Home / Berita Terkini / Pengembangan Leadership Mahasiswa

Pengembangan Leadership Mahasiswa

Institusi pendidikan tidak hanya memberikan prasarana dan sarana bagi para peserta didik untuk berdiskusi antarsesamanya, tetapi juga bersama dengan tenaga pendidik. Selain itu, dalam mengembangkan keahlian dan potensi peserta didik, kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor harus digali. Maka, kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler harus berjalan berkesinambungan. Karena, kokurikuler dan ekstrakurikuler yang dilakukan di luar ruang kelas menjadi pendukung kegiatan kurikuler yang dilakukan di dalam ruang kelas.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad menyebutkan, kegiatan kurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang berjalan sesuai dengan program, dalam jumpa pers di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Jakarta pada Rabu (14/6). Lalu, kokurikuler ialah kegiatan yang menguatkan kegiatan kurikuler, seperti kunjungan ke tempat edukasi lain. Terakhir, ekstrakurikuler adalah kegiatan yang bersifat mengembangkan diri dan sesuai dengan minat peserta didik, misalnya olahraga dan seni, dikutip dari situs Kemendikbud.

Kegiatan kurikuler biasanya bersangkutan dengan kemampuan kognitif yang berhubungan dengan aktivitas otak untuk mengembangkan kemampuan akal. Sedangkan, pada kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, kemampuan afektif dan psikomotor diasah jauh di atas kemampuan kognitif.

Pada institusi pendidikan tinggi, kegiatan ekstrakurikuler tidak terpaku hanya kepada kegiatan olahraga dan seni saja, namun juga organisasi kemahasiswaan. Organisasi kemahasiswaan bertujuan, beberapa diantaranya, ialah untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan memimpin (leadership), bekerja dalam kelompok (teamwork), manajemen waktu (time management), dan perencanaan (planning). Salah satu kegiatan di dalam organisasi kemahasiswaan yang paling sering diikuti dan banyak diminati oleh mahasiswa adalah merangkai sebuah acara atau event organizing.

Di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), sejumlah acara yang dikerjakan berkaitan dengan penyaluran keahlian dan bakat mahasiswa di berbagai bidang, seperti Parahyangan Sports Combat (PSC) yang bergerak di bidang olahraga, Malam Penghargaan Unpar (MPU) yang bertujuan untuk memberikan penghargaan bagi mahasiswa yang berprestasi dan mengharumkan nama Unpar, atau Tosaya yang bergerak dalam kegiatan pengabdian.

Setiap acara tersebut dipersiapkan oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa. Bertujuan sebagai wadah untuk unjuk gigi dan diapreasiasi oleh khalayak, terutama pada bidang seni dan olahraga.

Event organizing tidak bisa disebut mudah. Perencanaan dan eksekusi teknis perlu dipersiapkan dengan matang. Seorang ketua mengemban tugas memimpin dan memberi arahan kepada seluruh staf di bawahnya. Keahlian memimpin akan sangat diuji. Karena, seorang pemimpin perlu mencari trik untuk menghadapi orang lain dan mendapatkan yang ia inginkan dan rencanakan. Persistensi, berpikir cepat, pemecahan masalah, dan kesabaran hanya segelintir faktor yang akan terus-menerus diasah dan dikembangkan selama perangkaian acara berlangsung.

Lain halnya dengan seorang ketua, baik itu sebagai ketua acara atau divisi, sekretaris dan bendahara memegang peranan lain. Kemampuan kesekretariatan dan manajemen uang menjadi modal utama. Fokus terhadap detail pun perlu dimiliki oleh seorang sekretaris atau bendahara.

Selain itu, garda terdepan sebuah tim adalah para staf. Karena, staf merupakan orang yang menjalankan seluruh perencanaan yang dibuat oleh tim inti. Keahlian yang diasah bergantung kepada divisi yang ia geluti. Misalnya, di dalam divisi publikasi biasanya terdapat subdivisi desain. Maka, keahlian desain grafis merupakan modal utama yang akan terus-menerus dikembangkan.

Contoh lainnya, yakni dokumentasi. Menjadi bagian di dalam divisi dokumentasi akan mengasah keterampilan fotografi. Selain photo hunting, sesama anggota divisi pun bisa saling berbagi pengetahuan.

Meskipun menjadi bagian dalam sebuah tim event organizer hanya berlangsung dengan periode yang jauh lebih sedikit daripada badan eksekutif mahasiswa atau himpunan, namun pengalaman dan keahlian yang didapat tidak jauh berbeda. Terutama, bagi para mahasiswa yang tidak ingin terikat kepada sebuah organisasi, menjadi bagian tim sebuah acara dapat menjadi pilihan yang menarik.