Home / Opini / Menimba Ilmu dan Pengalaman dalam 8th Model ASEM

Menimba Ilmu dan Pengalaman dalam 8th Model ASEM

Bobby Hizkia, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), berkesempatan mewakili Indonesia dalam 8th Model ASEM 2017 di Myanmar, pada tanggal 15 hingga 20 November 2017. Melalui tulisan ini, Bobby membagikan pengalaman dan kesannya selama mengikuti kegiatan tersebut.

Banyak orang bertanya-tanya mengenai kepergian saya ke sebuah negara bernama Myanmar yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebagai destinasi wisata sebelumnya. Bagi saya pribadi, ide untuk berkelana ke seluruh negara Asia Tenggara sebenarnya telah diidam-idamkan sejak lama. Hanya saja, saya sendiri terkejut bagaimana kepergian saya ke Myanmar bertujuan untuk menghadiri suatu acara internasional yang cukup prestisius, yaitu 8th Model Asia-Europe Meeting (ASEM).

Pada 26 September, saya sangat tidak percaya ketika mendapat sebuah surel yang menyatakan bahwa saya telah terpilih di antara 4,200 pendaftar dari 51 negara mitra ASEM untuk berpartisipasi dalam 8th Model ASEM yang diselenggarakan di kota Yangon dan Naypyitaw, Myanmar. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa saya merupakan satu dari dua orang yang akan mewakili Indonesia dalam acara tersebut.

Kegiatan ini sendiri merupakan simulasi Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEM (ASEM Foreign Ministers’ Meeting) yang ditujukan untuk memperkenalkan dunia diplomasi, negosiasi, dan dinamika hubungan internasional kepada para pemuda Asia dan Eropa. Para pemuda akan berpartisipasi dalam debat, diskusi, dan pertukaran perspektif mengenai isu-isu terkini di kawasan Asia dan Eropa. Menariknya, 8th Model ASEAM digelar bertepatan dengan ASEM FMM ke-13 yang akan dihadiri oleh pemerintah dari negara-negara mitra ASEM. Acara ini diprakarsai oleh Asia-Europe Foundation (ASEF), yaitu sebuah organisasi non-profit antarpemerintah yang memiliki tugas untuk mempromosikan kerja sama dan keterhubungan di antara masyarakat Asia dan Eropa.

Jujur, bukan perjalanan yang mudah bagi saya untuk dapat berpartisipasi dalam acara ini. Partisipasi di dalam 8th Model ASEM merupakan suatu langkah besar saya untuk keluar dari zona nyaman. Di saat yang sama, langkah tersebut telah mengajarkan saya banyak hal berkaitan dengan pengembangan kapasitas diri saya. Kemampuan untuk berkomunikasi, negosiasi, dan diplomasi sangat dibutuhkan dalam mengikuti acara ini. Selain itu, saya semakin mendapatkan gambaran mengenai kompleksitas kerja sama antarnegara di dalam ASEM maupun di tataran internasional secara umum.

Namun demikian, hal paling penting yang saya pelajari dalam acara ini adalah komunikasi lintas budaya, mengingat saya harus berinteraksi dengan 150 lebih pemuda lain yang berasal dari 51 negara. Melalui acara ini, saya mendapatkan banyak teman dari berbagai negara, seperti Kamboja, Laos, Vietnam, Jerman, Kazakhstan, Australia, Myanmar, dan lain sebagainya. Lebih lanjut, merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya untuk dapat berinteraksi langsung dengan beberapa pejabat negara mitra ASEM, yang meliputi Menteri Pendidikan Myanmar, Menteri Luar Negeri Malta, dan salah satu Wakil Presiden Komisi Eropa.

Sebagai mahasiswa Unpar, saya bangga mendapatkan kesempatan untuk mewakili Indonesia di sebuah acara bertaraf internasional. Tetapi saya sadar bahwa ini hanyalah bagian dari proses pengembangan diri saya, bukan semata-mata sebuah pencapaian akhir. Biarlah untuk ke depannya, saya, kaum muda Unpar, dan seluruh pemuda Indonesia tak henti-hentinya belajar melalui berbagai kesempatan yang ada, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi yang baik bagi bangsa.