Home / Berita Terkini / Perjalanan Tim Wissemu ke Puncak Everest Diperkirakan Tujuh Hari
Everest

Perjalanan Tim Wissemu ke Puncak Everest Diperkirakan Tujuh Hari

BANDUNG, KOMPAS.com – Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar (WISSEMU) semakin dekat dengan misi untuk mencapai puncak Gunung Everest.

Sebelumnya tim Wissemu menunggu cuaca pendakian terbaik sambil beristirahat dari rangkaian proses aklimatisasi panjang atau adaptasi tubuh pada ketinggian tertentu di Desa Zhaxizongxiang, Tibet di ketinggian 4.150 meter di atas permukaan laut (mpdl).

Akhirnya dua pendaki Tim WISSEMU, Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda), siap berangkat menuju puncak Gunung Everest. Diperkirakan perjalanan mereka menuju puncak memakan waktu sekitar tujuh hari.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, perjalanan menuju Puncak Everest ini dilakukan dari Desa Zhaxizongxiang (4.150 mdpl).

Jalur yang dilalui sama dengan jalur proses aklimatisasi yaitu, Intermediate Camp (IR) di ketinggian 5.800 mdpl, Advanced Base Camp (ABC) di 6.400 mdpl, North Col (7.020 mdpl), Camp 1 (7.050 mdpl).

Setelah itu rute-rute baru menanti, sementara proses aklimatisasi terakhir hanya sampai ketinggian 7.400 mdpl alias separuh jalan menuju Camp 2.

Selanjutnya perjalanan dilaukan melalui Camp 2 (7.800 mdpl), Camp 3 (8.300 mdpl), dan yang terakhir Puncak Everest (8.848 mdpl).

Adapun estimasi kedua pendaki akan berada di puncak Everest paling cepat pada Kamis (17/5/2018). Namun, perkiraan tersebut dapat berubah tergantung pada kondisi cuaca dalam pendakian nanti.

Sementara itu, selama tiga hari empat malam di Desa Zhaxizongxiang, Deedee dan Hilda bertemu dengan tim pendukung WISSEMU yang berangkat dari Bandung pada tanggal 28 Maret 2018. Tim ini terdari atas empat anggota Mahitala.

Tim pendukung ini tidak hanya memberikan suplai logistik dan makanan tapi juga memberi dukungan moral dan mental untuk kedua pendaki sebelum Summit Push.

Nantinya tim ini akan menetap di Nepal untuk memonitor pergerakan dan mempemudah pelaporan ke Bandung.

“Setengah perjalanan menuju summit sudah sempat kami lewati saat aklimatisasi kemarin, setengah lagi masih misteri, semua sekarang bergantung pada Tuhan. Kami akan berusaha sekuat tenaga, mohon doa, semoga Tuhan bersama  kita, Indonesia,” kata Fransiska Dimitri dalam keterangan tertulisnya, Minggu (13/5/2018).

Deedee dan Hilda berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada Kamis (29/4/2018). Keduanya adalah mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Sebelum ekspedisi ke puncak tertinggi di dunia ini, keduanya pernah mengibarkan bendera Merah Putih di enam puncak gunung tertinggi di seluruh dunia.

Kedua mahasiswi ini tercatat sebagai tim perempuan pertama Indonesia yang berhasil mencapai puncak Puncak Gunung Denali (6.190 mdpl), Alaska dan Puncak Gunung Vinson Massif, Antartika (4.190 mdpl).

Pendakian menuju puncak Gunung Everest akan menggenapi rangakaian ekspedisi Seven Summits yang telah dimulai sejak tahun 2014.

 

Sumber: kompas.com