Home / Berita Terkini / Pengembangan Social Enterprise di Unpar

Pengembangan Social Enterprise di Unpar

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) tengah mengembangkan sejumlah program dengan konsep social enterprise. Istilah social enterprise (bahasa: perusahaan sosial) sendiri tidak memiliki pengertian khusus. Dirangkum dari berbagai pendapat praktisi usaha sosial, dapat disimpulkan bahwa social enterprise merupakan sebuah metode untuk menyeimbangkan aspek bisnis dan aspek sosial dalam satu konsep. Dalam social enterprise, tidak hanya berfokus pada keuntungan semata, namun yang lebih penting adalah bagaimana memberikan dampak kepada komunitas. Tidak hanya berhubungan dengan konsumen, namun juga membangun komunitas itu sendiri.

Ditemui Tim Publikasi Unpar beberapa waktu lalu, Dr. Maria Widyarini Ketua Program Studi Magister Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan (MAB Unpar) memberikan sejumlah paparan mengenai pengembangan social enterprise di Unpar.

Saat ini, Unpar tengah menjalankan beberapa program hibah penelitian terkait konsep social enterprise.

“Ada tiga program hibah yang sedang saya kerjakan. Yang satu PPMUPT bekerjasama dengan BAPPEDA Cimahi. Kita melakukan konsep social enterprise untuk masyarakat adat di daerah Cirendeu. Yang kedua, Prodi MAB dengan BIPA, kita juga akan membuat sociopreneur dengan mahasiswa Unpar bekerjasama dengan mahasiswa asing, yang akan dikelola melalui IO (International Office) dan lembaga BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing).

Satu program lagi yang sedang berjalan, tambah Maria, yakni Erasmus Inspire, program hibah dari European Union (EU), yang telah diadakan sejak 2018. Direncanakan, program tersebut akan selesai pada 2020 mendatang.

Sociopreneur di Unpar

Sociopreneur sendiri bisa dikatakan konsep baru yang diperkenalkan di Unpar. “Unpar baru memperkenalkan sociopreneur pada saat bekerjasama dengan British Council. Kalau tidak salah, itu tahun 2016. Memang kebanyakan, pegiat sociopreneur itu di bawah British Council, rata-ratanya,” terang Maria.

Awal mulanya, Maria menambahkan, program sociopreneur sendiri diawali dengan kegiatan proyek evaluasi para penerima hibah social enterprise dari British Council. Beberapa dosen di Unpar, diberikan penugasan untuk mengikuti pelatihan terkait dengan social citizenship British Council, yang merupakan salah satu cikal bakal pengenalan social enterprise di perguruan tinggi.

“Kita melihat bahwa social enterprise ini bisa menjadi salah satu kajian, selain kewirausahaan yang selama ini sudah dikenal oleh mahasiswa. Saya bilang mungkin kewirausahaan konvensional. Karena biasanya, hanya untuk start-up bisnis, yang biasanya ke arah dunia bisnis sustainability-nya,” ujar Maria.

“Kewirausahaan sosial itu pertama kali saya kenal sebetulnya dari program Administrasi Publik, yang memang dia sudah memiliki konsep kewirausahaan sosial tapi dari sudut pandang policy. Ketika kita akan bawa ke dunia bisnis, itu berarti akan mengarah pada bisnis sosial, ” imbuhnya.

Konsep sociopreneurship mengajak beberapa stakeholder untuk menjadi beneficiary (kembali kepada komunitas) dan beneficiary (kembali kepada konsumen). Konsumen ini akan bekerja sama dengan wirausahawan yang akan berkenalan dan membeli produk yang dihasilkan oleh komunitas.

INVENT 2018

Salah satu, implementasi konsep social enterprise dan sociopreneurship di Unpar, yakni melalui kegiatan. International Volunteering for Better Inclusivity (INVENT), sebuah konsorsium yang diinisiasi oleh tiga universitas yaitu Unpar, Universitas Indonesia, dan Universitas Widya Mandala Surabaya telah berhasil mendapatkan hibah Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional yang diberikan oleh DIKTI untuk tahun 2018.

Konsorsium ini mengangkat program volunteering, yang salah satunya dalam lingkup community engagement serta berkeinginan untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, dan mengembangkan aktivitas yang membangun karakter mahasiswa.

INVENT 2018 mengangkat tema “Peace and Justice” dengan menitikberatkan pada tema sosial dan peningkatan sumber daya masyarakat. Kegiatan short course tersebut diintegrasikan dengan kegiatan volunteering di Depok, Bandung, dan Jakarta pada 3-13 Juli 2018 lalu.

Program ini diikuti oleh diikuti oleh 25 mahasiswa. 12 mahasiswa Indonesia berasal dari tiga konsorsium nasional, sebanyak 13 mahasiswa merupakan mahasiswa asing yang berasal dari Universitas Malaya Malaysia, Indian Institute of Technology (IIT) Bombay India, Manipal Higher Education, Karnataka India, dan Chao Tung University Taiwan.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual dengan idealisme dan semangat yang besar tentunya dapat mengambil peran kontributif dalam hal tersebut. INVENT memfasilitasi semangat mahasiswa lewat pembekalan berupa pengetahuan tentang menyusun kegiatan sosial, pemahaman budaya, dan hal-hal lain yang relevan. (Berita selengkapnya; http://unpar.ac.id/invent-2018-anak-muda-turun-tangan/)