Home / Berita Terkini / Pentingnya Membangun Ketahanan Bangunan untuk Mengurangi Risiko Dampak Bencana

Pentingnya Membangun Ketahanan Bangunan untuk Mengurangi Risiko Dampak Bencana

Bencana gempa yang melanda Palu dan Donggala September tahun 2018 lalu dapat dikatakan sebagai bencana yang paling besar. Bukan karena korban jiwanya, namun bencana gempa di Palu dan Donggala juga serta merta diikuti oleh bencana lain seperti tsunami, likuifaksi, longsor, kebakaran, dan juga bencana sosial seperti penjarahan. Selain menyebabkan banyak korban jiwa, bencana gempa yang terjadi juga menyebabkan banyak kerugian materiil dikarenakan banyak gedung-gedung dan perumahan rakyat turut hancur.

Hal tersebutlah yang menjadi tema bahasan dari seminar kebencanaan yang diselenggarakan pada Jumat (25/1/2019) di ruang Aula Kampus Pasca Sarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yaitu “Rehabilitasi dan Mitigasi Pasca Bencana Gempa Palu 28 September 2018”. Unpar melihat perlunya menyelenggarakan seminar ini agar para peneliti di bidangnya dapat memberikan pengetahuan tentang kebencanaan.

Seperti yang disampaikan Rektor Unpar, Mangadar Situmorang Ph.D, dalam sambutannya, bencana bukan hanya merupakan peristiwa alam, namun bencana juga merupakan bencana sosial, ekonomi, dan politik. Maka dari itu, hal ini menjadi tanggung jawab sosial berbagai pihak termasuk institusi pendidikan seperti Unpar dengan membawa amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Penanganan pasca bencana

Dalam presentasinya yang berjudul “Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi”, Dr. Arie Murwanto, selaku Kepala Satuan Tugas (Satgas) Rehabilitasi Palu-Donggala Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), memberikan pemahaman tentang tantangan dalam hal penanganan pasca bencana. Karena bencana gempa yang melanda, jumlah rumah yang harus direlokasi di kota Palu dan Donggala mencapai sekitar tiga sampai empat ribu rumah. Hal inilah yang menjadi tantangan untuk ahli tata ruang dan arsitek yang akan bekerja. Juga pemerintah setempat sudah mulai melakukan beberapa relokasi di titik-titik yang terkena bencana. Seperti misalnya membangun infrastruktur baru di daerah pantai, yaitu membuat tanggul laut, pemecah-pemecah gelombang, early warning system dan juga membuat jalur evakuasi jika terjadi bencana.

Membangun ketahanan bangunan

Selanjutnya Prof. Dr. Arief Sabarudin, Kepala Puslitbang Permukiman, melanjutkan sesi presentasi. Dengan judul presentasi “Penyelenggaran Bangunan Gempa Aman Bencana”, beliau membagikan pemahaman tentang bagaimana membangun ketahanan terhadap bencana karena melihat masih banyak bangunan yang tidak menggunakan kode-kode bangunan yang sesuai. Menurutnya, banyak gedung-gedung runtuh karena tidak memperhatikan rekayasa gempa yang sudah dibuat, khususnya  non-engineering structure seperti rumah-rumah masyarakat.

Menurutnya, ada tiga aspek penting yang harus diperhatikan saat membangun sebuah bangunan, yaitu aspek hazard, vulnerability, dan capacity. Selain itu, pedoman kerentanan bangunan sangatlah penting untuk mengurangi resiko dampak bencana. Bangunan haruslah memenuhi persyaratan 4K, yaitu keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.

Sosialisasi bagi masyarakat

Masyarakat juga masih minim kepekaan terhadap bencana. Seringkali rumah-rumah yang hanya satu lantai dibuat menjadi dua lantai tanpa mengubah struktur di bawahnya. Maka dari itu, hal-hal tersebut haruslah disosialisasikan. Masyarakat harus bisa mengakses konsultan-konsultan perencana bangunan sehingga nantinya bangunan akan tahan gempa dan korban jiwa dapat diminimalisir. Di akhir presentasi, diharapkan pemerintah dapat meningkatkan Undang-Undang bangunan gedung, karena hal ini masih menjadi pekerjaan rumah.