Home / Berita Terkini / P3M Unpar: Dari Pendidikan Karakter Hingga Pengabdian kepada Masyarakat

P3M Unpar: Dari Pendidikan Karakter Hingga Pengabdian kepada Masyarakat

Program Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) menjadi wadah bagi mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), untuk tidak hanya sekadar mengabdikan diri kepada masyarakat. Mahasiswa juga didorong untuk belajar tentang pendidikan karakter. Belajar bagaimana mereka bisa menyesuaikan hidup selama 30-40 hari di desa. Belajar untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman yang lain. Bisa disimpulkan, mahasiswa belajar tentang pendidikan hidup.

P3M adalah program rutin yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) Unpar sejak tahun 2015. Mahasiswa yang mengikuti P3M akan tinggal di desa selama 30-40 hari. Pada 2 Juli – 10 Agustus lalu, telah diadakan kegiatan P3M di Desa Mekarsari, Kecamatan Selawi, Kabupaten Garut.

Ditemui tim Publikasi Unpar, Arnold staf P3M Unpar mengatakan bahwa kegiatan P3M ini tidak hanya tentang pengabdian kepada masyarakat, tetapi program pendidikan secara keseluruhan.

“Di dalam kelompok kecil, (mahasiswa) belajar bagaimana menyesuaikan dengan teman yang lain. Gimana (mahasiswa) bisa menyesuaikan. Bukan berarti belajar akademik. Tapi, belajar untuk pendidikan hidup,” terangnya.

Serupa dengan Arnold, Hanna staf P3M mengatakan bahwa program P3M dimaksudkan untuk mengaplikasikan apa yang didapat di kelas ke dalam aksi sosial. Dengan ikut serta dalam kegiatan P3M, mahasiswa bisa mengaplikasikan serta mengabdikan apa yang sudah mereka dapatkan selama perkuliahan, baik  pendidikan akademis maupun nonakademis.

“Apa yang didapet waktu kuliah diaplikasikan di lapangan,” katanya.

“Mengaplikasikan ilmu di kelas. Belajar bersama masyarakat. Pendidikannya itu lebih banyak didapat selama di lapangan. (Belajar) pendidikan sosial juga,” tambahnya.

Pada periode ini, jumlah mahasiswa yang mengikuti program sebanyak 20 orang, dosen pendamping lapangan 12 orang, serta staf P3M sebanyak 4 orang. Mahasiswa dibagi ke dalam kelompok yang mana setiap kelompok bertanggung jawab untuk satu dusun. Setiap dusun beranggotakan 6-7 mahasiswa. Dalam hal ini, di setiap dusun dilakukan sebuah proyek kelompok. Adapun proyek individu dilakukan di tingkat RT.

Pada kesempatan ini, tim P3M memasuki desa baru, di Garut. Sebelumnya, agenda kegiatan berfokus pada pembangunan desa dalam segi fisik (bangunan, dan lainnya). Kali ini, agenda P3M yang dilakukan mahasiswa lebih berfokus pada program pemberdayaan masyarakat.

Adapun tiga topik utama dalam penyelenggaraaan P3M kali ini meliputi pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. “Kebanyakan programnya pemberdayaan, penyuluhan. Tapi, ada satu program juga yang bikin pembakaran sampah,” kata Arnold menjelaskan secara singkat tentang proyek mahasiswa selama ikut P3M.

Melalui kegiatan P3M, diharapkan mahasiswa dapat mengembangkan karakter mereka menjadi lebih baik.