Home / Berita Terkini / Pusat Studi Pancasila UNPAR Adakan Bincang Pancasila di Tengah COVID-19

Pusat Studi Pancasila UNPAR Adakan Bincang Pancasila di Tengah COVID-19

Pada Rabu (3/6/2020), Pusat Studi Pancasila UNPAR mengadakan Webinar bertajuk “Bincang Pancasila di Tengah COVID-19”. Webinar difasilitasi oleh para dosen Filsafat UNPAR yaitu Adelia Tanara sebagai moderator, Andreas Doweng Bolo dan Edy Syah Putra Sihombing sebagai pembicara. 

Kegiatan ini diadakan dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 dan mengundang berbagai kalangan baik akademik di Jawa Barat khususnya Bandung maupun profesional seperti Kelompok Komunikasi Departemen Luar Negeri RI, Departemen Pertahanan dan Keamanan dari Medan Merdeka Barat, dan Badan Eksekutif dari perusahaan-perusahaan multinasional. Forum ini bertujuan bukan hanya untuk memuaskan hasrat intelektual, namun juga untuk menjadi ajang menggagas kehidupan politik di Indonesia. Sebagai pembukaan dilakukan dengan pembacaan Pancasila oleh para peserta.

Mangadar Situmorang, Ph.D. selaku rektor memberikan kata sambutan sebagai pengantar Webinar. Beliau\ mengungkapkan, sejak berdiri UNPAR sangat berkomitmen dengan dasar bernegara dalam Pancasila sehingga hal tersebut harus terus dipelihara dan dikembangkan. Mangadar berharap forum ini akan menegaskan kembali komitmen ideologis kita sebagai warga negara dan dapat mengajak melihat strategi atau aspek lain yang bisa ditempuh dalam langkah meneguhkan komitmen dan acuan ideologis kita sebagai WNI di tengah kondisi pandemi ini. 

Pancasila vs Kapitalisme, Komunisme, Fundamentalisme Agama, Separatisme, “Wabahisme”

Andreas Doweng Bolo mengungkapkan bahwa ideologi Pancasila dapat dilihat dari dua perspektif. Perspektif moral yang ada di sila 1 dan 2 menjelaskan orientasi hidup pada Yang Ilahi mengatasi segalanya dan itu ditunjukkan dengan penghargaan pada martabat manusia. Perspektif politik yang ada di sila 3, 4, dan 5 menjelaskan martabat itu ditemukan dalam relasi kita sebagai anak bangsa,  relasi ini bisa dibangun bila ada ruang terbuka untuk berkomunikasi dan hanya dengan keadilan sosial hal itu bisa tercipta. Kedua perspektif ini menjadi ruang dialetika terus menerus. Pancasila harus hidup dalam ruang dialetika ini karena Pancasila adalah Ideologi Terbuka.

Andreas mengutarakan pendapatnya bahwa Indonesia harus memanfaatkan setiap potensi yang ada. Desentralisasi menjadi pilihan penting di tengah pandemi ini, bukan hanya sekedar basa-basi politik ekonomi tetapi harus menjadi tindakan nyata secara bertahap dan terukur. Social/ Physical Distancing bukan menjauhkan kita tetapi semakin membangun solidaritas betapa kita saling melindungi dan bermartabat sebagai manusia.

Pancasila dan Nasionalisme Kita : Spirit Bersama Menghadapi Dampak Virus COVID-19

Ada berbagai kondisi di tengah pandemi ini yang berpotensi menimbulkan potensi konflik sosial. Kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian akan mengarahkan manusia ke sikap yang selfish, apatis, dan anarkis. Hal itulah yang diutarakan sebagai pembuka oleh Edy Syah Putra Sihombing. Negara turut hadir di tengah masyarakat yang terdampak melalui berbagai kebijakan dan bantuan. Namun hal tersebut tidaklah cukup. Konflik sosial tetap dapat muncul ketika ketakutan masyarakat terhadap kebutuhan dasar meluas dan semakin sulit terpenuhi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya di suatu desa, 91,7% responden mengungkapkan bahwa muncul potensi konflik di tengah masyarakat saat pembagian bantuan. Di sinilah sebenarnya Pancasila dapat berperan sebagai Ideologi Antisipatif. Konflik relasi religiusitas dapat diantisipasi dengan sila pertama Pancasila (Ketuhanan yang Maha Esa), masalah Dekadensi Kemanusaiaan dengan sila kedua Pancasila (Kemanusiaan yang adil dan beradab), perpecahan dan relasi etnokultural dengan sila ketiga Pancasila (Persatuan Indonesia), demokrasi dan relasi perbedaan golongan politik dengan sila keempat Pancasila (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan), ketidakadilan dan relasi ekonomi dengan sila kelima Pancasila (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).COVID-19 membuat tatanan sosial menjadi berubah. Maka dari itu kesadaran baru akan cara hidup, cara berinteraksi, berelasi, dan juga cara berpikir menjadi penting. Situasi ini memaksa kita untuk berpikir tentang grand design peradaban dan arah hidup baru serta menciptakan tatanan realitas baru dengan spirit ideologis Pancasila. Modal besar kita adalah Pancasila sebagai spirit bersama. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)