Home / Berita Terkini / Meraih Akreditasi Unpar Unggulan

Meraih Akreditasi Unpar Unggulan

Bagi sebuah perguruan tinggi, akreditasi tidak hanya soal memamerkan kualitas belaka dan menarik lebih banyak calon peserta didik. Akreditasi menjadi bagian dari perwujudan visi dan misi suatu perguruan tinggi, bagaimana mimpi institusi diraih secara nyata melalui tata kelola pendidikan tinggi yang berkualitas. 

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menjadi salah satu perguruan tinggi swasta pertama yang mengajukan diri untuk diakreditasi. Dan setelah mengalami tiga kali akreditasi, Unpar berhasil meraih peringkat akreditasi ‘A’ dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 2017. 

Prestasi ini tidak lepas dari lewat kerja keras Tim Persiapan Akreditasi Unpar.  Selama satu setengah tahun, Tim yang dipimpin oleh Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D. dan Wakil Rektor Bidang Akademik Paulus Cahyono Tjiang Ph.D. berhasil mempersiapkan akreditasi dengan baik, sehingga Unpar dapat menjadi satu dari tiga perguruan tinggi swasta di Bandung yang terakreditasi A pada 2017. 

Dalam perbincangan singkat dengan Tim Publikasi Unpar, Ketua Pelaksana Persiapan Akreditasi Unpar Paulus Cahyono Tjiang Ph.D. mengemukakan proses di balik tercapainya akreditasi A, sekaligus bagaimana Unpar harus mempersiapkan diri menjadi perguruan tinggi yang unggul di masa mendatang.

Persiapan Matang

“Kami belajar dari proses persiapan akreditasi yang lalu,” jelas Paulus mengawali perbincangan. Berkaca dari pengalaman terdahulu, terdapat berbagai inovasi dalam penyelenggaraan persiapan akreditasi institusi Unpar. Untuk pertama kalinya, Tim Persiapan Akreditasi dikepalai langsung oleh Rektor. Tim kemudian dibagi dalam beberapa kelompok yang memiliki cakupan kerja yang spesifik, disesuaikan dengan instrumen akreditasi yang dibutuhkan. “Tugasnya mengisi borang dan membuat evaluasi diri sesuai bagian-bagiannya,” katanya.

Hasil data, baik borang maupun evaluasi diri, kemudian berpindah kepada Tim Proofreader. Tahapan ini menjadi sangat penting untuk menyinkronkan berbagai instrumen akreditasi yang telah dihimpun oleh tim. “Kalau ingin mendapatkan akreditasi yang baik, dokumen yang kita berikan harus konsisten,” tutur Paulus. Hal ini tentunya meliputi kesesuaian data yang dihimpun, dan juga bagaimana perguruan tinggi mengimplementasikan visi misi ke dalam instrumen sesuai standar akreditasi “Kalau kata orang: ada benang merahnya,” tegasnya. Apalagi, tambahnya, tim penilai telah terlatih untuk mengulas instrumen-instrumen tersebut. Alhasil, selain penting, tahapan ini menjadi salah satu tahapan paling lama dalam rangkaian persiapan akreditasi institusi Unpar.

Tahapan berikutnya adalah perbaikan dokumen-dokumen sesuai dengan standar penulisan, sebelum diteliti secara internal sehingga dihasilkan instrumen akreditasi yang mampu menceritakan kondisi Unpar secara aktual dan menyeluruh. Untuk menyerahkan instrumen-instrumen akreditasi, Unpar menjadi salah satu perguruan tinggi yang memanfaatkan Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO), sehingga dokumen yang telah dikirim dapat ditindaklanjuti dengan cepat diiringi tahapan visitasi oleh asesor akreditasi.

“Saya berani bilang,” ungkap Paulus bahwa, “95 persen instrumen kita sempurna.” Hal ini diakui pula oleh tim asesor pada saat visitasi akreditasi pada akhir tahun 2017. Kelengkapan data serta kolaborasi tim yang saling mendukung satu dengan yang lain menjadi penentu keberhasilan diraihnya Akreditasi A oleh Unpar. “Menurut saya itu buah kerja keras dari (tim) seluruhnya.”

Mempertahankan Kualitas

“Langkah ke depan sekarang lebih berat,” tutur Paulus berkaitan dengan tantangan Unpar di masa mendatang. Instrumen akreditasi institusi perguruan tinggi yang baru menuntut tata kelola universitas yang berkualitas. Oleh karenanya, diperlukan pembenahan pengelolaan universitas sesuai standar nasional. Selain itu, lanjutnya, “Data tetap perlu.” Kemudahan mengakses dan mengumpulkan data menuntut adanya peningkatan sistem informasi terpadu, khususnya menjelang akreditasi institusi berikutnya yang dijadwalkan pada tahun 2022.

Di sisi lain, dengan raihan Akreditasi A tersebut Unpar mendapat penghargaan dan tanggung jawab dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis, kini LLDIKTI) untuk membina perguruan tinggi yang belum terakreditasi, salah satunya melalui pelatihan dari Tim Persiapan Akreditasi Unpar. Ada hal menarik yang disampaikan oleh Paulus berkaitan dengan tanggung jawab tersebut.

Dimulai dari inisiatif untuk meraih akreditasi, salah satu perguruan tinggi yang dibina oleh Unpar mempersiapkan diri untuk mengajukan akreditasi BAN-PT. Unpar mendukung baik inisiatif tersebut. “Kami terima dengan senang hati,” kata Paulus, sembari menjelaskan peran Unpar dalam persiapan instrumen hingga tahapan visitasi oleh asesor, hingga akhirnya mencapai akreditasi institusi B. “Menurut saya luar biasa itu,” ungkapnya. 

Kini, Unpar kembali mendapat tanggung jawab untuk membina lima belas perguruan tinggi dari Lembaga Layanan Perguruan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, dengan harapan agar perguruan tinggi binaan meraih akreditasi lebih baik. Hal ini telah ditindaklanjuti oleh universitas melalui pelatihan dan pendampingan yang dipandu oleh para ahli Sistem Penjaminan Mutu Internal atau SPMI dari Unpar.

Sebagai penutup, Paulus mengharapkan tetap adanya sinergi dalam komunitas Unpar serupa dengan saat-saat persiapan akreditasi institusi yang lalu. Tidak hanya dalam akreditasi, namun semangat serupa juga diharapkan mampu ‘tertular’ dalam berbagai aktivitas antar civitas academica Unpar. “Saya berharap, semangat kita ketika bekerja untuk Unpar tetap dipertahankan,” jelasnya. Sehingga, Unpar yang unggul bukan hanya menjadi soal akreditasi, tetapi juga tercermin jelas dalam keseharian masyarakat akademiknya.