuh‐kan kembali pandangan kita masing‐masing tentang martabat manusia. Spirit ini adalah cara kita memandang “yang lain” sebagai pribadi manusia utuh.

Tantangan yang mungkin sangat berat di masyarakat dan juga di dunia pendidikan kini ialah memandang yang lain sebagai manusia utuh. Kebiasaan ‘menilai’ berdasarkan penampilan sudah demikian parah meracuni cara pandang kita sehari‐ hari. Kecurigaan, perlakuan tidak senonoh, penghinaan, diskriminasi, dan sebut saja semua sikap negatif itu mempengaruhi relasi kita dengan orang lain hanya karena memandangnya! Dalam hitungan detik pandangan dan sikap kita terhadap seseorang bisa berubah sama sekali, manakala dirinya kita lihat tidak utuh lagi. Kita membedakan, maka memecah belah.

Oleh karena itu, dunia pendidikan adalah tempat berlatih yang sangat tepat, untuk mengembalikan cara pandang yang inklusif per‐saudara‐an (tanpa pembedaan –i dan –a itu). Spirit ini memandang manusia sebagai manusia, pribadi sebagai pribadi yang utuh, seseorang sebagai individu yang bermartabat. Sebuah latihan yang konkret bisa dilakukan dengan ‘mengatur’ pandangan kita tentang siapapun yang sedang kita ajak bicara. Kita tidak mau membiarkan pandangan kita justru mempengaruhi sikap dan kata‐kata kita terhadapnya. Kita sendiri yang harus mengembalikan apapun kecenderungan negatif yang muncul kepada kesadaran bahwa sosok yang kita hadapi ini adalah manusia utuh yang bermartabat, entah dia itu perempuan atau laki‐laki.

Dengan latihan sederhana namun real itu kita bisa memulai sebuah perubahan yang tidak sekadar kosmetik atau membalik urutan sapaan. Dunia pendidikan atau komunitas apapun yang kita hidupi di masyarakat selalu dapat membarui spiritualitasnya agar makin inklusif dan mengutuhkan diri para anggotanya. Per‐saudara‐an seharusnya lebih ‘berbunyi’ dalam tutur kata, apalagi lewat berbagai kesaksian hidup yang kita hayati.

Dengan demikian, proses pembelajaran dilihat sebagai suatu praktik, bukan hanya teori. Manusia adalah manusia. Dunia pendidikan adalah salah satu sisi kehidupan kita yang membantu menyingkapkan keutuhan martabat kita sebagai manusia. Setiap pribadi yang berpikir, berbicara, dan berbuat memiliki martabat yang harus dihargai, terlepas dari penampilan mereka dan apapun pandangan (penilaian) kita. Pembedaan seksual tidak bisa dibiarkan mempengaruhi pandangan kita akan “yang lain”. Sebab, setiap orang adalah saudara.

 

Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC, Kepala Program Studi Ilmu Filsafat Universitas Katolik Parahyangan

 

Sumber : Majalah Parahyangan, Edisi 2016 Kuartal IV/ Oktober-Desember Vol. III No.4