Home / Alumni / Pamit Wisuda: Muhammad Arifin Dobson

Pamit Wisuda: Muhammad Arifin Dobson

Naskah Pamit Wisuda 15 September 2018

Yang saya hormati,

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV; Pengurus Yayasan Universitas Katolik Parahyangan; Bapak Rektor, bapak-ibu Dekan, bapak-ibu kepala biro dan Jajarannya; Ketua Ikatan Alumni UNPAR; Orang tua dan keluarga wisudawan/wisudawati yang berbahagia; serta, Yang terkasih,

Pimpinan Lembaga Kemahasiswaan UNPAR; dan Wisudawan/wisudawati rekan seperjuangan yang sedang berbahagia.

Assalamualaikum Wr. Wb. Semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta karunia-Nya terlimpah kepada kita semua.

Sampurasun!

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan anugerah-Nya kita semua berhasil menempuh studi di kampus tercinta hingga dapat berkumpul disini. Juga marilah kita doakan gedung Pembelajaran Artnz-Geisse lekas selesai agar perayaan nan sakral ini bisa dilaksanakan di kampus sendiri, ditempat dimana kita berproses bertahun-tahun.

Sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi saya diberi kesempatan untuk berdiri disini, dengan segala kerendahan hati mohon izin untuk mewakili rekan-rekan wisudawan/wati untuk menyampaikan pamit kepada seluruh civitas akademika Universitas Katolik Parahyangan.

Saya ingin memulai dengan sebuah istilah, yaitu Dentuman Besar “Big Bang”, awal mula dari alam semesta yang selama ini disetujui oleh para ilmuan. Pada dentuman besar, jutaan- bahkan triliunan partikel tercipta, tidak berbeda seperti awal masa kampus kita, ribuan manusia yang belabelkan mahasiswa tercipta, dengan miliaran mimpi dan ambisi, ada yang ingin menjadi ilmuan terbaik, politisi yang berpengaruh, pengusaha yang sukses, atau sekedar mengikuti perintah orang tua atau bahkan trend masyarakat, semua memiliki motivasi masing-masing. Satuan yang bernama waktu pun dimulai saat dentuman besar, partikel memiliki sebuah waktu hidup, keinginan untuk berinteraksi, beraksi dan meluruh menjadi sesuatu yang lain. Tidak berbeda dengan kita, pada awal masa kuliah, kita mengetahui bahwa ada batas waktu yang harus kita capai; ada keinginan untuk berteman, berorganisasi, berpacaran, dan menikah; peluruhan dan reaksi terjadi pada idealisme dan impian kita, ada yang semakin kokoh dan ada yang melemah, ada yang bekerja keras menggapainya ada yang menyerah. Kampus adalah sebuah alam semesta yang berumur pendek, hingga tiba “Big Bang” selanjutnya, dimana label baru disematkan pada diri kita, yaitu sarjana.

Mari menghadap ke masa depan, sebuah kanvas kosong yang baru, mari berbicara mau jadi apa sekarang mau menggambar apa. Tentu memiliki materiil yang banyak, pasangan yang rupawan, dan keluarga yang harmonis adalah impian kita semua, mungkin ada beberapa yang juga ingin menambahkan kekuasaan, tapi saya berharap kita juga tidak lupa, untuk menambahkan pengabdian pada masyarakat, membangun bangsa, dan impian untuk menjadi orang yang bermanfaat pada daftar apa yang harus dikerjakan di masa yang akan datang. Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, berdasarkan ketuhanan menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat. Sebuah paradigma berfikir yang membedakan kita dengan ribuan bahkan jutaan sarjana lain, sebuah identitas. Disaat sedang berproses di luar sana, sesanti yang akan menemani idealisme kita, karena bakti kepada masyarakat adalah sebuah penawar sifat negatif, yang menyadarkan kita bahwa tidak sedikit orang yang masih menderita diluar sana dan yang paling penting untuk selalu menjauhkan kita dari rasa puas diri dan putus asa.

Tidak sedikit dari kita yang khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan, tidak akan mendapatkan kuliah pascasarjana atau tidak bisa berkarya. Buang perasaan negatif tersebut, kita memiliki sebuah modal yang paling besar, yaitu sebagai seorang pemuda, pemuda berpendidikan. Apabila tidak ada lapangan pekerjaan, buka lapangan yang baru jangan hanya mengeluh dan menunggu belas kasih. Tidak mendapatkan kuliah pascasarjana, refleksikan diri apakah gelar atau ilmu yang sebenarnya kita kejar, ilmu tidak datang dari tampat kuliah namun dari kemauan belajar, dan memiliki sebuah gelar bukan berarti kita otomatis menjadi lebih pintar.

Kita memiliki tugas untuk selalu bertanya lalu berusaha mencari jawaban dan mensintesa solusi pada sebuah masalah yang ditemui. Mari bertanya “Apakah sistem pendidikan, sistem pekerjaan, atau sistem pemerintahan seperti ini adalah yang terbaik? Atau ada alternatif lain?” ; “Apakah kita sudah melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kita dapatkan?” ; “Apakah kita lebih pintar dengan adanya smartphone dan teknologi? Atau malah semakin bodoh” ; “Apa kontribusi yang pernah kita berikan pada Indonesia, atau setidaknya kampus kita, bagaimana pada keluarga kita?” ; “Bagaimana kita bisa membangun Indonesia?”. Tanyakan kepada diri kita dan kepada orang lain, jangan takut untuk mengemukakan jawaban juga solusi kita pada pertanyaan dan masalah yang akan datang.

Saya akan menjawab pertanyaan yang sering saya dapatkan, yaitu mengapa memilih Fisika? Jawabannya sederhana, karena Fisika adalah ilmu yang mempelajari seluruh isi alam semesta, dari yang paling kecil, lebih kecil dari proton yaitu quark, hingga alam semesta itu sendiri. Setidaknya dengan mengetahui hal-hal tersebut saya tidak bisa ditipu, mungkin bisa membuka bisnis, tinggal memilih bagian mana yang ingin dijadikan bisnis. Terima kasih Fisika UNPAR atas pola pikir yang telah ditanamkan.

Rekan-rekan wisudawan/wisudawati,

Izinkan saya untuk mewakili rekan-rekan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengantarkan kita pada kesempatan ini. Kepada orang yang paling berharga yaitu Mamah, Papah dan keluarga yang selalu memberikan dukungan terbesar, tidak bosan mengorbankan waktu, tenaga, dan harta sehingga kita mendapatkan gelar ini. Kepada pimpinan UNPAR, bapak/ibu dosen, seluruh staf dan tenaga kependidikan, para pekarya, dan satpam yang telah membina, membimbing dan mendukung seluruh proses yang kami lalui. Kepada teman-teman, kekasih, rekan pengurus lembaga kemahasiswaan yang telah mewarnai perjalanan dan petualangan kita selama ini. Terima kasih, terima kasih, terima kasih UNPAR, kami wisudawan/wisudawati mohon pamit untuk berkarya.

Tuhan memberkati, sampai jumpa di masa depan.

HIDUP UNPAR! HIDUP BANGSA INDONESIA!

-Muhammad Arifin Dobson