Home / Berita Terkini / P3M Unpar, Semangat “ Sabilulungan ”
sabilulungan

P3M Unpar, Semangat “ Sabilulungan ”

“Hapunten nya pak, saumpamina mahasiswa-mahasiswi ti Unpar henteu nyumpingan ka desa urang deui ngayakeun kagiatan P3M, abdi pribados mah ngaraos hariwang engkena masarakat desa moal migawe bareng, moal gotong-royong, sareng teu aya sabilulungan deui.” (Maaf ya pak, seandainya mahasiswa-mahasiswi dari Unpar tidak datang ke desa kami lagi mengadakan kegiatan P3M, saya pribadi merasa khawatir nantinya masyarakat desa tidak akan bekerja sama, tidak akan gotong royong, dan tidak ada tolong-menolong lagi).

Kalimat tersebut merupakan kekhawatiran Ade Wahyu, Kepala Dusun Ciseupan, Desa Sindulang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang saat kegiatan evaluasi bersama yang diadakan oleh P3M bersama masyarakat desa Sindulang, Jumat (26/1).

Desa Sindulang merupakan salah satu desa di kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, yang letaknya cukup terpencil dengan fasilitas angkutan umum yang jumlahnya sangat terbatas.

Namun, berdasarkan apa yang disampaikan Pak Ade, semangat sabilulungan pada masyarakat desa sepertinya semakin berkurang. Hal ini mungkin disebabkan pengaruh kehidupan kota karena memang sudah banyak penduduk setempat yang bekerja atau belajar di kota.

Selain itu, bantuan dana atau sumbangan barang-barang material sering mereka dapatkan dari pihak pemerintah, pihak swasta, atau dari perguruan-perguruan tinggi yang mengadakan kegiatan kuliah lapangan di sana.

Memang, pembangunan fasilitas di desa ini sedikit demi sedikit terus mengalami kemajuan. Namun, yang disayangkan adalah semangat sabilulungan masyarakat desa semakin berkurang.

P3M Unpar periode 3 hingga 21 Januari 2018 diselenggarakan kembali oleh Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) – Fakultas Filsafat Unpar di desa Sindulang. Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas dan program studi.

Selama kegiatan, peserta didampingi oleh beberapa dosen pendamping lapangan (DPL) yang juga memiliki bidang keilmuan dan keahlian yang beraneka ragam yang bisa saling melengkapi dalam proses di lapangan.

Berdasarkan pengalaman, P3M Unpar memutuskan untuk selalu fokus pada pembangunan mentalitas manusia, yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan daripada pembangunan fasilitas. Pembangunan fasilitas bukanlah tujuan, melainkan sarana bagi pembangunan mentalitas manusianya. Namun, tetap tidak dapat disangkal bahwa yang sering menjadi ukuran keberhasilan program bagi masyarakat desa adalah pembangunan fasilitas. Oleh karena itu, keseimbangan antara keduanya tetap perlu dijaga dalam proses kegiatan P3M Unpar.

Ada empat proyek dusun yang diselesaikan dalam kegiatan P3M Unpar periode ini. Di dusun satu atau dusun Sindulang, ada pembangunan jalan arteri dusun yang sering digunakan oleh masyarakat untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dan pertanian dan untuk kegiatan sehari-hari.

Di dusun dua atau dusun Ciseupan, tepatnya di RT 03, RW 04, ada perbaikan jalan menuju ke pemakaman umum dan daerah perkebunan tempat warga bekerja. Pada mulanya jalan ini adalah jalan tanah setapak yang menanjak sehingga ketika hujan turun jalan ini menjadi sangat licin dan berbahaya. Di dusun tiga atau Dusun Jambuaer, tepatnya di RT 01, RW 05, ada perbaikan tempat wudhu dan pembangunan toilet mushola yang selalu digunakan oleh masyarakat dusun bersembahyang.

Di dusun empat atau dusun Leuwiliyang, tepatnya di RT 02 dan RT 03, RW 07, ada perbaikan jalan gang yang sering dipakai untuk lalu lalang warga dusun sehari-hari. Empat proyek ini sebenarnya merupakan proyek pembangunan fasilitas yang seharusnya didanai oleh dana desa yang diberikan oleh pemerintah. Namun, dalam proses P3M, proyek ini menjadi sarana untuk membangkitkan kembali semangat sabilulungan dalam diri masyarakat desa.

Dalam setiap proses pengerjaan proyek, mahasiswa peserta P3M Unpar selalu melibatkan masyarakat secara penuh, mulai dari proses menganalisa urgensi proyek, perencanaan proyek, pendanaan proyek, pelaksanaan proyek sampai pada penyelesaian proyek. Jadi dalam kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa, tetapi juga masyarakat yang mengalami proses belajar.

Mahasiswa belajar untuk membangun kepercayaan diri dalam bekerja bersama masyarakat desa. Masyarakat belajar untuk membangun kembali semangat sabilulungan. Dengan kehadiran para mahasiswa dan para DPL dalam program P3M Unpar, masyarakat desa menjadi bersemangat kembali melakukan kegiatan kegotong-royongan di desa mereka.

Pembangunan, pemberdayaan manusia dan pengembangan nilai-nilai budaya merupakan salah satu bagian dari visi dan misi Unpar. P3M Unpar sebagai salah satu kegiatan akademik di universitas ini mengemban tugas untuk mewujudkan visi dan misi universitas demi kesejahteraan masyarakat di bumi Parahyangan. [Koordinator akademik kegiatan P3M Unpar B. Ario Tejo Sugiarto, S.S., M.Hum.,]

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 20 Maret 2018)