Home / Berita Utama / Menghargai Keberagaman dalam Diskusi “Satu Indonesia”

Menghargai Keberagaman dalam Diskusi “Satu Indonesia”

Indonesia adalah negara yang penuh dengan keberagaman. Sejak awal, pendiri bangsa ini menyadari arti keberagaman bagi bangsa yang besar. Bahkan, semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika, seakan menjadi takdir bangsa. Beragam dalam ikatan yang kuat dan teguh.

Bagi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), dialog adalah cara terbaik bagi setiap insan untuk menghargai perbedaan yang ada dalam masyarakat. Salah satunya, dengan menyelenggarakan kegiatan diskusi bertajuk Satu Indonesia, sebuah kegiatan yang diadakan oleh NationLab Forum, dan didukung Pemerintah Kota Bandung. Selama enam bulan, berbagai tema diangkat dalam program ini, di antaranya membicarakan mengenai agama dan identitas.

Diskusi pertama dalam rangkaian kegiatan Satu Indonesia mengundang Prof. Sumanto Al Qurtuby, seorang akademisi Islam terkemuka dari King Fahd University, Arab Saudi dengan mengangkat tema “Agama dan Keadaban I”, dua hal yang memiliki keterkaitan yang sangat unik dan kompleks, khususnya dalam suasana kontemporer.

Kegiatan berlangsung di Auditorium Balai Kota Bandung, pertengahan Juli 2017. Membuka diskusi, Prof. Qurtuby memberikan pemaparan singkat mengenai bagaimana permasalahan keberagaman telah menjadi masalah global.

Menerima Perbedaan

Sebagai Prof. Qurtuby mengidentifikasikan bahwa permasalahan yang ada dalam menyikapi keberagaman saat ini adalah ketika suatu kelompok tidak mampu menerima perbedaan yang ada secara dewasa. Hal ini menjadi masalah di seluruh dunia, tidak terkecuali di negara yang memiliki tingkat kemajemukan yang tinggi seperti Indonesia.

Di sisi lain, ada pula kelompok-kelompok pluralis. Mereka menerima keberadaan berbagai kelompok yang berbeda, menghargai identitas dan eksistensi mereka. “Pembiaran” terhadap keberagaman ini menjadi sikap yang sepatutnya dilakukan oleh semua orang. Mengakui dan menghargai keberadaan kelompok-kelompok lain yang unik, sama saja dengan menjunjung tinggi kemerdekaan manusia yang bermartabat.

Mengakomodasi Kepentingan

Sebagai contoh, Prof. Qurtuby mengambil kasus keberagaman di Indonesia. Pembentukan Indonesia tidak lepas dari berbagai tekanan kepentingan kelompok yang sangat beragam. Namun, dengan adanya proses dialog, para pendiri bangsa mampu menghasilkan sebuah negara yang kaya akan keberagaman, yang bisa kita lihat dalam Pancasila dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar berbangsa dan bernegara.

Tidak sampai di situ, berkali-kali masyarakat Indonesia diterpa oleh isu-isu yang memiliki keterkaitan erat dengan SARA, yang mampu diatasi dengan baik, tanpa harus mengorbankan kemajemukan yang sudah ada.

Keberhasilan masyarakat Indonesia dalam menghadapi ujian terhadap keutuhan bangsa yang majemuk menjadi bukti sikap dewasa bangsa ini dalam mengesampingkan kepentingan diri dan kelompok untuk mencapai visi dan misi nasional. Prioritas terhadap kepentingan nasional hanya bisa dicapai bila setiap orang dan kelompok mampu berdialog dengan baik.

Dialog adalah hal yang sangat penting dalam mengakomodasi beragam kepentingan. Namun, dialog tidak akan berfungsi secara optimal bila tidak berlangsung secara berkesinambungan. Secara sederhana, bila proses dialog tidak dilakukan terus-menerus atau berhenti di tengah jalan, seluruh proses akan menjadi sia-sia.

Rangkaian kegiatan diskusi “Satu Indonesia” akan berlangsung hingga Desember 2017 dengan beragam tema seperti “Agama dan Keadaban II” (11 Agustus 2017 – Prof. Dr. Syafii Maarif, Maarif Institute – Jakarta); “Problem Identitas” (15 September 2017 – Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Fakultas Filsafat Unpar – Bandung); Diskusi Film: Tolerance (13 Oktober 2017 – Monique Rijkers Jakarta); “Reflektivitas dan Era Informasi” (17 November 2017 – Goenawan Mohamad, Salihara – Jakarta); dan “Pancasila : Urgensi dan Konteks Barunya” (15 Desember 2017 – Yenny Wahid, Wahid Institute – Jakarta). Diskusi ini terbuka untuk umum dan diadakan setiap hari Jumat pukul 19:30-20:30 WIB.

Kegiatan Satu Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi acara diskusi biasa, yang berakhir ketika rangkaian kegiatan usai. Lebih dari itu, dialog ini diharapkan membuka wawasan para peserta mengenai situasi kontemporer masyarakat dan bangsa Indonesia. Diharapkan para peserta akan terinspirasi dalam menjadikan diskusi dan dialog sebagai cara untuk menghargai keberagaman.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 1 Agustus 2017)