Home / Berita Terkini / Profesor Triweko: Belajar di Sebelah “Pabrik Roti”

Profesor Triweko: Belajar di Sebelah “Pabrik Roti”

Mungkin banyak yang tidak menyangka bahwa di satu masa, kampus Universitas Katolik Parahyangan pernah berdiri berdampingan dengan pabrik roti di pusat Kota Bandung. Setidaknya hal ini dirasakan oleh mahasiswa teknik, yang pada masa itu belum memiliki gedung tersendiri dikarenakan keterbatasan prasarana akademik yang dimiliki Unpar. Unpar saat itu baru memiliki gedung kuliah di Jalan Merdeka (kini Sekolah Pascasarjana Unpar) serta gedung perpustakaan di Jalan Aceh (kini Kampus D3 Manajemen Perusahaan, Fakultas Ekonomi Unpar).

Itulah salah satu kenangan dari Prof. Robertus Wahyudi Triweko, Ph.D., Guru Besar di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik (FT) Unpar. Alumnus Unpar yang juga pernah menjabat sebagai Rektor Unpar pada periode 2010-2015 ini pernah mengalami perkuliahan di salah satu bangunan di Jalan Raya Barat (Jalan Jendral Sudirman – red.), yang mana setiap hari ruang kuliah diselimuti oleh harum aroma roti.

Menunggang zaman

Ada banyak pengalaman yang diperoleh olehnya saat masih berstatus sebagai mahasiswa, lebih dari 40 tahun yang lalu. Bersama kawan-kawannya, ia sempat menumpang di rumah Profesor Arief Sidharta (alm.), sebelum pindah ke Asrama Solsana, yang saat ini menjadi bagian dari kampus Unpar di Ciumbuleuit. “Kalau kuliah dulu mesti pakai oplet (angkot).” ujarnya. Tetapi, ia rajin menaiki sepeda kesayangan yang ia bawa dari Solo pada akhir minggu. Karena jalan menuju asrama yang menanjak, ia tidak menaiki sepedanya saat kembali pulang. “Lebih banyak dituntun daripada dinaikin,” katanya sembari bergurau.

Perubahan teknologi dan sosial mewarnai perkuliahan masa itu. “Zaman saya itu, kita baru mengenal kalkulator,” ungkapnya memberi contoh. Itupun bukan kalkulator canggih yang kini dimiliki oleh mahasiswa teknik. Sebelumnya, mahasiswa hanya memiliki mistar geser (slide ruler) sebagai alat bantu hitung. Selain itu, peralihan memasuki Orde Baru, menghasilkan situasi sosial yang berbeda dari masa kini. “Semua orang nurut, semuanya tertib,” tuturnya. Kebebasan yang ada saat ini diakuinya memberi perubahan bagi pola pikir dan perilaku.

Pak Triweko sendiri menyinggung adanya perubahan sikap mahasiswa beda generasi. Salah satunya adalah daya juang yang berbeda. Ia mencontohkan keberadaan asistensi sebagai salah satu komponen perkuliahan. Dikarenakan banyaknya asisten yang berkualitas dan menjadi praktisi, maka seringkali asistensi mahasiswa tidak dilakukan di kampus, namun juga di kantor, rumah, bahkan hingga ke luar kota. “Kadang saya bergurau, kampus Unpar ya seluruh kota Bandung ini,” kenangnya.

Kepedulian dalam Karya

Semenjak lulus, Pak Triweko sudah aktif berkarya bagi Unpar. Ia mengawali karier sebagai kader dosen, hingga terlibat sebagai fungsionaris urusan kemahasiswaan, wakil dekan, ketua program studi, pembantu rektor bidang administrasi dan keuangan, bidang kerja sama, dekan Fakultas Teknik, hingga menjadi Rektor Unpar.  “Sebetulnya, yang ada di dalam diri saya adalah kesiapsediaan,” jelasnya, mengenai yang menilai adalah orang lain, bukan dirinya sendiri. Baginya, menjadi bagian dari Unpar adalah sebuah panggilan tersendiri.

Melepas jabatan rektor, bukan berarti kesibukan Pak Triweko berkurang. Kini ia sedang bekerja sama dengan pemerintah dalam penyusunan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan sumber daya air, juga sebagai kawan diskusi bagi rekan-rekan di Pusat Litbang Sumber Daya Air (PUSAIR) dan Dewan Sumber Daya Air. “Semua menyangkut masalah air, sesuai dengan bidang keahlian saya.” ujarnya. Di sisi lain, ia aktif menjabat sebagai koordinator program dalam APTIK Peduli Mentawai, sebagai salah satu bentuk kepedulian dari berbagai universitas Katolik di Indonesia dalam memajukan seluruh bangsa.

Tumbuh dan berkembang

Tantangan yang dihadapi Unpar saat ini, menurutnya adalah bagaimana menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia mengungkapkan, “Saya yakin Unpar ini tetap berada di tataran papan atas. Saya punya keyakinan itu.” Oleh karenanya, menjadi penting bagi Unpar untuk menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, selain unggul dalam proses pembelajaran dan aktivitas kemahasiswaan. Salah satunya melalui peningkatan kompetensi tenaga pengajar, sehingga mampu melakukan penelitian yang berguna bagi masyarakat. Ia sendiri mengibaratkan, “Pohon Unpar yang besar akan semakin besar ketika dia semakin berakar di tengah masyarakat.”

Sejak awal pendiriannya, Unpar berkomitmen untuk terus mengembangkan diri. Dari ‘Kampus Toko Roti’ hingga pengembangan kampus di kawasan Ciumbuleuit lewat rencana pembangunan Gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG).  Dengan diraihnya akreditasi institusi “A”, Pak Triweko mengaku optimis bahwa Unpar mampu melibatkan diri dalam pembangunan nasional dan global.

Kini, lanjutnya, generasi muda Unpar mengemban tantangan dalam membuktikan bahwa Unpar tetap berada di jajaran terdepan, bukan hanya Indonesia, namun di ranah internasional, melalui pengembangan jaringan kerja sama yang kini telah terjalin. “Kita harus saling memberikan dukungan, saling bahu membahu supaya potensi dalam diri kita ini bisa kita kembangkan secara maksimal.” pesannya.