Home / Berita Terkini / Satvra 2016 Aktualisasikan Ide Menjadi Seni
SATVRA 2016

Satvra 2016 Aktualisasikan Ide Menjadi Seni

Sabtu (16/4), Dirjen Kreasi dan Seni di bawah Kementerian Kemahasiswaan, Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyelenggarakan acara Satvra 2016 bertempat di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Dilatarbelakangi dengan kesadaran penting akan arti seni di jaman modern, festival ini menjadi sebuah wadah yang bertujuan memperkaya wawasan dalam pembuatan dan pengapresiasian seni.

Kali pertama diadakan, acara ini mengambil tema “The Glass House” yang mencoba menangkap keterbatasan seorang seniman dalam mengaktualisasikan ide dan inspirasi mereka dikarenakan adanya kaca yang menjadi batasan tak terlihat dimana hal ini membuat mereka tidak dapat mewujudkan serta mengeksekusi ide-ide tersebut ke dalam karya seni. Satvra berusaha menghadirkan wajah baru seni melalui apresiasi film, teater, fotografi, dan tulisan. Adapun konsep yang diusung berupa bioskop terbuka (open air cinema) dipadukan dengan ragam seni dan teater, dimana hal ini tidak hanya melibatkan para seniman namun juga para pengunjung di dalamnya.

Salah satu sesi yang paling ditunggu adalah pemutaran 10 film pilihan hasil kompetisi dengan tema utama “Paradox” yang dikurasi oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat Unpar serta Galih Mulya Nugraha, Owner & Managing Director Embara Films dan Penulis Epic Java. Lima film dari sineas terkemuka Indonesia melengkapi pemutaran film tersebut. Ada pula sesi talkshow bertajuk “How to Create an Artwork thru Film on a Taboo Topic” bersama Paul Agusta, Bembi Guster, Ade Paloh, dan Anggun Priambodo, juga pameran fotografi karya Andreas Welljianto Bunda, Rewinda Omar, serta Sally Ann & Emily May Gunawan. Menemani kemeriahan Satvra, ditampilkan sebuah pertunjukan yang memadukan film pendek “Trapped” hasil karya Sutradara Farah Shafia dengan penampilan teatrikal berjudul “Lakuna” karya Sutradara Kennya Rinonce yang dikolaborasikan dengan performance dari Homogenic. Tidak hanya mengangkat konsep unik yang terbilang cukup baru, Satvra menyuguhkan food truck, bazaar, pameran fotografi dan puisi serta penampilan musik spesial dari Sore dan Trou yang menambah keseruan acara.

Farahdiena Nurulfithri, Ketua Pelaksana Satvra 2016, mengaku sangat tidak menyangka akan antusiasme dan keceriaan para pengunjung walau cuaca sempat buruk. Panitia dengan sigap membagikan jas hujan agar para penonton tetap bisa menikmati acara dengan nyaman. Dalam wawancara singkat dengan Farahdiena, ia mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya acara tersebut. Terlebih ia berharap Satvra dapat menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para pengunjung serta platform bagi para seniman baik di bidang film, photography, puisi, karya tulis, teater, dan musik untuk bisa menyalurkan ide-ide kreatif yang terpendam.

“Aku juga sangat berharap semoga tujuan utama Satvra yakni, memperkaya wawasan dalam pembuatan dan pengapresiasian seni dapat tercapai dalam satu hari kemarin dan bisa diteruskan lagi tahun-tahun selanjutnya untuk membangun kemampuan generasi muda dalam berkreasi melalui platform atau tempat yang nyata”, tutur Farahdiena lebih lanjut.