Pancasila, Seni Pertunjukan Reak, dan Peluang di Era Disruptif

Oleh: Wilfridus Demetrius S.

Editor: M. Naufal Hafizh

AYOBANDUNG.COM — Kita tentu sepakat bahwa nilai kearifan lokal yang terkandung dalam seni budaya seyogyanya mampu mendorong semangat kecintaan pada kehidupan manusia, Sang Pencipta, dan perwujudan keseimbangan ekologis. Nilai-nilai kearifan lokal kemudian diterjemahkan melalui ideologi dan falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara bersama yaitu Pancasila. Saat ini, kita tidak dapat mengelak serbuan budaya luar yang secara langsung atau tidak berdampak pada perubahan tata nilai budaya dan matinya bentuk-bentuk seni tradisi lokal (local wisdom). Atas keprihatinan dan rasa tanggung jawab, Abah Enjum sebagai ketua sanggar seni Reak Tibelat, Cibiru berjuang melestarikan, mengedukasi, dan mewariskan seni pertunjukan Reak. Usahanya ini tidak lepas dari penolakan, kecurigaan sebagai praktik musyrik, ketinggalan zaman, kekhawatiran warga, bahkan tidak mendapatkan keuntungan (komersil).

Sanggar seni Reak yang terletak di Kampung Jati, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, merupakan salah satu seni pertunjukan budaya nusantara yang syarat dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Seni ini memadukan beberapa jenis seni tradisional seperti: seni reog, seni  angklung,  seni kendang  pencak, seni  tari, seni  topeng, dan perpaduan bunyi-bunyian serta sorak sorai atau “susurakan” atau “eak-eakan, yang ditimbulkan dari pertunjukan ini menjadi ciri khas seni pertunjukan Reak.

Abah Enjum, bertutur bahwa proses pemaduan alat musik tradisional, tari-tarian, dan sorak-sorainya merupakan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Selalu ada generasi berikutnya yang mahir memegang alat reog, memainkan kendang, tarompét, angklung, kecrékan, gong, bangbarongan, dog-dog, dan tari topeng. Seni pertunjukan Reak meliputi persiapan, ritual doa, pembuka, hélaran, kasurupan, dan pasca pertunjukan. Ada beberapa fungsi ritual antara lain, hiburan, ekspresi estetis, solidaritas dan komunikasi massa. “Mimpi saya, kesenian reak dapat menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah sebagai wadah kreativitas anak-anak…,” ungkap Abang Enjum dalam sebuah kesempatan.

Bagaimana korelasi pertunjukkan seni Reak dan literasi berpancasila? Dimensi Religiositas yang ditunjukkan dalam seni pertunjukan Reak terekspresikan dalam ritual doa untuk meminta keselamatan dan terhindar dari gangguan ruh jahat. Ritual doa disenandungkan melalui kidung dan dibacakan melalui rajah. Keduanya selalu diawali dengan kata-kata “Pun sampun ka Sang Rumuhun (sembah bakti bagi Sang Mahakuasa),” yang berarti memberi hormat sekaligus meminta izin kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Selain itu, dalam hélaran, beberapa seniman yang kerasukan ruh karuhun juga menjadi simbol religiousitas dalam bentuk kepercayaan terhadap kekuatan roh nenek moyang sebagai kepercayaan yang dianut turun-temurun bahkan sebelum masyarakat Sunda memeluk agama Islam.

Dimensi kemanusiaan terekspresi melalui tindakan ngariung, menjaga warisan leluhur dan memelihara kesimbangan dengan manusia dan alam. Nilai yang ditonjolkan adalah rasa tanggung jawab sebagai manusia, bersikap adil dan kebersahajaan sebagai makhluk sosial. Dengan cara inilah manusia menjadi manusia yang utuh (homo religiosum) atau yang dalam konsep budaya Sunda disebut manusa (manusia) lebih tinggi derajatnya dari konsep jalma (tubuh biologis semata).

Dimensi Persatuan Indonesia tercermin dalam fungsi estetika yang terletak pada perpaduan gerakan, tata rias, tata busana, harmonisasi dan iringan musik dalam seni pertunjukan Reak. Keindahan masing-masing seni, yaitu seni reog, seni angklung, seni kendang  pencak, seni  tari  dan  seni  topeng, terangkum secara padu dan satu sekaligus harmonis dalam Reak. Hal ini selaras peribahasa Sunda, “runtut raut sauyunan, sadeudeuh sapihanéan; ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak.” (berjalan beriringan, saling mendukung, saling menjaga, saling menyayangi; susah dan senang ditanggung bersama – Bhineka Tunggal Ika).

