Home / Opini / Meraih Jiwa Parahyangan (Surat Terbuka bagi Mahasiswa Muda)

Meraih Jiwa Parahyangan (Surat Terbuka bagi Mahasiswa Muda)

Teruntuk segenap insan muda Parahyangan.

Proficiat bagi kalian semua yang telah bergabung menjadi mahasiswa Unpar! Selamat menempuh kehidupan baru dengan menyandang gelar selaku mahasiswa. Maha – kata ini penting digarisbawahi – menandakan bahwa kalian semua kini lebih dari sekedar siswa biasa, baik di tingkat dasar maupun menengah. Kalian disebut sebagai mahasiswa, bukan soal ilmu yang akan kalian dapatkan semata, maupun kegiatan ‘kuliah’ yang akan jadi makanan sehari-hari saja, namun karena muncul harapan agar kalian mampu berkembang jauh ke depan, menjadi pribadi yang utuh, kritis, dan dinamis, menjadi bakti bagi orang lain.

Tulisan ini merupakan kumpulan kecil dari pemikiran saya setelah saya menyelesaikan studi sarjana di Universitas Katolik Parahyangan. Tentu saja buah pikir ini datang lebih banyak dari pengalaman saya sendiri, namun saya harap tulisan ini mampu mendorong kalian, para insan muda Parahyangan, untuk berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan selama kalian berproses di Unpar.

Waktu berlalu cepat

Sepertinya baru kemarin saya memasuki gerbang Ciumbuleuit, mengenakan baju putih hitam, membawa semangat sebagai mahasiswa baru. Jujur saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa waktu itu, selain kegembiraan bahwa saya akan memasuki dunia yang baru. Waktu ternyata berjalan dengan sangat cepat. Kegiatan perkuliahan yang dahulu sangat menarik menjadi keseharian. Berbagai kepanitiaan dan kegiatan kemahasiswaan berhasil saya lewati. Dan kini saya dan kawan-kawan telah mencapai batas hidup kami sebagai mahasiswa.

Teman-teman, waktu berlalu dengan sangat cepat. Mungkin bagi kalian ada yang ingin lulus sesegera mungkin dengan berbagai alasan, mungkin pula ada yang ingin menimba pengalaman dan ilmu selagi masih bisa menyandang status mahasiswanya. Keduanya sama-sama baik, sama-sama bermanfaat. Satu hal yang penting adalah jangan sampai waktu dan kesempatan itu menjadi sia-sia. Jangan pernah berpikir bahwa waktumu masih banyak! Pikirkan bahwa waktu itu terbatas dan penuh prioritas. Itulah, yang menurut saya, menjadi tantangan besar sebagai mahasiswa.

Jangan takut berekspresi!

Satu hal yang sangat saya sayangkan dari diri saya sendiri adalah ketakutan saya untuk berekspresi selama menjadi mahasiswa. Andai saja waktu bisa diulang, saya akan perbanyak aktivitas kreasi saya, mencoba berbagai hal baru selama saya berkuliah di Unpar. Tentunya kegiatan yang positif dan kreatif tidak hanya terbatas di dalam Kampus Jingga saja, namun bisa dilakukan di dalam berbagai komunitas di luar sana. Saya ingin bermain musik, saya ingin menjadi relawan, saya ingin berolahraga, saya ingin mendalami fotografi, banyak hal yang seharusnya bisa saya ambil, namun baru saat ini saya sadari.

Saya tidak ingin kalian sebagai mahasiswa mengambil kesempatan ini hanya untuk kuliah, kuliah, dan kuliah! Proses pembelajaran bisa dilakukan di mana saja, apalagi selama kalian masih menjadi mahasiswa. Mulailah untuk memperkaya wawasan di luar bidang ilmu kalian! Bicaralah tentang perkembangan teknologi, politik, sosial, masih banyak lagi. Ketika kalian merasa ingin berkontribusi secara positif, jangan takut untuk mencoba! Ekspresikan diri kalian lewat seni, diskusi, dan sebagainya. Ingat, jika kalian takut mencobanya sekarang, saya jamin tidak akan ada lagi kesempatan sebaik semasa kalian masih berstatus mahasiswa.

Berani kritis, berantas apatisme

Mungkin diantara kalian mahasiswa ada yang pernah mendengar istilah ‘apatis’. Apatis adalah musuh besar kita. Apatis adalah sikap cuek, acuh tak acuh dengan keadaan dan kondisi sekitar. Sikap ini menumpulkan sikap kritis dan kepedulian kita sebagai akademisi muda. Ketika seseorang menjadi apatis, dunia hanya sempit bagi dirinya sendiri. Rasa sosial muncul hanya jika dibutuhkan saja – ketika berinteraksi dengan manusia lain. Akibatnya adalah muncul ego, mengedepankan kepentingan diri semata, tanpa adanya pertimbangan bagi orang lain dan masyarakat.

Padahal, membunuh apatisme itu sangatlah mudah. Semudah dengan keluar dari zona nyaman, eksklusivitas kalian sebagai seorang mahasiswa yang hanya ‘bertugas’ di Kampus untuk datang, duduk, dan pulang. Semudah untuk mengasah kritisisme kalian. Berani kritis tidak hanya soal bicara saja, tetapi berani mengambil tindakan nyata secara etis dan bertanggung jawab. Bisa saja kalian mulai datang dalam kegiatan diskusi dan organisasi kemahasiswaan atau bergabung dengan komunitas-komunitas sosial kemasyarakatan di luar kampus. Bisa saja kalian mencari, atau mengkreasi, kegiatan yang bermanfaat dengan kawan-kawan kalian. Pasti akan muncul sikap dan tindakan yang kritis dan positif dalam diri kalian – saya yakin akan hal itu.

Di akhir perjumpaan singkat ini, izinkan saya untuk menegaskan kembali orientasi kalian saat ini sebagai mahasiswa. Kalian menjadi mahasiswa bukan untuk berkutat dalam perkuliahan dan mencapai indeks prestasi setinggi langit semata. Kalian menjadi mahasiswa untuk menjadi manusia yang utuh dan dewasa, memahami ilmu dan memiliki pengalaman, agar siap mengamalkan ilmu kalian bagi masyarakat, bangsa, dan dunia. Nikmatilah masa-masa ini, biarkan semangat kalian sebagai akademisi muda yang penuh idealisme. Selamat berproses.

Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, Salam Mahasiswa!

Damar Ananggadipa – Alumnus Hubungan Internasional Unpar 2014, bergabung dalam Warta Himahi, Paduan Suara Mahasiswa Unpar, serta berbagai aktivitas kemahasiswaan dan komunitas lain.