Home / Berita Terkini / PSM Unpar Dalam Konser Parahyangan Heritage 3

PSM Unpar Dalam Konser Parahyangan Heritage 3

Music Director PSM Unpar Ivan Yohan sebagai konduktor pada Konser Parahyangan Heritage 3 di Bandung, Minggu (18/8)

Setelah sukses diselenggarakan pada tahun 2015 dan 2017, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (PSM Unpar) kembali menghadirkan konser Parahyangan Heritage 3. Rangkaian konser yang akan diselenggarakan di tiga kota besar di Indonesia ini dibuka dengan Konser Bandung pada Minggu (18/8), bertempat di Aula Sekolah Pascasarjana, Kampus Merdeka Unpar. Selain Bandung, rangkaian konser juga diselenggarakan di Medan sebagai bagian dari Ken Steven International Choir Festival, serta di Jakarta pada akhir Agustus 2019.

Konser Parahyangan Heritage ketiga kembali dipimpin oleh Music Director PSM Unpar Ivan Yohan, membawakan berbagai lagu paduan suara kontemporer gubahan komposer dalam dan luar negeri. Sesi pertama diisi dengan berbagai komposisi gubahan kontemporer internasional, khususnya dari Perancis, Portugal, dan Latvia. Menarik untuk disimak bahwa “Te Beso el la Ciudad,” lagu gubahan Gonçalo Lorenço untuk pertama kalinya diperdengarkan (World Premiere) pada konser ini.

Karya Mahasiswa dan Alumni

Pembawaan yang ceria melengkapi penampilan lagu rakyat ” Tokécang” gubahan Ezra Permana Trisna

Pada sesi kedua konser, PSM Unpar membawakan World Premiere dari berbagai komposisi paduan suara karya mahasiswa dan alumni Unpar. Karya tersebut termasuk lagu terkini Ivan Yohan, “Setelah Sebuah Mimpi”, serta dua lagu dari komponis Ken Steven, yakni “Mari Puji Tuhan” dan gubahan lagu daerah Sumatera Utara, “O Tano Batak.”

Selain itu, empat lagu karya alumni dan mahasiswa anggota PSM Unpar dengan tema “Puisi William Shakespeare” turut ditampilkan. Lagu-lagu tersebut ialah “Devouring Time, Blunt Thou The Lion’s Paws” (Erick Otto Taryana), “Sonnet XVI” (Edward Yunkian), “Remembrance of Things Past” (Lucia Jesy Dewinda), serta “As Fast as Thou Shalt Wane” (Ezra Permana Trisna).

Penampilan karya-karya tersebut tidak lepas dari visi PSM Unpar untuk menghasilkan generasi muda composer in residence dalam UKM ini. Karya gubahan para komponis muda juga memperkaya perbendaharaan komposisi paduan suara kontemporer baik di Indonesia maupun di dunia.

Tidak Hanya Vokal

Resonansi yang disebabkan dari sentuhan pada bibir gelas kaca menghasilkan efek mengesankan dalam lagu “Northern Lights” karya Erikš Ešenvalds – Latvia

Jauh dari bayangan sebagian besar orang, paduan suara tidak hanya soal permainan vokal. PSM Unpar mampu membawakan lagu-lagu pilihan dengan berbagai sentuhan menarik. Pada lagu “Northern Lights” karya Erikš Ešenvalds dari Latvia misalnya, chorister memberikan efek resonansi yang dihasilkan dari sentuhan pada gelas-gelas kaca berisi air. Dengan sedikit penghayatan, hadirin seakan diajak ‘terbang’ di suatu ruang angkasa yang tidak berbatas.

Pada lagu-lagu lain yang lebih riang, gerak dan tari menghiasi penampilan PSM Unpar. Lagu khas Priangan, “Tokécang”, yang diaransemen oleh Ezra Permana, dibawakan sedemikian rupa sehingga seakan-akan para chorister menjadi anak desa penuh canda dalam permainan kanak-kanak. Konser diakhiri dengan lagu “Meraih Bintang,” dipopulerkan oleh Via Vallen dan digubah oleh Ken Steven.

PSM Unpar tidak hanya menunjukkan diri mampu menghasilkan chorister dan konduktor bertaraf internasional, namun juga menciptakan generasi baru komponis paduan suara Indonesia. Karya-karya mereka yang bisa jadi dipentaskan, juga dinikmati, di seluruh dunia akan menjadi satu lagi prestasi dan prestise bagi Unpar, juga bagi Bangsa Indonesia. (DAN)