Home / Berita Terkini / Menjadi Kartini Masa Kini

Menjadi Kartini Masa Kini

Perempuan abad 21 banyak yang mendapatkan pendidikan tinggi, ratusan ribu mengejar gelar sarjana, bahkan sampai dengan gelar Doktoral. Selain itu, tak sedikit perempuan menjadi pemimpin di Indonesia, bahkan menjadi presiden maupun menteri. Para perempuan itu mematahkan stigma bahwa kaum hawa bertanggung jawab hanya pada pekerjaan rumah tangga.

Memaknai hari Kartini, emansipasi menjadi kata yang melekat di benak perempuan saat ini. Namun, sosok Kartini dimaknai secara berbeda-beda oleh mereka. Bagi Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D., Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), sosok Kartini mengingatkannya pada emansipasi wanita yang tidak terbatas pada kesetaraan peran antargender, namun juga peningkatan kesadaran akan ‘siapa saya’.

Di masa sekarang ini, kemudahan berkomunikasi dan kecepatan arus informasi memudahkan para perempuan untuk memperjuangkan nilai, hak, dan kesempatan di dalam kehidupan sosial-politik-budaya.

Kepala Biro Pengembangan Modal Insani (BPMI), Dr. Nia Juliawati menyebutkan, Kartini masa kini dan masa lalu memiliki semangat yang sama untuk dapat berperan lebih signifikan dan memberi manfaat bagi komunitas, hanya saja bentuk dan caranya berbeda. Ia menambahkan, Kartini masa kini memiliki kemewahan dalam hal kesempatan untuk berekspresi dan berkiprah di berbagai aspek kehidupan di masyarakat. Sebagai Kartini masa kini, lanjutnya, perempuan harus memanfaatkan kesempatan dan membuktikan secara elegan bahwa sebagai anggota masyarakat, perempuan pantas disejajarkan dengan laki-laki.

“Masa lalu atau sekarang, itu adalah Kartini. Perempuan bisa disebut sebagai Kartini kalau ia memperjuangkan yang Kartini perjuangkan. Sepanjang dia menjaga semangat Kartini, dialah Kartini sekarang,” ujar Dr. Nia yang juga merupakan seorang dosen Prodi Ilmu Administrasi Bisnis.

Hal serupa pun disebutkan oleh Wakil Rektor II Unpar Dr. Orpha Jane. Menurutnya, menjadi seorang Kartini masa kini tidak berarti ia harus menuntut untuk disetarakan, namun mendapat kesempatan untuk berperan. “Kalau ada kesempatan, harus digunakan sebaik-baiknya sebagai wujud kontribusi.”, tambahnya.

Adapun, Rika Gemi Andriani, seorang satuan pengaman (satpam) perempuan mengatakan, para perempuan yang duduk di kursi MPR atau DPR, dan lain sebagainya, sudah lebih maju dibandingkan dengan nasib perempuan 138 tahun lalu pada masa Kartini. Para wanita itu bisa memimpin dan menunjukan diri bahwa perempuan mampu dan tidak kalah kompeten dengan kaum adam.

Kini, perempuan memiliki sejuta peluang untuk berkarya secara penuh dibanding masa Kartini dahulu. Perlu puluhan tahun supaya perempuan mendapat tempat di mata masyarakat sebagai manusia utuh. Manusia yang memiliki kesempatan, hak, dan potensi di berbagai bidang untuk dibaktikan kepada masyarakat.

“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.” – RA Kartini