Home / Berita Terkini / Pelatihan Guru Fisika: Membuat Yang Tak Menarik Menjadi Asyik

Pelatihan Guru Fisika: Membuat Yang Tak Menarik Menjadi Asyik

“Fisika membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi sehingga anak-anak seringkali tidak menaruh minat yang cukup. Mereka sering kelelahan karena tidak mengerti dan cepat menyerah karena merasa butuh terlalu banyak energi dan konsentrasi untuk memecahkan permasalahan di bidang Fisika,” ungkap Endah, guru di salah satu SMA Negeri di Bandung saat ditanya mengenai alasan mengikuti kegiatan pelatihan guru fisika yang diadakan tahun ini.

Pendidikan mengenai ilmu pasti seperti fisika memang sulit dibuat menyenangkan. Predikat ilmu pasti membutuhkan jawaban yang pasti pula dan tak seperti lingkup ilmu sosial yang bisa menghadirkan perspektif berbeda dalam logika atau nalar yang sama. Ilmu pasti seperti fisika memiliki peraturan yang lebih ajeg dan meminta hasil yang sama walaupun percobaan dilakukan oleh orang yang berbeda. Hal ini membuat pembelajaran akan fisika dipandang sebagai sesuatu yang membosankan dan rumit.

Di sinilah kegiatan Pelatihan Guru Fisika (PGF) yang rutin diadakan oleh Program Studi Fisika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), menjadi sebuah upaya dalam membantu menyediakan alternatif bentuk pembelajaran yang lebih menarik perhatian siswa. Tahun ini, PGF berlangsung selama tiga hari, dari Rabu hingga Jumat, 5-7 September 2018.

Pada hari ke-3, peserta lebih banyak disuguhkan dengan bentuk pembelajaran yang condong kearah praktik dan eksperimen. Dipandu oleh Philips N. Gunawidjaja, Ph.D, ketua jurusan prodi Fisika dan peneliti dari FTIS Unpar, para peserta mempelajari sedikit filsafat dan pemikiran ahli-ahli pendidikan untuk membuat pembelajaran di kelas lebih menarik.

“Kita selalu mulai dengan mengajukan pertanyaan kritis. Ini digunakan untuk menarik perhatian siswa. Kan sering kalau siswa atau siswi bilang ‘ini gunanya saya belajar itu apa sih’? Untuk menghadirkan perasaan “berguna” tersebut, kita mulai dari pertanyaan yang menarik minat mereka berpikir kritis sebelum terjun ke rumus-rumus,” ungkap Philips.

Acara dilanjutkan di siang hari dengan sesi presentasi dari Bengkel Sains yang menghadirkan sebuah eksperimen menarik dan unik. Pada kesempatan ini, Bengkel Sains bereksperimen dengan nitrogen dan susu untuk membuat es krim dari bahan nitrogen cair. Peserta turut mencoba dan sangat menikmati hasil eksperimen tersebut.

Selain itu, Muhammad Arifin Dobson, Mahasiswa Berprestasi KOPERTIS IV Unpar mempresentasikan “Air Engine” hasil penemuannya, yang dengan antusias disambut oleh para hadirin.

“Visi saya adalah mencetak blueprint dari alat ini untuk diperbanyak. Saya ingin nantinya penemuan saya menjadi open source yang bisa diakses oleh orang-orang tanpa perlu mengeluarkan biaya,” ungkap Arifin. Eksperimen-eksperimen ini digunakan untuk menunjukkan bagaimana pengetahuan yang didapatkan di kelas dapat diaplikasikan di kehidupan nyata yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Serupa dengan Utik salah satu mahasiswa UPI Program Ilmu Pengetahuan Alam yang mengikuti kegiatan ini. Ia percaya bahwa eksperimen menjadi metode yang menarik bagi siswa.

“Eksperimen memang membuat siswa lebih tertarik, ini karena siswa melihat aplikasi pengetahuan mereka yang bisa digunakan langsung oleh mereka. Jadi bukan teori saja,” jelasnya.