Home / Berita Terkini / Peran Universitas dalam Pengembangan Potensi Mahasiswa

Peran Universitas dalam Pengembangan Potensi Mahasiswa

Makna Prestasi dan Pendidikan

Menurut saya prestasi itu definisinya luas. Prestasi tidak bisa kita tafsirkan hanya dengan tolok ukur indeks prestasi kumulatif (IPK) yang baik secara akademik atau menjadi juara dalam sebuah kompetisi. Prestasi lebih luas dari itu. Ketika seorang mahasiswa bisa menjadi lebih baik dari diri mereka sebelumnya, itu pun dapat disebut sebagai prestasi.

Dalam pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, universitas seharusnya menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk bisa mengembangkan potensi dan kemampuan diri. Secara luas, dapat disimpulkan, prestasi muncul ketika seorang manusia bisa mengembangkan dirinya sehingga menjadi manusia yang lebih baik. Salah satu cara untuk menjadi manusia yang lebih baik adalah melalui proses pendidikan.

Berbicara soal makna pendidikan, pendidikan adalah suatu sarana yang mendorong seseorang. baik secara kognitif maupun emosional, bahkan secara sosial untuk menjadi lebih baik. Kemudian berbicara mengenai kesempatan untuk mengenyam pendidikan, tidak semua orang dapat mengenyam pendidikan khususnya pendidikan tinggi. Apabila kita berbicara konteks Indonesia secara keseluruhan, masyarakat perkotaan lebih memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi ini. Tetapi, bagi masyarakat desa, berhasil lulus dari jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) saja sudah menjadi suatu kebanggaan. Banyak lulusan SMA di pedesaan yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, salah satunya karena alasan biaya.

Pentingnya Menempuh Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi akan sangat berguna untuk memberikan pengetahuan dan kompetensi yang lebih spesifik. Misalnya, kita tidak bisa mendapatkan pengetahuan hukum secara mendetail di SMA. Namun, ketika seseorang memilih jurusan hukum di universitas, gambaran pekerjaan di masa depan menjadi lebih jelas seperti misalnya notaris, pengacara, hakim, jaksa, dan lainnya. Jadi, pendidikan tinggi memberikan kekhususan dalam ilmu dan kompetensi yang tidak kita peroleh di jenjang-jenjang sebelumnya.

Mengapa seseorang harus menempuh pendidikan tinggi? Pertama, ya untuk kekhususan pengetahuan dan kompetensi itu. Namun ada juga hal lainnya yaitu ketika kita berbicara tentang ilmu yang tidak bisa kita tafsirkan secara sempit, ilmu hanya dari dalam buku-buku karena ilmu itu juga, dapat diperoleh dari pengalaman di kehidupan sehari-hari. Pendidikan tinggi memberikan ilmu kehidupan, tetapi pemaknaan ilmu kehidupan tersebut tergantung pada kemauan peserta didiknya. Universitas atau dunia pendidikan pada umumnya berkaitan dengan ‘manusia’ yang memiliki free will, sehingga untuk belajar mengenai ilmu kehidupan kembali lagi pada kemauan masing-masing individu. Ilmu yang secara jelas dapat diberikan melalui pendidikan tinggi, yaitu ilmu secara tertulis.

Dalam dunia pekerjaan, ilmu secara tertulis atau hard skill yang didapat melalui pendidikan tinggi tidaklah cukup. Kemampuan non akademik, yakni soft skill menjadi faktor lainnya yang berpengaruh. Yang menjadi pertanyaan lain adalah apakah setiap universitas dapat mencapai keseimbangan antara soft skill dan hard skill tersebut? Seperti Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), yang memiliki tujuan, salah satunya menciptakan mahasiswa yang memiliki pemahaman mengenai Spiritualitas dan Nilai-nilai Dasar Unpar (SINDU), sekaligus menerapkan SINDU tersebut dalam kesehariannya. Unpar menginginkan mahasiswanya kelak menjadi manusia yang tidak hanya pandai dalam substansi, namun juga kaya dalam nilai-nilai.

Selain memberikan ilmu tertulis, pendidikan tinggi juga sangat berperan untuk menanamkan nilai-nilai fundamental yang akan dipegang oleh seorang manusia. Salah satunya,di lingkungan Unpar, melalui SINDU.

Peran Universitas dalam Mendorong Mahasiswa Meraih serta Mempertahankan Prestasi

Peran universitas sangat penting dalam menyediakan wadah bagi pengembangan potensi diri mahasiswa. Di dalam wadah itu, harus ada dukungan baik secara moril maupun materiil. Namun, dukungan dari universitas tentu saja akan menjadi sia-sia apabila tidak ada kemauan untuk berprestasi dari para mahasiswa, bukan hanya kemauan yang dibutuhkan, kemampuan dan kesiapan pun wajib dimiliki.

Menurut saya, menjadi juara itu bukanlah segalanya. Ketika seorang mahasiswa dapat berproses, yaitu melalui pengalaman dalam proses pembelajaran, ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan pribadi yang lebih tangguh. Pembelajaran terus-menerus ini merupakan suatu proses yang harus dilalui untuk meraih prestasi dan mempertahankan prestasi.

Budaya Berprestasi di Unpar

Di Unpar, telah ada budaya berprestasi. Setiap tahunnya, selalu ada prestasi yang diraih oleh mahasiswa/i Unpar. Hal ini dapat terlihat dalam pemberian penghargaan bagi mahasiswa berprestasi dalam Dies Natalis Fakultas atau Malam Penghargaan Unpar (MPU). Begitu pun, ketika saya mengisi instrumen akreditasi Unpar, saya melihat deretan prestasi mahasiswa/i Unpar. Oleh karena itu, saya menyimpulkan dari data tersebut, budaya berprestasi di Unpar memang telah ada.

Sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Hukum (FH) Unpar, tentu saja, saya berupaya untuk mendorong dan mendukung kegiatan-kegiatan mahasiswa selama itu masih dalam koridor, nilai-nilai dan visi misi FH Unpar khususnya, serta  Unpar umumnya. Sebenarnya, Unpar telah menyediakan prosedur dan mekanisme yang jelas untuk kegiatan kemahasiswaan di mana hal tersebut diharapkan dapat mendorong budaya berprestasi di Unpar.

Bagaimana saya mempertahankan budaya berprestasi di FH? Saya selalu berusaha untuk menjalin hubungan yang baik dengan mahasiswa. Dalam hubungan tersebut, saya mengusahakan hubungan yang sifatnya dua arah, sehingga kami sering berdiskusi. Apabila komunikasi yang terjalin sudah baik, maka akan lebih mudah untuk mendorong mereka berprestasi, terutama apabila sudah ada kemauan dari mereka untuk berprestasi. Tanpa dipaksa pun, mereka sudah bersemangat untuk mengikuti kompetisi.

Prestasi jika kita artikan sempit, hanya merujuk pada peringkat di sebuah kejuaraan saja. Namun, saya selalu berusaha memaknai prestasi dalam arti yang luas, apabila ada seorang mahasiswa yang terlibat aktif dalam suatu organisasi, itu pun merupakan suatu prestasi. Selain itu, ketika mahasiswa berhasil menjalankan suatu program kegiatan dengan baik dan jujur, itupun merupakan suatu prestasi. Dunia pendidikan seharusnya tidak memaknai prestasi dalam arti yang sempit, mendidik adalah membangun. Ketika seseorang tidak henti-henti membangun dirinya agar menjadi manusia yang lebih baik, itulah prestasi, dan hal semacam itu harus dijadikan budaya, budaya berprestasi.

Wurianalya Maria Novenanty, S.H., LL.M

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni

Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan