Potensi Insinyur Profesional dan PPI bagi Lulusan Teknik

Program Profesi Insinyur Universitas Katolik Parahyangan (PPI Unpar) bekerjasama dengan Ikatan Alumni Teknik Sipil (IATS) dan Ikatan Alumni Arsitektur (IAAU) menyelenggarakan webinar bertajuk “Dampak Serta Manfaat Insinyur dan Insinyur Profesional bagi Lulusan Teknik” pada Sabtu (30/1/2021). Kegiatan ini menghadirkan Ir. Darmawansyah Tjitradi, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng. (Ketua Bidang Registrasi dan Sertifikasi Insinyur PII wilayah Kalimantan Selatan, Dosen Pendidikan Profesi Insinyur ULM) sebagai pembicara.

Rektor UNPAR, Mangadar Situmorang, Ph.D. hadir memberikan sambutan sekaligus membuka webinar. Menurutnya webinar ini sangat substansial serta dapat  memberi  kejelasan mendapat benefit atau manfaat dari keinsinyuran. Beliau yakin bahwa seminar ini akan memberi manfaat yang sangat besar bagi para peserta yang terlibat di dalamnya. 

Pentingnya Insinyur bagi Indonesia

Darmansyah memulai paparannya dengan menjelaskan regulasi yang berlaku bagi profesi keinsinyuran. Perundang-undangan keinsinyuran yang diatur dalam UU No. 11/2014 diperlukan dengan beberapa alasan yaitu melindungi masyarakat sekaligus para insinyur, menegaskan peran insinyur dan iklim keinsinyuran untuk kepentingan profesi, masyarakat, dan negara, serta menambah jumlah insinyur yang sejajar dengan negara teknologi maju. 

Ketersediaan insinyur profesional semakin terasa dengan keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah bentuk integrasi ekonomi regional yang bertujuan untuk menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi. Indonesia termasuk salah satu negara yang berada dalam MEA dimana akan ada 8 profesi yang bersaing yaitu insinyur, dokter, tenaga pariwisata, tenaga survey, akuntan, dokter gigi, perawat, dan arsitek.

Berdasarkan data dari tahun 2015-2019, Indonesia darurat insinyur. Terbukti dari dari 750.000 lulusan teknik di seluruh Indonesia hanya 9.000 orang yang fokus dalam profesi insinyurnya. Angka ini berada di tingkat bawah dalam cakupan negara Asia Tenggara. Kemenristekdikti sudah mengupayakan hal ini dengan membuka PPI dan memberikan keleluasaan kepada PERTI untuk melaksanakan proses belajar mengajar jarak jauh atau e-learning berbasis teknologi informasi.

Menjadi Insinyur Profesional

Darmansyah menjelaskan bahwa ada 6 langkah yang wajib dilakukan untuk menjadi insinyur profesional yang teregistrasi. Pertama, menjadi Insinyur melalui Pendidikan Profesi Insinyur (PSPPI) dimana hal ini dapat dilaksanakan di UNPAR. Kedua, menjadi Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (KTA PII dan akun SIMPONI). Ketiga, mengisi dan mengajukan FAIP online. Jika memenuhi min. IPM/ IPU, calon insinyur profesional dapat mengikuti uji kompetensi. Selanjutnya memperoleh Sertifikat Insinyur Profesional baik IPP/ IPM/ IPU. Langkah terakhir adalah mengajukan STRI online melalui SIMPONI.

Kuliah PPI sendiri terdiri dari 2 jalur. Mahasiswa dapat memilih kuliah jalur reguler atau jalur RPL. Perbedaannya terletak pada jumlah semester dimana jalur reguler membutuhkan 2 semester sedangkan jalur RPL hanya 1 semester. Selain itu pada jalur RPL mahasiswa wajib mengisi FAM / FAIR yang berisi profil diri, pendidikan, kode etik dan etika profesi, pengalaman praktek keinsinyuran, publikasi, komunikasi, temuan, dan bahasa yang dikuasai.

Banyak manfaat yang didapat menjadi insinyur profesional diantaranya diakui oleh Badan Kepegawaian, masuk ke dalam ASEAN Engineering Register (AER), serta mendapatkan Sertifikasi Internasional dan Sertifikat Keahlian (SKA). Insinyur yang berpraktek dalam kegiatan keinsinyuran di Indonesia baik WNI maupun WNA harus memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI), tanpanya sanksi administratif dan pidana dapat mengancam insinyur tersebut

Paparan dan diskusi yang diberikan oleh Ir. Darmansyah Tjitradi semakin menegaskan pentingnya sertifikasi profesi insinyur bagi para profesional di bidang teknik dan rekayasa. Oleh karenanya, Unpar membuka kesempatan bagi masyarakat untuk meraih gelar insinyur melalui Program Profesi Insinyur yang didukung oleh kurikulum terbaik dan pendidik yang berkualitas. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)