Home / Berita Terkini / Provokator Para Pebisnis Muda
Provokator Para Pebisnis Muda
Sumber: Bisnis Indonesia

Provokator Para Pebisnis Muda

JAKARTA – Berkembangnya bisnis rintisan atau startup, yang mayoritas dikelola oleh mahasiswa, menjadi daya tarik tersendiri bagi Wisnu Wardhono, sosok yang sejak 1984 mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).

Tangan dinginnya telah melahirkan mahasiswa yang berprofesi sebagai pengusaha. Keahliannya ini mengantarkan Wisnu—yang memiliki spesialisasi di bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM)—diberikan kepercayaan lebih sebagai business coach melalui Centre of Excellence in Small Medium Enterprises Development (CoE SME).

“Beruntung saya diizinkan Unpar melayani perusahaan sebagai konsultan bisnis untuk menjalani pengabdian masyarakat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang konsultasi sejak 1991,” ujar Wisnu baru-baru ini.

Selama ini, CoE SME sebagai bagian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unpar menjalin kerja sama dengan Maastricht School of Management Belanda mengadakan pelatihan yang ditujukan kepada pelaku UKM agarlebih berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pria kelahiran Surakarta, 11 Oktober 1958 ini mengaku tanggung jawab sebagai business coach sangat besar. Tanggung jawab moral dalam mendampingi perusahaan menjadi penting, dan tidak selalu hasilnya berujung pada materi.

“Di angkatan saya sekitar 20 hingga 30 tahun yang lalu, orang lulus ingin kerja. Namun, anak sekarang tidak. Mereka lebih punya niatan menjadi pelaku bisnis. Kalangan mahasiswa ini luar biasa,” ujarnya.

Dia mengungkapkan perusahaan yang didampingi selama ini terbagi atas tiga kategori yakni perusahaan rintisan atau startup, business survivor, dan business growth.

Wisnu mengatakan untuk terus maju, manajemen perusahaan harus memenuhi empat prinsip yakni memiliki ide brilian dan original, motivasi tidak hanya mencari uang, kemampuan, dan sumber daya berupa modal dan jejaring.

Masalah yang sering terjadi dari perusahaan yang dikelola oleh anak-anak muda adalah motivasi rendah, dan kurang ilmu. “Banyak yang berbisnis hanya karena latah. Padahal perlu ada ability atau kemampuan melihat prospek bisnis dan kemampuan menjalankan bisnisnya,” ujarnya.

Ke depan, Wisnu mengharapkan CoE SME yang melibatkan lintas ilmu di Unpar ini jauh lebih maju, dengan tidak hanya melayani perusahaan maju tetapi juga membimbing UKM.

“Semua ini sesuai dengan prinsip etis dari nilai dasar Unpar yaitu prefential option for the poor. Tidak hanya perusahaan maju tetapi pada yang kecil. Saya ingin jadi provokator bagi para pebisnis ini,” ujarnya.

Ibarat anak kecil yang sedang berjalan, sebagai mentor Wisnu akan melepaskan sang anak agar berani berjalan, meskipun tetap mengawasinya. Dimulainya tahun akademik baru di kampus menjadi tantangan bagi Wisnu untuk menanamkan semangat wirausaha atau entrepreneurship  pada para mahasiswa baru. “Pelajaran  entrepreneurship tidak boleh parsial,” ujarnya.

Wisnu menjelaskan menanamkan semangat wirausaha tersebut dimulai dengan kemampuan membuat relasi, pengajaran agar mandiri. Dimana jika sudah independen dan mandiri bisa bekerja sama.

Menurutnya, Unpar juga terlibat dalam program Social Enterprise for Economic Development (SEED), dimana sekitar Juli lalu, program internasional SEED ini dilakukan di Rawabogo Ciwidey, tujuannya memetakan potensi di daerah Rawabogo agar dapat dijadikan sebagai desa wisata.

Dari sisi penelitian, Wisnu dan tim melakukan penelitian di bidang e-commerce  khususnya bagaimana memanfaatkan media sosial untukpemasaran.

“Kami berusaha membuat penelitian, yang relevan dengan UMKM dan harapannya dapat diterapkan oleh UMKM,” ujar pria yang terampilmemainkan gitar danpiano ini. (k5)

 

Sumber: Bisnis Indonesia (Sabtu, 20 Agustus 2016)