Home / Berita Terkini / Resolusi Unpar dalam Vikrama 2018
vikrama

Resolusi Unpar dalam Vikrama 2018

Sebagai kaum muda, mahasiswa diharapkan untuk dapat memberikan perubahan lewat kepeduliannya terhadap fenomena di sekitarnya. Fenomena yang kini tengah hangat dan menjadi perhatian adalah maraknya aksi pelecehan seksual di masyarakat. Perbuatan yang amoral ini acapkali menyisakan luka sosial, khususnya bagi para korban yang tidak mendapat perlindungan yang baik, bahkan cenderung ikut disalahkan dan dipermalukan.vikrama

Vikrama 2018 menjadi wujud Resolusi Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (LKM Unpar) yang menyoroti pelecehan seksual khususnya di masyarakat Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat bertepatan pada Hari Kartini, 21 April 2018 ini diisi dengan kegiatan menarik yang dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat. Representasi kalangan meliputi ibu-ibu anggota kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Kota Bandung, aktivis dan perwakilan pemuda, serta mahasiswa khususnya dari Unpar.

“Kita memberikan solusi dari kita sebagai mahasiswa terhadap fenomena yang sedang hangat ataupun yang selama ini ada namun belum selesai,” ujar Laurensius Dextraldi ketua pelaksana dalam kegiatan tersebut. Nama Vikrama sendiri, lanjutnya, merupakan bentuk dorongan bagi seluruh elemen masyarakat untuk berani melawan berbagai bentuk pelecehan seksual.

Mandiri melindungi diri

Adapun sesi pertama kegiatan Vikrama diisi oleh pembahasan mengenai perlindungan diri dari pelecehan seksual yang dibawakan oleh berbagai narasumber. Self-defense class ini dibagi ke dalam tiga bagian. Aldi menjelaskan bahwa di bagian pertama, peserta diajak untuk membuat peralatan membela diri sederhana dari bahan dan peralatan yang ada di sekitar kita. “Kalau sesi kedua itu tentang bagaimana maintaining kondisi psikologis dari korban pelecehan seksual,” tuturnya. Ditambahkan pula kiat-kiat untuk melakukan tindakan hukum terkait aksi pelecehan seksual tersebut. Sesi pertama Vikrama diakhiri dengan latihan membela diri melawan aksi kejahatan, khususnya dari pelaku pelecehan seksual.

Sesi tersebut dibawakan oleh beberapa narasumber, yaitu Narda Virelia (Finalis Miss Indonesia 2018 dari Sumatera Barat), Anita Dhewy (Pimpinan Redaksi Jurnal Perempuan), dan perwakilan dari Women Self Defense of Kopo Ryu (WSDK) Indonesia.

Fenomena dalam film dan diskusi

Sesi kedua diawali dengan penayangan film pendek bertajuk ‘Memoria’. Film garapan Kamila Andini ini mengungkap perasaan trauma tak terungkap yang ada dalam diri penyintas kekerasan seksual selama Konflik Timor Timur. Meski tidak bercerita dalam kerangka keseharian perempuan Indonesia, nyatanya inti dari cerita tersebut sangat kental dengan kondisi perempuan masa kini di Indonesia: Apakah arti kemerdekaan bagi seorang perempuan itu. Film ini dinikmati dan juga diresapi maknanya oleh hadirin.

Film ini mengantar hadirin menuju ke mata acara terakhir, yaitu kegiatan diskusi mengenai pelecehan seksual. Diskusi ini mengundang Kania Mamonto, aktivis perempuan yang juga alumnus Unpar, untuk membagikan pemikirannya. Salah satunya adalah melihat pelecehan seksual bukan hanya dari sisi kekerasan fisik, seperti pemerkosaan saja, namun juga termasuk pelecehan secara verbal dan psikologis. Korbannya pun tidak selalu perempuan muda, namun mungkin datang dari kalangan lain, seperti anak-anak dan laki-laki.

Bagi panitia Resolusi, mencegah pelecehan seksual sama dengan mengubah persepsi masyarakat mengenai pelecehan seksual. “Ini masalah persepsi dan paradigma.” ujar Aldi. Menjadi tugas dari mahasiswa untuk membangun kesadaran kepada masyarakat untuk merangkul para korban pelecehan seksual, tanpa adanya victim-blaming yang kini kerapkali terjadi. “Makin mereka merasa aman untuk melapor, makin banyak kasus yang bisa terusut,” jelasnya. Lewat Vikrama, diharapkan tercipta lingkungan dan masyarakat yang aman bagi para penyintas dan bebas dari aksi pelecehan seksual.