Home / Berita Terkini / Pentas Teater Satre Unpar Hadirkan Adaptasi Sastra Rusia

Pentas Teater Satre Unpar Hadirkan Adaptasi Sastra Rusia

Untuk terakhir kalinya, Silvio menarik pistolnya. Setelah memberi pelajaran berharga bagi sang pangeran akan hidup, ia mengarahkan pistol itu tinggi-tinggi. Sekali suara tembakan terdengar menggema dalam ruangan. Lalu hening, dan lampu pertunjukkan pun padam. Maka berakhirlah pementasan sore itu.

Itulah adegan penutup drama “Tembakan” yang dipentaskan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Sastra dan Teater Universitas Katolik Parahyangan (UKM Satre Unpar) yang digelar di Gedung Pertunjukan De Majestic Braga pada Sabtu (23/11). Kisah ini diadaptasi dari karya sastra asal Rusia, yaitu cerita pendek dengan judul sama yang ditulis oleh Alexander Pushkin pada abad ke-19. 

Kisah ini bercerita mengenai seorang penembak jitu, Silvio, yang membalas dendam kepada sang Pangeran karena tidak menghargai hidup. Kisah yang berlatar belakang suatu kota bernama “M” ini membawa penonton memasuki suasana Rusia klasik, dengan tentara yang sehari-hari hanya mabuk sembari berjudi, juga kisah asmara sang Pangeran dengan seorang putri yang membuatnya sadar bagaimana cara menghargai hidup. 

Meskipun tema yang dibawakan terkesan berat, ada saja cara Satre Unpar memberikan sentuhan humoris dalam teater yang berlangsung setengah jam ini. Misalnya bagaimana para tentara Rusia itu justru berbicara dengan berbagai macam karakter, termasuk dengan dialek khas Sunda. Atau bagaimana pohon, bunga, burung dan angin bisa bicara dan berekspresi, hingga membuat sang pangeran dan putri kesal.

Sarat Makna

Pentas ini sejatinya sarat makna. Hal ini diungkapkan oleh Syarif Maulana selaku sutradara pementasan.  Syarif menuturkan bahwa pesan dari pentas ini adalah tentang penghargaan akan hidup. “Orang-orang waktu muda cuek dengan hidup, ketika mulai dewasa jadi mengerti akan makna hidup dan lebih memaknai hidup,” jelas Syarif.

Syarif juga menjelaskan mengapa pada tahun ini Satre mengangkat cerita sastra Rusia. Hal tersebut dikarenakan ketertarikan personal dari Syarif yang menyukai sastra Rusia. “Ingin temen-temen kenal dengan sastra Rusia  karena selama ini (sastra Rusia) tidak terlalu dikenal oleh orang-orang Indonesia, biasanya hanya sastra Eropa Barat atau Amerika saja.”

Menurut Billy Tarigan, selaku Ketua UKM Satre Unpar sekaligus pimpinan produksi, segenap pengurus Satre sudah mempersiapkan pementasan ini sejak enam bulan yang lalu. Dengan latihan intensif selama tiga minggu akhirnya pementasan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Tidak hanya itu pementasan Satre ini merupakan sebuah kerjasama antara Satre dan Paduan Suara Mahasiswa Unpar.

Mengapa Teater?

Diakhir wawancara, Syarif menjelaskan mengapa baginya Teater memiliki banyak nilai positif. “Teater penting untuk mahasiswa, penting untuk pembawaan diri, self motivating, semua dipake di Satre, vokal, olah tubuh, dan proses berkarya. Ini bisa menjadi skill yang terpakai nantinya untuk membentuk watak, karakter, dan soft skill,” jelas Syarif

Tidak hanya itu, Billy juga berharap bahwa kedepannya Satre dapat mementaskan pementasan yang lebih besar lagi. “Semoga Satre terus aktif dan dikenal di dunia teater dan bisa lebih terang lagi,” tutup Billy. (YJR/DAN)