Home / Alumni / Ramadhan at The Museum: Ketika Diplomasi Bukan Hanya Oleh Manusia

Ramadhan at The Museum: Ketika Diplomasi Bukan Hanya Oleh Manusia

“Ngabuburit” adalah ungkapan di Indonesia sebagai kegiatan yang dilakukan menjelang waktu berbuka. Untuk menyediakan pilihan acara ngabuburit yang positif dan edukatif, pihak Manajemen Museum Konperensi Asia Afrika mengadakan acara diskusi Ramadhan at The Museum  setiap tahunnya yang mengusung format diskusi ilmiah.

Memegang peranan sebagai fungsi pendidik dan pengabdi masyarakat, sejumlah dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (HI Unpar) diundang untuk menjadi pembicara dalam kegiatan yang diadakan pada Kamis (30/5), di Gedung Merdeka, Bandung. Pembicara dari Unpar, yaitu Dr. Sukawarsini Djelantik, Sapta Dwikardana Ph.D, serta alumnus HI Unpar yang kini menjabat sebagai Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri, Listiana Operananta. “Senang sekali ketemu lagi dengan Mas Mangadar (Rektor Unpar) yang dulu menjadi wali saya. Mas Sapta juga, beliau dahulu adalah dosen yang membimbing skripsi saya. Kalau Mba Suke memang sudah dekat sejak lama,” ungkap Listiana saat memulai sesi pemaparan.

Melalui perspektif birokrat, Listiana memaparkan tentang pentingnya generasi muda terutama generasi Milenial (lahir tahun 80an hingga 90an) dan generasi Z (90an ke atas) untuk tidak hanya mengetahui namun memahami dan memiliki passion untuk mendalami penggunaan ICT (Information Communication Technology–Teknologi Informasi dan Komunikasi atau disingkat TIK) meskipun bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat. “Saya saja harus belajar terus mengenai etika media sosial hingga mekanisme teknologi yang lebih canggih seperti IBM Watson dan aplikasi-aplikasi lain,” tuturnya.

Menurutnya, sebagai diplomat senior ia memandang penggunaan teknologi informasi dan penyebaran informasi mengenai dunia sangatlah vital bagi pekerjaan seorang diplomat. “Memang kelihatannya sepele, misalnya bikin twitter atau Facebook Kementerian, sekilas cuma kelihatan posting aja, padahal kita perlu banyak analisis seperti bagaimana kalau publik mengetahui hal ini? Seberapa cepat kita perlu posting?,” terangnya. Hal-hal tersebut, tambahnya, membutuhkan analytical skills dan decision making serta pemahaman akan efek media sosial. Panjang prosedurnya untuk menyebarkan informasi-informasi yang didapat.”

Listiana juga mengatakan bahwa di tengah pekerjaannya, ia dan Kemenlu seringkali dimintai update oleh wartawan maupun warga negara Indonesia yang menginginkan akses informasi pada kejadian tertentu dalam waktu dekat. “Kemarin misalnya di Texas, ada penembakan…Banyak wartawan langsung bertanya ke kita, bagaimana kejadiannya? Atau adakah orang Indonesia yang berada di sekitar? Hal-hal seperti itu butuh tanggapan yang cepat tapi juga tepat,” papar Listi menceritakan pengalamannya.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Dr. Sukawarsini yang menjelaskan bagaimana implementasi teknologi mengubah bentuk diplomasi yang dulunya adalah satu jalur yaitu dari pemerintah ke pemerintah lain melalui diplomat dan kedutaan, namun sekarang mengalami evolusi yang memungkinkan aktor-aktor non-negara untuk memasuki ranah diplomasi dan memengaruhi proses pengambilan kebijakan. “Banyak ahli sudah memprediksi hal ini (perkembangan teknologi) akan terjadi, dan saya sebagai generasi yang mengalami “jaman batu” hingga sekarang jaman modern sangat bersyukur karena perspektif kita makin melebar,” ungkapnya.

Mengacu pada beberapa referensi, Dr. Sukawarsini berpendapat bahwa dengan terbukanya kemungkinan diplomasi multi jalur dan multi aktor, bahkan kita sebagai warga negara yang tidak berhubungan langsung dengan pemerintah dapat melakukan hubungan internasional. “Lihat aja di PBB misalnya, mereka justru banyak memakai selebriti atau individu berpengaruh untuk menjadi goodwill ambassador dalam melakukan diplomasi publik dan menyebarkan paham ataupun pengenalan program yang dilaksanakan oleh PBB,” paparnya.

Sesi materi selanjutnya dibawakan oleh Sapta Dwikarana, Ph.D yang mempresentasikan hasil penelitiannya mengenai “Transformasi di Era Diplomasi Digital: Identifikasi Postur Diplomasi Digital di Indonesia”. Awalnya ia tidak menemukan apapun tentang hal-hal berkaitan dengan “digital” di dalam Rencana Strategis maupun bagan-bagan yang dipublikasikan Kemenlu. “Nah, saya tidak menemukan apa-apa ini, ..ini kan tidak ada digital-digitalnya. Berarti apakah tidak ada komitmen untuk diplomasi digital? …Ternyata saya salah!,” ungkapnya.

Sapta kemudian mengidentifikasi sebuah bagian di dalam IKU yang memperlihatkan strategi Kemenlu dalam Diplomasi Digital. Menurutnya, dalam memajukan diplomasi digital, perlu kemauan politis yang kuat dari para birokrat baik dari segi anggaran maupun strategi, sebuah hal yang juga disetujui oleh Listiana.

Acara dilanjutkan dengan diskusi bersama. Sejumlah mahasiswa HI mendapatkan buku karya Dr. Sukawarsini Djelantik yang berjudul “Komunikasi Internasional dalam Era Informasi dan Perubahan Sosial di Indonesia”, setelah berpartisipasi secara aktif dalam sesi tanya jawab. Acara ditutup ketika adzan berkumandang. Para peserta menikmati takjil serta makanan berbuka puasa.