Dimensi Demokrasi tergambar melalui sikap keterbukaan dalam penyelenggaraan pertunjukan, ada musyawarah untuk menentukan para pemain, termasuk juga honor yang diperoleh. Selain itu, Abah Enjum ketua sanggar seni Reak, selalu terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan sekaligus kekhawatiran masyarakat mengenai adanya unsur-unsur kemusyrikan dalam seni pertunjukan Reak. Beliau selalu bersedia untuk berdiskusi dengan pihak mana pun. Dengan demikian, semua menjadi jelas dan tuntas, sebagaimana digambarkan dalam ungkapan “Hérang caina, beunang laukna” (bening airnya, dapat ikannya).

Dimensi Keadilan Sosial tercermin melalui rasa puas, rasa senang dari para pemain/seniman dan para penikmat seni termasuk para penonton. Dalam konteks ke-Indonesia-an keadilan, rasa puas, dan rasa senang ini kiranya menjadi dasar bagi praktek masyarakat sosial yang berkeadilan. Seni tradisi mampu menempatkan kepentingan, keselamatan, atas dasar persatuan dan harmonisasi, di atas kepentingan diri sendiri dan golongan, seperti tergambarkan dalam lirik lagu Manuk Dadali: hirup sauyunan tara pahiri-hiri (hidup bersama tanpa saling iri dengki).

Literasi Pancasila dalam seni pertunjukan Reak tidak terlepas dari paradigma teknologi yang mengubah pola pikir dan cara bertahan hidup. Kita juga tidak dapat mengelak bahwa nilai-nilai tradisi lokal dituntut untuk bertransformasi jika tidak ingin tergerus oleh dinamika digitalisasi. Informasi, pengetahuan dan pelibatan (engagement) menjadi syarat mutlak. Pergeseran fungsi dari kertas (cetak) ke daring (online) begitu pula dari dunia pertunjukan lakon panggung ke pertunjukkan secara daring (online) harus disikapi sebagai peluang baru bagi internalisasi nilai-nilai tradisi lokal. Bagaimana seni pertunjukan Reak mempertahankan eksistensinya dalam personalisasi peradaban yang dianggap sulit diprediksi?

Jika tidak mau dianggap kuno dan tergerus, tradisi lokal seperti seni pertunjukan Reak harus sadar zaman. Sadar bahwa setiap orang adalah produsen informasi, fenomena viral (mudah disebarkan), ketersediaan alternatif sumber informasi, saringan kendur, banjir isu, gosip, fitnah, dan hoaks. Tradisi lokal termasuk seni pertunjukan juga dihadapkan dengan kesulitan dalam regenerasi karena seni tradisi dipandang tidak lagi relevan. Maka diam-diam, para pelaku seni menghidupi dan menghayati seni hanya sebagai sebuah proyek ritual dan pertunjukan demi eksistensi.

Menjawab berbagai tantangan di atas, tradisi lokal termasuk seni pertunjukan perlu melihat gelombang disrupsi sebagai peluang untuk membangun pola jejaring (web) sebagai sebuah tuntutan relasi yang dianggap mampu memperkuat peradaban saat ini. Media sosial menjadi kanal informasi dan literasi nilai tradisi lokal dan seni pertunjukan. Para pegiat tradisi lokal dan seni pertunjukan proaktif dalam melibatkan warga, berjejaring sesama pegiat seni, berkolaborasi lintas disiplin, dan bertindak lokal yang berdampak global. Maka yang dibutuhkan adalah keterbukaan dan kolaborasi yang mutual. Dengan cara ini, Seni tradisi bukan hanya menjadi tontonan semata, nilai-nilai kearifan lokal disebarluaskan, eksistensi komunitas lokal diangkat ke tataran global, dan menyumbang informasi terpercaya bagi pembangunan karakter generasi bangsa yang berkepribadian, kreatif, inovatif, kritis, dan komunikatif.

Sumber: AyoBandung.com – Kamis, 26 November 2020. https://ayobandung.com/read/2020/11/26/157198/pancasila-seni-pertunjukan-reak-dan-peluang-di-era-disruptif