Home / Berita Terkini / Pertobatan Ekologis

Pertobatan Ekologis

Penulis: Mangadar Situmorang
Rektor Universitas Katolik Parahyangan

Setiap putaran tahun umat Kristen di seluruh dunia memperingati Paskah yang merupakan hari raya terutama dalam tradisi Kristiani. Paskah diartikan sebagai kebangkitan Jesus, Isa Almasih, dari kematian. Pemaknaan inti dari peristiwa ini adalah mereka yang hidupnya benar dan suci di hadapan Tuhan dan sesama akan memperoleh kehidupan yang kekal. Itulah wujud dari kasih Tuhan kepada umat manusia, “mereka akan hidup sekalipun sudah mati”.

Tiada satu pun yang bisa mengklaim mengetahui apa yang dikehendaki Tuhan untuk manusia lakukan. Sebagian besar ukuran kebaikan dan kehendak tersebut diyakini terkandung dalam kitab-kitab suci dan dijabarkan dalam berbagai anjuran atau ajaran dan larangan oleh agama. Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa merupakan anjuran pertama yang merupakan pernyataan pengakuan dan kepercayaan akan adanya kekuasaan ilahi yang belum/tidak terjangkau oleh pikiran dan tenaga manusia.

Mencintai alam semesta

Dalam perkembangannya, muncul pemikiran dan kesadaran bahwa bakti dan kasih bukan hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga terhadap alam semesta. Ini dirumuskan dalam Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si’ (2015). Lewat ilustrasi yang sangat sederhana dinyatakan bahwa bumi dan alam semesta adalah ibu yang menyediakan segalanya yang dibutuhkan manusia. Tanaman, hewan, dan mahluk hidup dan mati yang ada di alam semesta adalah saudara dan saudari bagi umat manusia. Klaim bahwa manusia adalah mahluk yang paling dikasihi Allah tetap dipertahankan, tetapi hal itu tidak seyogianya menafikan keberadaan mahluk lain. Umat manusia wajib hukumnya untuk tidak sekadar mengakui keberadaan mereka, tetapi juga punya kewajiban merawat alam semesta. Ini selanjutnya bermuara pada pernyataan bumi dan alam semesta sebagai rumah bersama.

Tuntutan agar merawat alam menjadi tema perayaan Paskah yang diusung oleh Gereja Katolik di Keuskupan Bandung pada tahun ini. Bapak Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subijanto OSC, melalui Surat Gembala Prapaskah mengajak seluruh umat, khususnya umat Katolik, agar melakukan pertobatan ekologis. Pertama, ini merupakan ajakan pengakuan akan kehadiran atau keberadaan segala sesuatu di sekitar kehidupan manusia. Kedua, menyusul pembangunan kesadaran tersebut, umat diajak agar menghormati keberadaan mereka (tanah, udara, air, pohon, dan berbagai mahluk lainnya). Dan, ketiga, umat diajak agar menjaga dan merawat mereka sebagai makhluk yang sama ciptaan Allah yang Maha Kuasa. Hal itu semua merupakan wujud keimanan dan ketaqwaan.

Pertobatan ekologis menjadi semakin relevan mengingat persoalan yang dihadapi umat manusia sebagai akibat pengingkaran atau penyangkalan terhadap eksistensi dan signifikansi mereka. Ini tidak terbatas pada terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, banjir, atau kekeringan. Hal-hal yang terkait dengan kemampuan alam untuk menyediakan secara berkelanjutan kebutuhan hidup manusia, seperti pangan, air bersih dan energi, juga menjadi persoalan. Semuanya mengarah pada situasi krisis dan menjadi ancaman serius yang harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya.

Jangan Khawatir dan Serakah

Dalam Surat Gembala atau semacam surat edaran tersebut, Mgr. Antonius mengingatkan adanya dua sikap dasar manusia yang berakibat pada munculnya persoalan dan krisis tersebut. Yang pertama adalah kekhawatiran dan yang kedua adalah keserakahan. Manusia teramat sering dihinggapi rasa khawatir yang berlebihan. Khawatir tidak memiliki sesuatu untuk hal yang paling mendasar sekalipun seperti makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal. Lebih dari itu, berkembang kekhawatiran tidak mendapatkan pengakuan atau penghormatan dari pihak lain. Milik dan kepemilikan menjadi sarana pengusir kekhawatiran dan selanjutnya menjadi takaran pengakuan sosial. Dalam perkembangannya, manusia tidak hanya berusaha menghalau kekhawatiran, tetapi juga membangun jaminan. Hal ini tanpa disadari mendorong manusia menjadi serakah, ingin memiliki lebih dari apa yang dibutuhkan.

Tidak dapat dimungkiri bahwa segala sesuatu yang disediakan alam (ibu) menjadi sesuatu yang mesti dimiliki, bukan saja untuk mengusir kekhawatiran, tetapi juga membangun jaminan. Terjadilah penjarahan alam secara tidak rasional, bahkan tidak jarang kelompok manusia lain pun dijadikan jaminan dan cenderung membangun struktur sosial dengan karakter de exploitation l’homme par l’homme.

Tidak sulit untuk mengatakan bahwa mereka yang penuh dengan kekhawatiran dan lalu menjadi serakah adalah mereka yang tidak bertakwa, tidak percaya akan rida dan berkah Allah. Mereka adalah manusia yang lupa bahwa “burung-burung di udara pun diberi makan, walaupun mereka tidak pernah menabur”.

Pertobatan ekologis selanjutnya menyampaikan ajakan agar umat manusia proaktif merawat alam semesta. Ini dimulai dari hal-hal yang kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan yang akan mengotori saudara tanah dan merusak saudari pepohonan. Sebaliknya manusia diajak merawat saudari tumbuhan dan tanaman, membiarkan saudari air dapat meresap ke dalam bumi, atau mengalir dengan lancar di sungai-sungai sehingga tidak menggerus bukit dan menyebabkan longsor, tidak menggerus perumahan, dan merendam kota.

Tidak sedikit pendapat yang mengatakan bahwa ajakan semacam itu sangat terlambat sebagaimana sebenarnya telah disadari dan dilakukan oleh para leluhur lewat kearifan-kearifan lokal yang mereka miliki. Mereka sungguh bertakwa dengan cara dan keyakinan mereka melalui pemeliharaan lingkungan hidup. Mereka tidak khawatir akan apa yang akan mereka makan dan minum. Dan, yang pasti, mereka tidak serakah untuk memperoleh banyak harta-milik, karena alam semesta bukan untuk dimiliki melainkan dijaga dan dirawat. Pesan Paskah dan Pertobatan Ekologis, dengan demikian, mengajak umat manusia agar bangkit dan menjalani hidup yang bersaudara dengan alam semesta dan sebagai rumah bersama, baik bagi yang kaya maupun yang miskin, tidak peduli apa pun identitas primordialnya.

 

Sumber: Pikiran Rakyat (Sabtu, 15 April 2017)