Home / Berita Terkini / Menjadi Oasis Keberagaman dalam Pesta Kemanusiaan

Menjadi Oasis Keberagaman dalam Pesta Kemanusiaan

Dalam sejarahnya, Indonesia dan keberagaman adalah dua hal yang tidak dapat dilepaskan. Orang-orang yang tinggal di wilayah Nusantara, dengan kekayaan geografisnya ini, beradaptasi sehingga tercipta keanekaragaman suku, bahasa, dan budaya. Belum lagi, masuknya pengaruh masyarakat dari luar wilayah geografis ini memberikan dampak sosial dan budaya bagi komunitas yang sudah ada, baik dalam bentuk agama, adat istiadat, maupun rupa budaya lain.

Hal ini tidak menyurutkan peranan kaum terpelajar, khususnya para pemuda, untuk mewujudkan keinginan akan persatuan Indonesia. Dimulai dari pendirian Boedi Oetomo pada 1908 serta peristiwa Kongres Pemuda pada 1928, mereka mengidentifikasi diri sebagai bangsa yang sama, Bangsa Indonesia, tanpa melihat keberagaman sebagai penyekat atas jalinan tersebut. Puncaknya, pada saat Indonesia merdeka dengan mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika yang dilandasi oleh semangat untuk menghargai hak-hak dan kewajiban dari setiap warga negaranya.

Universitas dan keberagaman

Universitas, sebuah komunitas akademik, mestinya mampu menciptakan iklim agar keberagaman digalakkan, bahkan dirayakan. Melihat dari peran dan tujuan pendiriannya, universitas menjadi wadah masyarakat untuk mengembangkan diri, ilmu, serta masyarakat.

Diharapkan insan-insan perguruan tinggi mampu menjadi pribadi yang bijak, terbuka pikirannya akan perbedaan yang ada dalam masyarakat. Lebih penting lagi, mereka diharapkan mampu menyebarkan semangat tersebut kepada orang lain guna menciptakan kembali komunitas-komunitas yang toleran.

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memahami pentingnya memelihara keberagaman di dalam proses pendidikan tinggi. Lingkungan Unpar yang penuh keberagaman, hadir di tengah masyarakat Sunda berkebudayaan luhur, menciptakan suasana serupa ‘mini Indonesia’. Di tengah-tengah masyarakat, Unpar menjadi oasis, dimana keberagaman tidak hanya dipelihara, namun juga berakar, tumbuh, dan berkembang.

Unpar membuka tangan bagi kehadiran sivitas akademika dari seluruh Indonesia, beserta dengan berbagai latar belakangnya. Hal ini sesuai dengan prinsip universalitas yang telah diusung Unpar sejak pendiriannya 63 tahun yang lalu.

Unpar menjunjung nilai-nilai kebhinnekaan sebagai salah satu nilai dasarnya. Bagi Unpar, nilai keberagaman atau pluralitas memiliki hubungan yang erat dengan kebenaran, suatu capaian yang ingin diperoleh dalam proses pendidikan tinggi. Karenanya, sejak pertama kali menginjak kaki di Kampus Jingga, mahasiswa Unpar telah dikenalkan pada semangat pluralitas, menghargai keberagaman yang tercipta dalam lingkungan akademik dan sosial universitas.

Humanifesta

Isu-isu terkait keberagaman saat ini menjadi sesuatu yang ramai diperdebatkan di tengah masyarakat Indonesia. Menyikapi fenomena tersebut, Unpar menyuarakan sikapnya terkait keberagaman melalui perayaan bertajuk Humanifesta.

Acara yang berlangsung bertepatan dengan momen Sumpah Pemuda pada Minggu (28/10/2018) ini menghadirkan Denny Chandra dan Nadira, penampilan seni dan lagu tradisional oleh Lingkung Seni Tradisional (Listra) dan Paduan Suara Mahasiswa (PSM Unpar), pembacaan sajak oleh Acep Zamzam Noor, serta bintang tamu Kelompok Suara Parahyangan (KSP) Band.

Puncak acara Humanifesta ditandai dengan pembacaan “Manifesto Unpar” oleh perwakilan dari senat universitas, dosen, pegawai, dan Persatuan Mahasiswa (PM) Unpar. Manifesto ini menjadi wujud nyata sikap Unpar sebagai masyarakat akademis yang menjunjung tinggi keberagaman sebagai bagian dari identitas Indonesia. Meskipun diiringi hujan, masyarakat antusias untuk mengikuti rangkaian acara yang penuh perayaan atas keberagaman.

Melalui Humanifesta, Unpar merayakan keberagaman Indonesia yang terkandung di dalam komunitas akademiknya. Pesta kemanusiaan ala Unpar dihadirkan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Unpar, sebuah “oasis keberagaman” dalam rupa mini-Indonesia, bertekad untuk terus menyebarkan semangat persatuan dalam masyarakat Indonesia.

 

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 6 November 2018)