Home / Alumni / Praktik Diplomasi: Legasi, Transisi, dan Adaptasi

Praktik Diplomasi: Legasi, Transisi, dan Adaptasi

Praktik Diplomasi (atau yang lebih sering dikenal sebagai Prakdip) adalah salah satu mata kuliah yang bertujuan untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa dan mahasiswi Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Prodi HI Unpar) untuk mempraktikkan konsep-konsep yang telah dipelajari di kelas.

Prakdip merupakan simulasi konferensi formal yang bersifat internasional seperti forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, pertemuan anggota negara G20, re-enactment Konferensi Gerakan Non-Blok, dan lainnya.

Saat ini, Prakdip merupakan salah satu mata kuliah wajib dalam kurikulum Prodi HI Unpar. Mata kuliah ini mengajak para mahasiswa untuk mempraktikkan diplomasi yang biasanya dilakukan oleh para perwakilan negara atau non-negara.

Sejarah

Pada tahun 1985, yang juga merupakan ulang tahun ke-30 Konferensi Asia Afrika, Departemen Luar Negeri Republik Indonesia (kini Kemlu RI) meminta universitas-universitas di pulau Jawa yang memiliki Prodi HI untuk menyelenggarakan acara dalam rangka memperingati konferensi tersebut. Dari banyak universitas, Unpar tampil menggunakan konsep simulasi sidang Gerakan Non-Blok. Dengan dibantu oleh sejumlah mahasiswa Prodi HI dan Hukum, digelarlah simulasi KAA tersebut.

“Karena ketika itu baru Unpar yang menyelenggarakan acara seperti itu, orang-orang Deplu tertarik berkunjung ke kita,” ujar Dosen HI Unpar Drs PY Nur Indro MSi .

Mas Nur, demikian Nur akrab disapa, mengatakan bahwa ia bersama tim HI Unpar kembali mencoba mengadakan simulasi sidang Dewan Keamanan PBB ketika beliau menjabat sebagai Ketua Prodi HI Unpar. Dahulu, katanya, belum ada penerapan aturan-aturan protokoler yang sesuai dengan pelaksanaan sidang internasional seperti sekarang. Peserta memakai baju-baju yang sangat melambangkan negara mereka. “Ada yang dari Iran memakai jubah gamis,” kenang Mas Nur tentang sidang Prakdip pertama yang diadakan pada 1985.

Transisi dan adaptasi

Sama halnya seperti bidang studi HI, Prakdip sebagai mata kuliah terus berkembang menyesuaikan zaman. “Pelan-pelan menyesuaikan kurikulum dan kebutuhan lulusan HI di tempat kerja mereka,” ujar Dosen Prodi HI Unpar Jessica Martha. Kurikulum HI Unpar menerapkan konsep Kelompok Bidang Ilmu (KBI) yang memfokuskan mahasiswa untuk mengkaji bidang tertentu dalam HI seperti Politik dan Keamanan Internasional (KBI 1), Ekonomi Politik Internasional (KBI 2), Organisasi dan Rezim Internasional (KBI 3), serta Diplomasi, Media dan Komunikasi Internasional (KBI 4).

KBI ditujukan untuk menyesuaikan keilmuan mahasiswa serta melengkapi mereka dengan kemampuan baik teknis maupun soft-skills yang terspesifikasi pada peminatan kajian mereka yang diharapkan akan membantu mereka dalam beradaptasi dengan dunia kerja.

Prakdip beradaptasi pula dengan cara mengembangkan alur dan peserta sidang. “Kalau dulu kan cuma negara-negara aja. Nah, sekarang kita perluas kajiannya,” terang Jessica. Ia menjelaskan bahwa kini metode Prakdip tidak hanya berfokus pada aktor negara. Aktor non-negara seperti organisasi internasional, perusahaan multinasional, serta media memegang peranan yang juga penting.

Prakdip 2018: “Trade Protectionism G20 Summit”

Prakdip 2018 bertema “G20 Summit on Trade Protectionism”. Tahun ini, Prakdip berlangsung dalam bentuk lima kali sidang yang terdiri atas beberapa engagement groups yaitu Think Tank Summit, Business Summit, Labour Summit, Sherpa Summit, dan Leader Summit.

Sidang pertama hingga sidang keempat dilakukan di Veritas Room, Gedung 3 Unpar yang berlangsung selama kurang lebih dua bulan lamanya. Sedangkan untuk sidang terakhir yaitu Leader Summit diselenggarakan, pada Sabtu (28/5) di Hotel Grand Mercure Setiabudhi, Bandung. Terdapat 23 negara yang terlibat dalam rangkaian acara Prakdip 2018 ini.

Setiap delegasi terdiri atas delapan orang yang dibagi menjadi dua orang sebagai perwakilan think tank, dua orang sebagai perwakilan  business, dua orang sebagai perwakilan labour, satu orang sebagai sherpa, dan satu orang sebagai head of government.

Sidang tahun ini bertempat di Pretoria sehingga delegasi Afrika Selatan yang menjadi chairperson. Selain sidang, para delegasi juga dapat melakukan multilateral chamber dengan beberapa delegasi lainnya untuk berdiskusi dan bekerja sama serta melakukan press conference.

Selama kelima sidang ini berlangsung, ada live report melalui Twitter Prakdip 2018 mengenai setiap pernyataan oleh delegasi dan hasil keputusan selama sidang. Sidang yang diselenggarakan oleh engagement groups bertujuan untuk menghasilkan masing-masing sebuah joint communique. Sherpa kemudian akan mengadopsi beberapa poin dari masing-masing joint communiquedan menggabungkannya menjadi sebuah action plan.  leader summit, yang dilaksanakan sebagai puncak acara, kemudian menghasilkan sebuah leaders’ declaration yang berisikan komitmen dari setiap negara yang berpartisipasi.

Tahun ini, beberapa universitas lain melakukan studi banding untuk mempelajari tentang Prakdip di Unpar. Hal tersebut membuktikan bahwa HI Unpar berhasil melakukan inovasi yang unik dan berpengaruh dalam lingkup pendidikan HI di Indonesia.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 26 Juni 2018)