Home / Opini / Pemuda “Memikul” Pena

Pemuda “Memikul” Pena

“Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Indonesia”

“Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia”

“Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia merayakan hari Sumpah Pemuda. Di era milenial ini, para pemuda berjuang dan menginspirasi dengan caranya sendiri. Di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), misalnya, ada yang mendaki 7 puncak tertinggi dunia, ada yang membawa kebudayaan Indonesia sampai ke Eropa, ada yang latihan bernyanyi hingga larut malam demi membawa nama baik almamater dan Negara Indonesia, dan ada juga mahasiswa yang berlatih ilmu keprajuritan sebagai bentuk kecintaannya terhadap almamater dan negara.

Pemuda di era milenial memiliki peran penting untuk masa depan Indonesia, yang mana bergantung pada visi, interaksi, dan nilai-nilai yang diserap generasi negeri ini. Namun faktanya, masih banyak pemuda yang rentan dengan pertarungan hoax dan pelintiran kebencian. Terlebih lagi, medan kontestasi di media sosial turut memengaruhi persepsi pemuda dalam membangun cara pandang serta melihat masa depan bangsa. Pemuda pada era kini diharapkan menjadi penyambung amanah dalam memajukan Negara yang kita cintai ini.

Di zaman sekarang, pemuda tidak lagi memikul senjata. Hal yang “dipikul” pemuda masa kini ialah pena. Pena disini diibaratkan bagaimana pemuda melalui pendidikan menjadi “seseorang” yang mampu menjadikan negeri ini lebih baik lagi. Hal sederhana dan sedang hangatnya di masyarakat adalah bagaimana pemuda bisa melawan ujaran kebencian dan hoax dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu sangatlah penting karena dari ujaran kebencian dan hoax mampu memecah belah bangsa. Kata per kata dalam Sumpah Pemuda tentunya menjadi dasar mengapa pemuda haruslah melawan hal yang membuat perpecahan di negara ini.

Lebih lanjut, pembangunan Indonesia bisa berjalan dengan baik apabila seluruh masyarakat bersatu. Hal itu sejalan dengan prinsip “Bhinneka Tunggal Ika” berarti “berbeda namun tetap satu juga” yang dicengkram kuat di kaki garuda Pancasila. Dengan adanya sumpah pemuda, generasi muda masa kini tahu bahwa kita adalah satu tanah air Indonesia, satu bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan Indonesia.

Pemuda melalui pendidikan di era sekarang haruslah menjadi lebih cerdas, kreatif dan inovatif sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan. Pemuda harus mampu menjadikan isi dari sumpah pemuda sebagai dasar dalam kehidupan, bagaimana perbedaan suku, agama, dan bahasa tetap mampu dalam naungan yang sama, Tanah Air Indonesia, Bangsa Indonesia, dan Bahasa Indonesia.

Pemuda dari masa ke masa mengemban amanah yang sangat mulia, bahwa keberlanjutan negara ini ada dalam genggaman tangan pemuda. Melalui pendidikan diharapkan pemuda bisa membawa negara ini semakin maju serta dapat menjadi contoh di masyarakat bahwa berbagai perbedaan dalam negeri ini tetaplah dalam satu nama, INDONESIA.

Untuk seluruh pemuda, khususnya Unpar, ingatlah,

“Amanah tidak akan salah memilih pundaknya, tidak akan lebih berat dari kemampuan yang menanggungnya. Namun apabila hanya berdiam diri saja, tanpa melatih pundak, masihkah kita mampu berjuang untuk Negara ini?”

 

Penulis:

Tiffany Gusni Ayu Cantigi Menwa Unpar-Mahasiswa Fakultas Hukum