Home / Berita Terkini / Model Matematika, Solusi Masalah Kehidupan

Model Matematika, Solusi Masalah Kehidupan

Presiden Joko Widodo memiliki visi membentuk Indonesia menjadi poros maritim dunia. Berbagai komitmen untuk mencapai tujuan tersebut sudah dicanangkan. Salah satunya ialah mendorong pengembangan infrastruktur pada bidang maritim yakni dari pembuatan tol laut, pelabuhan, hingga pariwisata maritim.

Untuk merencanakan proses pembangunan tersebut, dibutuhkan sejumlah orang yang ahli dalam bidangnya, antara lain ahli yang piawai dalam memodelkan suatu masalah, khususnya terkait dengan bidang kemaritiman. Untuk dapat memodelkan suatu masalah kemaritiman, para ahli terlebih dahulu harus dapat membuat sistem praktis dengan perhitungan yang akurat.

Kita juga harus membiasakan diri membangun suatu model, dimulai dari model-model yang sederhana, misalnya membangun model yang didasarkan pada hasil pengamatan dari kecepatan gerak binatang atau gaya yang bekerja pada tali gantungan baju. Setelah terbiasa, lambat laun kita akan mulai menguasai proses pemodelan hingga yang rumit sekalipun. Proses pemodelan akan membentuk pola pikir menjadi lebih logis dan terstruktur.

Pemodelan tidak hanya dapat digunakan untuk sebatas ilmu pengetahuan, melainkan pada berbagai pekerjaan dalam kehidupan. Contohnya, proses perencanaan keuangan atau pengambilan keputusan berdasarkan analisis biaya, tenaga, dan waktu.

“Workshop”

Untuk memberikan pemahaman mengenai pemodelan matematika, Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengundang Dr. F. P. H. van Beckum, yang biasa dipanggil Frits, untuk memberikan workshop mengenai pemodelan dasar. Frits bekerja sebagai dosen di Universitas Twente, Belanda, hingga pensiun pada 2005. Bidang risetnya terkait dengan ilmu fisika matematis, misalnya prediksi keadaan yang akan terjadi pada Laut Jawa apabila Gunung Krakatau meletus kembali.

Selain itu, beliau menyinggung tentang pemodelan Proyek Garuda, sebuah proyek pembangunan tanggul raksasa “Giant Sea Wall” dan reklamasi pantai Jakarta.  Efek rumah kaca menyebabkan permukaan laut naik setinggi 20,3 sentimeter sejak tahun 1880. Apabila pola kenaikan ini tetap berlangsung, sebagian kota Jakarta diprediksi akan tenggelam pada 2030.

Dalam workshop yang diselenggarakan selama tiga hari pada 5-7 Juli 2017, Frits memberikan beberapa konsep penting tentang kecepatan, percepatan, dan tekanan. Proses perpindahan kalor pada secangkir kopi terhadap suhu ruangan dan yang terjadi dalam suatu termos dipaparkan sebagai model awal dalam workshop ini.

Frits juga memperkenalkan perpindahan kalor pada penukar panas yang dipakai pada kulkas, kilang minyak, atau pabrik kimia. Konsep lain yang dibahas yaitu pembersihan suatu bak yang airnya tercemar dengan mengalirkan air bersih dari atas bak dan mengeluarkan air kotor dari bawah bak. Gaya yang terjadi pada gantungan baju, tiang penopang (truss) dalam gunting, hingga jembatan merupakan pemodelan matematika lain yang juga dibahas dalam workshop tersebut.

Pada sesi terakhir, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi tugas menyelesaikan proyek pemodelan sederhana. Beberapa topik pemodelan yang dikerjakan di antaranya perpindahan kalor dari ketel listrik ke air yang dipanaskan; gaya-gaya yang terjadi pada jembatan, seperti pada rel kereta api Argo Parahyangan, yang berbentuk melingkar pada bagian bawahnya; serta penjelasan tentang tekanan yang terjadi pada bagian atas, tengah, dan bawah Monas.

Membekali mahasiswa agar dapat piawai dalam pemodelan dengan membangun model matematika untuk menyelesaikan masalah nyata menjadi bagian dalam kurikulum Prodi Matematika Unpar. Berdiri sejak 1993, prodi tersebut memiliki dua konsentrasi yang bersifat aplikatif yaitu Matematika Industri serta Rekayasa Keuangan dan Asuransi. Alumni Prodi Matematika Unpar telah banyak berkarya di berbagai sektor seperti industri, perbankan, asuransi, pendidikan ataupun yang melanjutkan studi baik di dalam maupun luar negeri.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 12 September 2017)