Home / Berita Terkini / Mojang Kota Kembang dari Unpar dan Regenerasi Pelestari Budaya

Mojang Kota Kembang dari Unpar dan Regenerasi Pelestari Budaya

Pasanggiri Mojang Jajaka atau Moka Bandung merupakan ajang pemilihan generasi muda unggulan Kota Bandung untuk menjadi Duta Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Kegiatan tahunan yang diikuti oleh peserta dengan rentang umur 17-24 tahun ini bertujuan untuk meregenerasi pemuda sebagai penggerak kebudayaan dan kepariwisataan Kota Bandung, serta menjadi representasi generasi dengan citra positif di kalangan masyarakat agar nilai kebudayaan Kota Bandung dapat ditingkatkan dan lebih ramah terhadap kalangan masyarakat yang lebih luas. Moka terpilih akan menjadi wajah yang menyambut tamu-tamu Kota Bandung selama satu tahun. 

Pada Pasanggiri Mojang Jajaka Bandung 2019, salah seorang mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Alma Zoraya Laksana, berhasil terpilih menjadi Mojang Wakil 2 Kota Bandung dari 12 finalis Mojang Bandung 2019. Pemilihan pada acara Grand Final Pasanggiri Mojang Jajaka diselenggarakan pada Sabtu (26/09), bertempat di Harris Hotel & Convention Festival Citylink, Bandung. Acara mengundang Kevin Liliana (Miss International 2017) sebagai salah satu juri Moka 2019.

Mahasiswi Program Studi Matematika Ilmu Aktuaria yang akrab dipanggil Alma ini memiliki passion di bidang pageant dan modeling sejak menginjak bangku SMA. Namun keinginannya untuk mengikuti Moka baru dapat terpenuhi ketika memasuki dunia perkuliahan karena adanya beberapa keterbatasan yang mengharuskan Alma menunda pendaftarannya. “Pas masuk kuliah aku sudah lebih siap, makanya langsung ikut,” jawab Alma dalam wawancaranya dengan Tim Publikasi. 

Persiapan Panjang

Persiapan yang memakan waktu hampir dua bulan lamanya tidaklah mudah bagi Alma. Selain proses penyisihan hingga grand final perlombaannya yang rumit dan panjang, pembekalan yang diberikan juga cukup padat. Menurut Alma, proses yang paling menantang adalah uji public speaking. Para peserta dipacu untuk dapat menghadapi masyarakat dengan berbagai macam sudut pandang dengan mindset yang kuat. 

Masyarakat umum memiliki ekspektasi tinggi terhadap peserta bahwa Moka harus berwawasan luas, pintar, luwes dan memiliki penampilan menarik. Hal ini menimbulkan tekanan bagaimana untuk dapat memenuhi ekspektasi tersebut. Selain itu, lahir dan besar di Bandung, Alma mengaku Bahasa Sunda merupakan hal yang masih menjadi kendala saat menjalani proses pasanggiri. Walaupun demikian, Alma tetap giat untuk memperdalam kemampuan berbahasa Sundanya. “Pesanku, coba dulu dibiasakan. Nanti juga jadi lancar,” ungkap Alma.

Dibutuhkan kesiapan mental dan fisik yang memadai agar dapat menjalankan seluruh prosesi penyisihan dan layak untuk menyandang status Mojang dan Jajaka. Perjalanan yang harus dilalui peserta hingga grand final dimulai dari Tahap Penyisihan babak pertama. Pada tahap ini, peserta harus melalui uji public speaking dan wawancara. Hal ini ditujukan untuk dapat melihat kemampuan praktis dan kepribadian baik yang harus ada dalam seorang Mojang ataupun Jajaka.  

Tahap selanjutnya adalah Pra-Karantina, di mana peserta diberikan pembekalan mengenai parameter penjurian dan materi kebudayaan dan kepariwisataan Tanah Sunda. Materi yang diberikan merupakan hal-hal keseharian, seperti menyanggul untuk Mojang, berpakaian khas Sunda, dan juga pembekalan Bahasa Sunda. Selain itu, dalam tahap Pra Karantina, peserta juga dilatih kemampuannya dalam Berbahasa Inggris. Pra-Karantina memakan waktu paling lama dari seluruh tahap, yakni selama 1 bulan setengah. 

Kemudian pembekalan yang telah diberikan kepada peserta diuji kembali pada tahap Karantina. Peserta diharuskan untuk melewati uji story telling, uji pengetahuan Kota Bandung, dan biantara (pidato Bahasa Sunda). Tahap ini menjadi tahap penyisihan terakhir sebelum grand final dari Pasanggiri Mojang Jajaka Bandung.

Aktif di Kampus

Alma yang sibuk dengan pemilihan Moka tetap aktif dalam menjalankan kegiatan internal di Unpar. Saat ini, Alma turut berkegiatan dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Parahyangan English Debate Society (UKM PEDS), organisasi bakti sosial seperti Ibu Belajar Matematika, juga menjadi wakil humas dalam acara Gathering Matematika. Alma pun menunjukkan apresiasinya terhadap lingkungan yang diciptakan di Unpar sebagai salah satu penunjang keberhasilannya di Moka 2019. “Kuliah di Unpar enak. Toleransinya tinggi karena ada berbagai macam latar belakangnya, mereka pun sangat mendukung aku untuk ikut Moka,” ungkap Alma.

Mayoritas peserta yang terpilih dalam Moka memiliki latar belakang, keahlian dan prestasi yang berbeda-beda. Beberapa ada yang merupakan anggota paskibraka, berprofesi sebagai model, atau murid yang pernah memenangkan olimpiade ataupun perlombaan akademik lainnya. Namun hal tersebut tidak menghalangi rasa percaya diri Alma. Kebalikannya, Alma mendapatkan kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan mengajarkan satu sama lain. “Kalau sudah kepingin ikutan, langsung lakukan!” pesan Alma, “Dan kalau sudah mencoba, harus all out. Jangan takut salah dan jangan minder.” (MGI/DAN)