Home / Berita Terkini / Profesi “Terseksi” Abad 21: Data Scientist

Profesi “Terseksi” Abad 21: Data Scientist

Glassdoor, salah satu website paling populer untuk pencari kerja di Amerika Serikat, setiap tahunnya menganalisis data ketenagakerjaan dan merilis 50 profesi terbaik di Amerika.

Daftar ini disusun berdasarkan kebutuhan atau demand, gaji dan kepuasan bekerja. Dan selama tiga tahun terakhir (2016, 2017, dan 2018) profesi yang menduduki peringkat pertama adalah data scientist. Perbandingan besarnya gaji yang diterima seorang Data Scientist dibandingkan pekerja bidang IT lainnya dapat dilihat pada grafik yang diberikan.

Perbandingan Median Gaji Data Scientist dan Pekerja Bidang IT Lainnya.*

Para perambah data

Walaupun saat ini mungkin bukan nama pekerjaan yang muncul di pikiran kita ketika  membayangkan pekerjaan paling popular, data scientist memegang peranan yang kian penting dalam dunia yang kian digital. Atau, lebih tepatnya, dalam dunia di mana setiap kali kita melakukan “aktivitas digital”, kita menghasilkan begitu banyak poin-poin data yang lalu menjadi “aset” bagi organisasi (perusahaan, institusi, lembaga, dll.). Dari data yang banyak tersebut, dapat digali berbagai informasi berharga.

Sebut saja Go-Jek. Setiap hari, layanan ojek online ini menghimpun data dari aktivitas jutaan driver dan penggunanya. Data itu kemudian diolah dan dianalisis untuk menemukan pola-pola yang bermanfaat. Lihat saja bagaimana aplikasi Go-Jek (biasanya) bisa dengan akurat menebak lokasi dan tujuan yang akan dipilih calon penumpang atau menampilkan rekomendasi makanan yang sesuai selera pelanggan Go-Food. Contoh lain, di Youtube, setiap kali kita klik sebuah video, di sebelah kanan akan bermunculan video-video lain yang direkomendasikan untuk kita, yang membuat kita ingin “ngeklik” juga. Rekomendasi serupa juga diberikan di toko-toko online, baik di website maupun dikirim via email, yang bisa membuat kita “tergoda” dengan produk-produk rekomendasi tersebut. Layanan “jalur tercepat” pada Google Map, yang tidak dapat kita pungkiri manfaatnya, juga hasil dari analisis data yang terkumpul dari para pengguna smart-phone yang bergerak. Hal lain lagi, data yang terkumpul dari satelit-satelit yang “bertebaran” di angkasa, dapat dianalisis dan hasilnya berupa prediksi cuaca, bencana atau perubahan penggunaan lahan di bumi. Bagi para pembeli saham, tersedia prediksi trend harga saham yang juga merupakan hasil analisis data. Di dunia kesehatan, hasil analisis data dapat berupa prediksi penyakit atau rekomendasi tentang bagaimana kita perlu menjaga kesehatan. Itu semua tadi baru “sekelumit” contoh dari manfaat analisis data. Masih sangat banyak manfaat lainnya di berbagai bidang.

Di balik setiap “tebakan” atau prediksi atau rekomendasi jitu ada segunung data dan, tentu saja, tim khusus yang pekerjaannya menganalisis data tersebut. Pendiri sekaligus CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, sempat berkomentar mengenai tingginya gaji data scientist di perusahaannya dan bahwa pemanfaatan big data oleh Go-Jek tidak akan berhenti di menebak tujuan atau pilihan makanan.

Lalu, apa sebenarnya data scientist itu? Teknisnya, profesi ini “menciptakan nilai dari data melalui analisis.” Dengan kata lain, seorang data scientist akan mencari hal-hal yang berharga—hal-hal yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, lembaga pemerintah, dll.—dari data yang—seperti dalam kasus Go-Jek di atas—dihasilkan dalam jumlah masif.

Bahkan, volume data yang dihasilkan dan harus diolah tampaknya akan terus melonjak, sehingga kebutuhan akan data scientist juga akan meningkat tajam. Untuk tahun 2020, misalnya, demand untuk profesi satu ini diprediksi naik 15%. Jadi tak heran ketika beberapa tahun yang lalu, Harvard Business Review melansir bahwa data scientist merupakan “the sexiest job of the 21st Century.”

Menjadi ilmuwan data di Indonesia

Di awal tahun 2018, ada sekitar 251 lowongan untuk data scientist tercatat di LinkedIn, plus sekitar 4.281 untuk profesi lain yang masih berkaitan dengan analisis data seperti data engineer, data analyst, dan business intelligence [7]. Tapi meski data scientist banyak dicari (oleh perusahaan e-commerce, instansi pemerintah, institusi pendidikan, dll.) dan insentif untuk profesi ini cukup tinggi (simak komentar CEO Go-Jek di atas), ketersediaan talenta ilmuwan data di Indonesia belum dapat mengimbangi demand. Setidaknya demikian pendapat Ainun Najib, Head of Business Data Platform di Grab. Seruan senada juga datang dari PT Telkom Indonesia. “Ada kebutuhan yang begitu tinggi terhadap layanan big data,” menurut EGM Telkom Divisi Digital Service Arief Musta’in, yang juga menambahkan bahwa “jumlah saintis data di Indonesia terbatas, maka perlu ada percepatan.”

Salah satu perwujudan konkret dari ide percepatan ini dilakukan oleh Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), tepatnya di Program Studi Informatika, yang pada tahun 2019 akan menggelar soft launching dari Program Data Science. Di sini, calon-calon data scientist akan belajar “menciptakan nilai dari data melalui analisis” terutama dengan membuat program atau script untuk mengumpulkan, mengekstrak, mempraolah (menyiapkan data untuk dianalisis) dan menganalisis data menggunakan:

  • Tools (software) pengumpul dan pengekstrak data, yang dapat tersebar dari berbagai sumber, juga pengolah data agar siap dianalisis dengan statistik dan/atau Machine Learning
  • Tools statistik untuk “mengksplorasi”, mempelajari, memahami maupun menganalisis data dengan pendekatan statistik
  • Machine Learning Libraries, yang memuat fungsi-fungsi pintar (intelligent) untuk membuat berbagai model dari data yang dapat dimanfaatkan untuk “menebak”/memprediksi, mengenali pola-pola, memberikan rekomendasi, mendeteksi anomali dari data, dan lain-lain.
  • Database Management Systems (DBMS), termasuk pemrograman dengan Structured Query Language (SQL) untuk menganalisis data yang dikelola DBMS
  • Tools untuk memvisualisasikan data dan hasil analisisnya agar menarik dan mudah dipahami.

Mahasiswa Program Data Science juga akan belajar untuk “menceritakan” pola, tren, dan temuan menarik lainnya baik secara lisan maupun dalam bentuk presentasi yang intuitif dan enak dilihat.

Dan tentu saja, semua itu untuk menuju profesi “terseksi” di abad 21.

(Kontributor: Dr. Veronica S. Moertini dan Kristopher D. Harjono, M.T., Program Studi Informatika, Universitas Katolik Parahyangan)

Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis, 7 Februari 2019