Home / Berita Terkini / Menjadi Terang dan Damai Bagi Sesama

Menjadi Terang dan Damai Bagi Sesama

Perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 membawa pesan penting bagi segenap masyarakat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Tidak hanya dalam menyongsong tahun yang baru, namun juga menyongsong berbagai perubahan sosial kebangsaan. Tema ‘Jadilah Damai dan Terang bagi Sekitarmu’ menjadi hidup dalam pesan yang disampaikan oleh Pastor B. Hendra Kimawan, OSC dalam Misa Natal 2017, Selasa (9/1) lalu.

Mengawali homili, Rama Hendra mengutarakan keprihatinannya terhadap berbagai fenomena pemecah belah persatuan yang saat ini tengah maupun berpotensi terjadi. Fenomena-fenomena ini menjadi ancaman bagi perdamaian bangsa dan dunia. Hal ini diperparah oleh ego pihak tertentu yang menggunakan berbagai cara untuk mencapai kepentingannya sendiri. “Kalau itu terus menerus terjadi, maka sukacita, damai tidak terjadi,” ujarnya.

Natal menjadi momen yang membahagiakan dengan kedatangan terang bagi bangsa-bangsa dunia. ‘Joy to the world the Lord has come’, begitulah Rama Hendra mengungkapkan. “Ada suatu kelegaan yang luar biasa, karena ada sesuatu yang bisa merubah kehidupan kita, yang seolah-olah tadinya tanpa harapan, sekarang penuh harapan,” tuturnya. Itu semua tidak lain karena Tuhan telah hadir di antara manusia. Natal sebagai wujud inkarnasi Allah menghasilkan relasi baru manusia dengan yang Ilahi. “Ketika itu terjadi, maka kehidupan menjadi sesuatu yang serasi,” lanjut Rama Hendra.

Sungguh disayangkan, relasi nan serasi yang sangat diharapkan hingga kini belum muncul. Kedamaian sejati masih jauh dari kehidupan kita. Harapan dari para pimpinan Gereja menyiratkan kenyataan yang kini terjadi. “Kedamaian yang sejati masih jauh. Ketidakdamaian (kini) terjadi.” Hal ini menjadi ancaman bagi kebhinekaan bangsa yang tengah dicederai oleh isu-isu primordialisme dan peranan pihak-pihak pemecah belah relasi dalam keberagaman.

Lebih lanjut, beliau mengutip perkataan penulis terkenal Jared Mason Diamond yang mengungkapkan bahwa bangsa bisa terancam eksistensinya apabila tatanan keluarga, pendidikan, serta keteladanan tokoh dan rohaniwan telah hancur. “Di tengah-tengah situasi itu, pesan Natal para pemimpin Gereja hendaknya menjadi bagian hidup kita.” Pesan itu, lanjutnya, tidak lain dan tidak bukan adalah menjadi pembawa damai. “Itu yang harus terus menerus menjadi komitmen kita.” Menjadikan damai Kristus sebagai pedoman bagi hati dan hidup adalah  kunci dalam mencapai perdamaian.

“Mari, kita semua menjadi pembawa damai,” pesannya. Pengembangan karakter yang baik, dengan mengedepankan prinsip learning to be dan learning to live, penting untuk membentuk manusia yang humanum. Hal ini menurutnya menjadi semakin aktual dalam nilai dan prinsip yang dianut oleh Unpar. “Spiritualitas dan nilai-nilai dasar Unpar (Sindu), kalau dihidupi, akan benar-benar menciptakan damai, membawa suatu perubahan, bagi hidup kita, bagi bangsa kita, bagi masyarakat,” tuturnya.

Dengan bergandengan tangan, bersatu menanggalkan egoisme, Rama Hendra berharap setiap sivitas akademika Unpar mampu mewujudkan Unpar dan dunia yang lebih baik dan penuh damai.