Home / Berita Terkini / Nasib Pendidikan Tinggi Pasca Pandemi

Nasib Pendidikan Tinggi Pasca Pandemi

Genial, Opini – Pandemi Covid-19 diyakini sebagai krisis global terbesar abad ini. Konsekuensinya bukan hanya menyerang sistem kesehatan masyarakat, tetapi juga berimbas pada ekonomi dan pendidikan. Pada sisi yang lain, pandemi Covid-19 membuka harapan akan kerjasama tanpa batas lintas generasi untuk bersama mencari solusi agar bisa keluar dari krisis ini.

Pandemi ini menjadi bukti bahwa kehidupan adalah sebuah jejaring ekosistem yang saling bergantung. Peluang yang sama juga menjadi perhatian dunia pendidikan untuk memikirkan kembali bagaimana mendidik generasi pasca pandemi. Krisis ini harus diakui membuat para pendidik juga ikut bergulat dengan model alternatif untuk dapat terhubung dengan mahasiswa dalam ruang digital dan metode pembelajaran yang semestinya diberikan kepada mahasiswa.

Indonesia tidak luput dari pandemi. Krisis ini membuat banyak sektor berpikir keras untuk mengatasi risiko terburuk, termasuk sektor pendidikan. Apa dampaknya terhadap pendidikan tinggi di Indonesia pasca pandemi? Fakta yang tak terelakkan bahwa, mayoritas mahasiswa merupakan generasi yang tumbuh di dunia yang benar-benar global. Generasi teknologi, di mana segala bentuk kesadaran akan identitas dan ekspektasi hidup ditentukan oleh komunikasi instan sebagai cara hidup media sosial. Iklim ini yang kemudian memaksa dunia kampus untuk memberi perhatian dan anggaran lebih bagi ketersediaan plarform pembelajaran digital dan perkuliahan dengan mekanisme daring.

Situasi pandemi membuat kebanyakan lembaga pendidikan tinggi mungkin bertanya-tanya, bagaimana mengubah sistem pendidikan agar mahasiswa siap dengan kondisi apapun yang terjadi pada masa depan? Pendidikan tinggi harus menempatkan proses akademik dalam kerangka mendidik umat manusia untuk menjadi komunitas humanum yang saling terhubung dan bekerja melalui kolaborasi global. Konsekuensi langsung adalah para pendidik harus bergerak ke arah memfasilitasi pengembangan kualitas mahasiswa sebagai anggota masyarakat yang memiliki kontribusi terhadap perubahan.

Fokus pada Keterampilan Manusia

Industri masa kini diciptakan berbasis teknologi dan menuntut keterampilan manusia berkembang lebih cepat. Pendidik dan pemimpin pendidikan tinggi harus focus pada kompetensi lulusan yang dibutuhkan seiring pola pertumbuhan yang fleksibel dan mendukung karir profil lulusan. Mahasiswa didorong harus terampil mendekati masalah dari banyak perspektif, menumbuhkan dan mengeksploitasi daya kreativitas imajinatif, terlibat dalam komunikasi yang kompleks, dan memanfaatkan kemampuan berpikir kritis.

Keterampilan itu antara lain: kreativitas, Imaginatif, abstraksi., komunikasi dan kolaborasi, empati dan kecerdasan emosional, dan mampu bekerja efektif secara kolektif tanpa mempersoalkan identitas. Model Integrated curriculum menjadi peluang terbaik dalam mengkombinasikan semua disiplin ilmu untuk berpikir dan bekerja lintas batas dan generasi. Konkretnya, keahlian vertikal (disiplin ilmu sesuai minat/jurusan mahasiswa) dikombinasikan dengan pengetahuan horizontal (disiplin lintas bidang di luar jurusan yang diminati mahasiswa).

Digitalisasi Menjadi Keharusan

Situasi pandemi ini juga ‘memaksa’ pendidikan tinggi (faktanya mulai dari pendidikan anak usia dini) untuk memanfaatkan serangkaian platform pembelajaran digital (e-learning) sehingga transfer ilmu mudah diakses oleh mahasiswa dimana pun mereka berada. Kita mungkin tidak dapat lagi mengandalkan ruang kelas di saat pandemi karena pembatasan sosial dianggap menjadi salah satu solusi untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Namun, kebutuhan akan transfer ilmu dan capaian akademik tidak boleh meyerah terhadap kondisi pandemic. Ada kebutuhan yang tidak dapat disangkal untuk mengembangkan kompetensi digital dengan fasih dan bertanggung jawab.

Analisis The Wall Street Journal menemukan bahwa lebih dari 40% pekerja manufaktur sekarang memiliki gelar sarjana. Pada 2022, industri diproyeksi mempekerjakan lebih banyak lulusan perguruan tinggi daripada pekerja dengan pendidikan sekolah menengah (Global Economic Forum). Alat pembelajaran berbasis teknologi Artificial Intelligece (AI) memiliki potensi luar biasa untuk mempersonalisasi pendidikan, meningkatkan kesiapan sistem pendidikan, akses perguruan tinggi ke masyarakat dan dunia industri, meningka tkan kualitas lulusan, bahkan diprediksi mempersempit kesenjangan sosial-ekonomi dan SARA.

Kolaborasi Sektor Swasta dan Pemerintah

Langkah cepat kemajuan pendidikan tinggi mengadaikan kolaborasi koprehensif antara sektor swasta dan pemerintah yang meliputi kebijakan, akses, program, dan jangkauan layanan pendidikan. Sektor swasta, pemerintah, pendidik, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama memberikan banyak peluang bagi lulusan perguruan tinggi untuk diterima oleh pasar kerja dan pelatihan berkelanjut untuk tetap bertahan di dunia kerja.

Sebagai contoh, perguruan tinggi harus terus melakukan inovasi sumber daya manusia, manajemen kepemimpinan, dan desain program jurusan yang  relevan. Kolaborasi juga harus terafiliasi  dengan riset perguruan tinggi, tuntutan peradaban, kebutuhan socio-entrepreneurship, dan keseimbangan ekologis.

Ketika pandemic menggerogoti revolusi peradaban, kemajuan yang tak terelakkan dari teknologi terus mengubah ruang sipil dan dunia kerja. Sistem pendidikan tidak boleh terputus dari kebutuhan ekonomi dan masyarakat global. Masa depan menuntut sistem pendidikan tinggi yang dinamis dan dapat beradaptasi dengan tekonologi.

Model pendidikan harus beradaptasi untuk membekali setiap generasi dengan keterampilan untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif, kohesif, dan produktif. Beberapa pekerjaan yang dianggap tidak efisien dan efektif akan hilang dengan sendirinya, ekonomi bergerak sangat cepat, dan pendidikan tinggi harus mampu menyiapkan kualitas generasi (lulusan) yang kompeten dan terampil untuk saat ini dan masa yang akan datang. [*]

Willfridus Demetrius Siga, S.S., M.Pd

Dosen Fakultas Filsafat – Lembaga Pengembangan Humaniora – Universitas Katolik Parahyangan Bandung

Sumber: Genial.id, 10 Mei 2020