Home / Alumni / Mewujudkan Citarum Harum

Mewujudkan Citarum Harum

Sebagai sungai besar yang ada di Provinsi Jawa Barat, Sungai Citarum sempat mendapatkan perhatian internasional. Ini karena pencemaran yang terjadi di sungai yang menjadi nadi bagi masyarakat. Permukiman kumuh, perilaku membuang sampah ke perairan, pembuangan limbah industri dan peternakan, serta pola tani yang tidak berkelanjutan menjadi sebab-sebab utama pencemaran di Citarum. Kondisi menahun ini pun tampak belum mendapat penanganan yang menyeluruh dari pemerintah.

Hal tersebut mengundang perhatian Panglima Daerah Militer (Pangdam) III Siliwangi periode 2017 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), untuk bertindak. Melalui program Citarum Harum yang diinisiasi pada awal tahun 2018, tentara bersama rakyat bersatu memperbaiki kerusakan lingkungan di kawasan Citarum, dimulai dari mata air dan anak sungai hingga hilir, termasuk di tiga bendungan yang membendung sungai tersebut.

TNI juga menggandeng berbagai pihak dalam mendukung program tersebut, salah satunya Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).

Melihat pentingnya keikutsertaan akademisi dan praktisi dalam sinergi melestarikan alam Citarum, Center for Human Developments and Social Justice (CHuDS) Program Magister Ilmu Sosial Unpar mengadakan kegiatan seminar bertajuk “Membingkai Keterlibatan Lembaga Pendidikan (Tinggi) dalam Restorasi Sungai Citarum”.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu (16/5) di Mgr. Geise Lecture Theatre Unpar ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan masyarakat, seperti Panglima Kodam III Siliwangi dan jajarannya, Wantannas, perwakilan Keuskupan Bandung, akademisi dari dalam maupun luar Unpar, perwakilan pengusaha, pemerhati lingkungan, aktivis, Alumni SMA Don Bosco Padang, serta berbagai khalayak lain yang berbagi perhatian serupa terhadap kondisi Citarum.

Sinergi masyarakat

Dalam presentasinya selaku pembicara utama dalam seminar, Doni menjelaskan kondisi dari Citarum dan urgensi pelaksanaan Program Citarum Harum. Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh limbah masyarakat, pertanian, dan industri secara masif terbukti melalui data yang dikumpulkan oleh Kodam III Siliwangi.

Bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Doni yang saat itu menjabat Pangdam III Siliwangi mengerahkan elemen tentara untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam membersihkan Citarum agar harum kembali.

Setiap elemen masyarakat, khususnya di Jawa Barat, harus peduli dan berkontribusi bagi Citarum. “Mereka yang membantu Citarum adalah pahlawan-pahlawan bangsa, hari ini dan di masa yang akan datang,” tegas Doni yang disambut tepuk tangan hadirin.

Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama, “Informasi Empiris Citarum Harum,” yang dimoderasi Rektor Unpar Mangadar Situmorang PhD. Sesi ini dibuka dengan paparan dari Pangdam III Siliwangi Mayjen Besar Harto Karyawan berkaitan dengan pelaksanaan Program Citarum Harum hingga saat ini. Keberhasilan TNI dan rakyat membersihkan Citarum dari hulu hingga hilir telah membuktikan bahwa impian masyarakat Jawa Barat tidak mustahil.

“Bersama kita kembalikan harumnya Citarum. Kenapa? Semua dapat dilakukan, semua dapat kita lakukan, dan semua itu harus dapat aku lakukan,” begitulah motivasi bagi diri untuk menciptakan Citarum Harum yang disampaikan Besar.

Sesi pertama dilanjutkan dengan pemaparan oleh tiga pembicara dari berbagai bidang. Antonius “Ipong” Harso Waluyo Witono, pegiat lingkungan yang juga Komisaris PT Perkebunan Nusantara VIII menjelaskan bahaya kerusakan lingkungan di kawasan hulu Sungai Citarum akibat perilaku pertanian masyarakat yang tidak berkelanjutan. Pemaparan dilanjutkan oleh Ketua Kadin Kota Bandung Iwa Gartiwa, yang menekankan pentingnya keterlibatan pihak industri, termasuk pengawasan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dalam rangka menjaga kelestarian Citarum. Terakhir, pendiri PT. Bio Alam Lestari  Joko Sri Wisnu Murti memberikan solusi dalam mengatasi pencemaran limbah melalui penggunaan IPAL komunal.

Keterlibatan perguruan tinggi

Pada sesi kedua dengan topik “Keterlibatan Pendidikan Tinggi dalam Restorasi Citarum” yang dimoderasi oleh Dr. Stephanus Djunatan, tiga orang akademisi membagikan beragam sudut pandang.

Ketiga akademisi tersebut adalah Profesor Robertus Wahyudi Triweko, Profesor I Gede Wenten, dan Pius Suratman Kartasasmita PhD, yang berbagi pandangan ilmiah mengenai permasalahan multidimensi yang terjadi di Kawasan Sungai Citarum.

Keberhasilan Program Citarum Harum tidak akan bisa berkelanjutan tanpa adanya keterlibatan seluruh elemen masyarakat Jawa Barat, khususnya tindakan nyata dari insan pendidikan tinggi.

“Citarum adalah persoalan kita bersama; Citarum juga adalah aset kita bersama,” ujar Mangadar dalam pernyataan penutupnya.

Mengutip Rektor Unpar yang mendengungkan kembali jargon Pangdam III Siliwangi, “Kita bisa, kita harus bisa!”

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 5 Juni 2018)