Home / Berita Terkini / Parahyangan Berdedikasi 2019 Bawa Keceriaan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Parahyangan Berdedikasi 2019 Bawa Keceriaan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Direktorat Jenderal Pengabdian Masyarakat Lembaga Kepresidenan Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (LKM Unpar) mengadakan acara “Parahyangan Berdedikasi 2019” di Panti Asuhan Bhakti Luhur Alma Bandung  pada Sabtu 12 dan 19 Oktober 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa Unpar serta membantu mengurangi stigma negatif terhadap anak berkebutuhan khusus yang sering terjadi di tengah masyarakat. 

Parahyangan Berdedikasi 2019 merupakan bentuk pengabdian masyarakat Unpar melalui kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kreatifitas anak-anak berkebutuhan khusus melalui kegiatan menempel, menggambar, dan lainnya dengan melibatkan relawan (volunteer). Acara ini merupakan pembaruan dari program kerja Pengabdian Masyarakat dengan perubahan objek dari pengabdiannya, dan menjadi acara pertama yang berfokus pada anak-anak berkebutuhan khusus. Acara ini melibatkan 43 relawan dan 26 panitia untuk mengikuti kegiatan acara. 

Relawan berhadapan langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus untuk memberikan bimbingan. Para relawan diberikan arahan oleh panitia bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki pemikiran yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya, maka dibutuhkan pemakluman dan kesabaran yang tinggi saat menjalankan kegiatan. 

Yossi Sinaga, selaku Ketua Pelaksana Acara yang sempat melakukan survey, melihat bagaimana hal tersebut dapat menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh para peserta acara. “Awalnya ketika saya wawancara para relawan, mereka agak bingung bagaimana untuk menghadapi anak-anak tersebut, tetapi juga penasaran. Ketika ditanya bagaimana perasaan mereka setelah menjalankan kegiatan, mereka menjawab ternyata tidak semudah yang mereka pikirkan,” tutur Yossi dalam wawancara dengan Tim Publikasi pada Jumat (17/10).

Acara pada minggu pertama diisi dengan rangkaian kegiatan menempel, berkreasi dengan plastisin, dan menari. Kemudian pada minggu kedua acara diisi dengan kegiatan membuat buku, merancang baju menggunakan kertas, dan dimeriahkan dengan fashion show. “Anak-anak berkebutuhan khusus itu gak pantes untuk dipandang sebelah mata, sebagai manusia kita harus memandang mereka sama seperti kita, jadi stigma negatif terhadap mereka harus dihilangkan,” jawab Yossi ketika ditanyakan harapannya mengenai acara ini. “Mungkin untuk kedepannya kegiatan seperti (ini) diadakan lagi,” pungkasnya. (MGI/DAN)