Home / Berita Terkini / Merdeka: Unggul, dan Maju

Merdeka: Unggul, dan Maju

Sambutan Rektor pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan. Sabtu, 17 Agustus 2019

Saudara-saudara mahasiswa Unpar, mahasiswa Indonesia, dan seluruh sivitas akademika Unpar

Kita semua mengucapkan syukur atas hikmah kemerdekaan yang kita rayakan hari ini. Dengan penuh takwa kita meyakini bahwa proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta 74 tahun lalu adalah anugerah tak terhingga dari Allah yang maha pengasih atas perjuangan dan tumpah darah para pahlawan dan seluruh rakyat Indonesia pada masa itu. Dan selama 74 tahun perjalanan bangsa Indonesia sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat adalah juga hasil perjuangan dan usaha sadar dari pemerintah dan rakyat Indonesia dari masa ke masa. Kemerdekaan ini, dulu, sekarang, dan di masa yang akan datang, tidak akan pernah ada dengan sendirinya. Selalu dibutuhkan ketekunan, perjuangan, dan usaha sadar dan bersifat kolektif untuk mempertahankan, merawat, dan menjadikan kemerdekaan menjadi sungguh-sungguh anugerah bagi umat manusia, khususnya rakyat Indonesia.

Mahasiswa Unpar yang kami banggakan,

Arti dan makna kemerdekaan amat sangat fundamental dan sangat penting. Pertama, kemerdekaan adalah hakikat insan beradab. Itu menjadi hak asasi manusia. Maka setiap hal yang meniadakan kemerdekaan dan kebebasan manusia-manusia lain, itu adalah tindakan biadab, tindakan melawan adab dan keadaban. Kedua, manusia merdeka berarti memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri, memutuskan secara mandiri, bertindak secara otonom. Kata merdeka dengan demikian mengisyaratkan kapasitas, daya, kekuatan, kompetensi, baik secara fisik tetapi terutama secara pikir, rasio, bahkan emosi, hasrat, dan perasaan. Yang raganya terkungkung oleh jeruji, tidak memiliki ruang untuk bergerak; yang pikirannya kerdil, terpaku oleh hanya satu, dua, tiga kebenaran dan tidak mampu melihat kebenaran dan kebaikan yang lain; yang perasaan, emosi, hasratnya sudah terpaku, kaku, mati, dan tidak ada lagi gairah; tidak memiliki daya untuk merasa dan menyelami; tidak mampu dan tidak mau memuji yang indah, tidak mampu menghargai yang baik, dan tidak mampu membedakan yang benar, lebih benar, dan paling benar, maka mereka bukan orang-orang merdeka. Yang hanya mampu melihat mana yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang indah dan jelek kemerdekaannya masih rendah. Yang kemerdekaannya tinggi adalah mereka yang memilki kemampuan untuk mencari dan menentukan mana yang benar, lebih benar, dan paling benar.

Ketiga, manusia yang merdeka dan berkemampuan selalu mencari dan menciptakan pilihan-pilihan. Dengan kata lain, merdeka dan kemerdekaan hanya ada, dan mengada ketika ada pilihan-pilihan. Manusia-manusia yang tidak memiliki pilihan, berarti mereka masih terjajah, terbelenggu, tunduk pada pihak lain entah itu orang atau keadaan itu sendiri. Manusia yang memiliki lebih dari satu pilihan, mereka tidak hanya merdeka tetapi juga disebut orang maju dan unggul.

Keempat, manusia merdeka, berkemampuan, dan berkreasi selalu akan mengupayakan yang terbaik untuk diri sendiri, masyarakat, bangsa, dan dunia. Dengan demikian, manusia merdeka berarti memiliki kemampuan, memiliki kreativitas, dan selalu berorientasi pada kebaikan bersama.

Sivitas akademika dan para mahasiswa yang baik,

Dengan mengatakan merdeka dan kemerdekaan merupakan narasi-narasi aktif, proaktif, dan interaktif, maka kemerdekaan memiliki gairah, menggairahkan, menggerakkan, dan memajukan; maka setiap orang merdeka hendaknya terus menerus meningkatkan kemampuannya, meningkatkan kecerdasan, mempertajam hati nuraninya, dan sekaligus memperkuat tali silaturahim. Lembaga pendidikan tinggi, seperti halnya Universitas Katolik Parahyangan, mengemban tugas dan amanat itu. Kita semua, para mahasiswa, para dosen, dan tenaga kependidikan, secara bersama-sama meningkatkan kemampuan untuk berpikir kritis dan berkreasi dalam mencari, menggali, mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebenaran dalam rangka menghasilkan pilihan-pilihan yang lebih baik bagi kehidupan bersama.

Untuk ikhtiar-ikhtiar semacam itu, maka kita pun wajib menjaga kemerdekaan setiap orang; menghargai kebebasan pikir dan kreasi; dan mendukung setiap usaha mencari kebenaran, kebaikan, keindahan pada tingkatan komparatif – lebih dan jika mungkin tingkatan superlatif – paling. Kemerdekaan harus dijaga, kebebasan harus dirawat, dan kreativitas baik harus selalu dipelihara.

Itulah yang mengilhami visi dan misi Unpar untuk menjadi komunitas akademik humanum; yang tidak saja bergulat dengan pencarian dan penyebarluasan kebenaran, tetapi yang di dalam pencarian tersebut kita satu sama lain saling menghargai dan saling mendukung, silih asih, silih asah, dan silih asuh. Dan kebenaran-kebenaran akademik yang ditemukan, yang dirumuskan, dan dikembangkan tersebut semata-mata ditujukan untuk kebaikan bersama (bonum commune). Hendaknya para dosen, pegawai, dan para mahasiswa tidak terpukau oleh kesalahan atau kekurangan yang ada pada setiap orang. Sebaliknya, kita harus lebih bergairah melihat, mendukung, dan menghargai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang ada. Bergairah untuk lebih baik, lebih benar, dan lebih maju.

Kondisi demikian akan menjadi alam, suasana, situasi atau konteks yang mampu melahirkan sumber daya manusia Unpar yang unggul dan itu menjadi kunci menuju Unpar yang maju, terhormat, dan menjadi rujukan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dan rujukan dalam pengelolaan perguruan tinggi.

Merdeka berarti hidup, bergairah, aktif dalam semangat untuk saling memampukan, mencipta pilihan-pilihan, dan memberi yang terbaik untuk diri sendiri, orang lain, masyarakat, bangsa, dan dunia.

Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka. Unggul. Maju.