Home / Alumni / Mengenal Lebih Dekat: Rosdina Dobson

Mengenal Lebih Dekat: Rosdina Dobson

“Emang udah pilihan dari awal. Emang pinginnya teknik sipil karena tertarik sama infrastruktur dan segala macem. Terus, saya rasa Unpar cocok buat saya,” kata Oci ketika ditanya kenapa memilih program studi Teknik Sipil Unpar.

Beberapa waktu lalu, tim Publikasi Unpar berkesempatan untuk menjumpai Oci. Ia berbagi cerita tentang pengalaman dan kesan-kesannya tentang dunia teknik sipil, aktivitas kuliah, kesibukan, hingga kegiatannya untuk melepas penat.

Rosdina Ningrum Dobson, yang akrab disapa Oci merupakan mahasiswi program studi Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Lewat jalur penerimaan PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), ia bergabung dengan Unpar sejak 2017 lalu.

Tidak dipungkiri, pengaruh sang kakak, Muhammad Arifin Dobson juga menjadi motivasinya untuk bergabung dengan Unpar. Arifin yang merupakan lulusan program studi Fisika Unpar, baru saja menyelesaikan studinya pada September 2018 lalu. Oci juga mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya untuk berkuliah di Unpar.

Cinta “Sipil” sedari kecil

“Sebenernya awalnya gara-gara sering ngikut Ayah kan. Ya, proyek Ayah emang kecil-kecil. Cuman sering ngikut dari kecil. Jadi kayak ngerasanya emang familiar sama dunia itu. Jadi, kayaknya saya cocoknya sama dunia yang emang familiar sama saya (teknik sipil),” ungkap Oci.

“Emang tertarik sih. Terus, ngeliatnya keren aja kalo masuk teknik sipil,” imbuhnya tersenyum.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia mengaku sering ikut sang Ayah menyelesaikan proyek pembangunan di berbagai daerah di Indonesia. Sekaligus pergi berlibur bersama keluarga, ia selalu bersemangat bahkan ketika turut menemani sang Ayah berkeliling di kawasan proyek. Dari kecil, Oci sudah familiar dengan berbagai material pembangunan seperti beton, bambu, dan lainnya.

Memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA), Oci semakin mencintai dunia teknik sipil. Hal tersebut dibuktikan dengan ketertarikannya dalam bidang penelitian. Bersama sang Ayah, ia berkolaborasi dalam penelitian di dunia teknik sipil. Inilah yang membuat kedekatan Oci dan sang Ayah semakin erat.

Oci berbagi pengalamannya yang paling menarik bersama sang Ayah. Ketika itu, ia ikut kegiatan internasional di Malaysia.

“Saya bener-bener bantuin buat, jadi kayak ada beberapa fitting-nya gitu buat dibikin. Jadi, saya bener-bener masangin itu (material) bareng-bareng sama tukangnya juga. Supaya saya ga bosen kan? Yaudah saya ngerasa itu sebagai pengalaman juga,” kenang Oci.

“Terus, saya jadi ngerti gitu loh. Kayak misalnya bikin hook dan segala macem buat instalasi-instalasinya itu,” tambahnya antusias.

Inovasi konstruksi kayu

Hasil riset di bidang konstruksi kayu membawa Rosdina menjadi juara kedua dalam The 6th Asia Pacific Conference of Young Scientists 2017 di Kathmandu, Nepal, yang berlangsung pada 1-5 November 2017 lalu. Ia terpilih sebagai satu dari sembilan tim asal Indonesia yang berhasil meraih prestasi tersebut.

Karyanya yang berjudul “Karalok: Characteristics of Laminated Wooden Beams” memperkenalkan sistem sambungan baru dalam konstruksi menggunakan balok kayu. Ia  menjelaskan bahwa sistem yang sederhana ini memungkinkan pembangunan struktur darurat secara cepat, bahkan kurang dari satu hari. Hal ini tentu membuka berbagai kemungkinan baru, seperti pembuatan jembatan darurat guna membantu daerah terdampak bencana.

Terjun ke masyarakat

Saat ini, Oci tengah sibuk mengikuti beragam kegiatan di Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil (HMPSTS) Unpar sebagai staf inti di Departemen Pengabdian Masyarakat. Selain itu, ia turut aktif dalam program kerja (proker) Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Unpar, yaitu Tosaya (Ngabantos Sadaya) yang juga masih berada di lingkup pengabdian masyarakat.

“Karena saya ngerasanya kalo di pengabdian kepada masyarakat itu dimana emang kita bisa ngeaplikasiin bidangnya kita. Karena kebetulan, saya pun di Tosaya itu subdivisinya pembangunan,” terang Oci.

Dalam proker Tosaya mendatang, ia bersama tim berencana untuk membangun alat pembakaran sampah (incinerator) di desa tujuan. Asap dari sampah, jelasnya, menimbulkan dampak ke lingkungan. Dengan alat pembakaran tersebut, diharapkan dapat mengurangi asap dari sampah. Kegiatan ini, lanjut Oci, juga bertujuan untuk membantu masyarakat yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di desanya.

Kegiatan di luar kampus

Ketika ditanya tentang keseharian dan kegiatannya di luar kampus, bagi Rosdina, ini pertanyaan yang sulit.

“Pertanyaan sulit. (Kegiatan di) Teknik Sipil dan kegiatan di luar kelas cukup menyita waktu. Saat ini, kurang bisa eksplor di luar,” katanya penuh tawa.

Di sela kesibukannya, Oci senang sekali berjalan-jalan di alam, bersepeda, hingga punya hobi memotret (fotografi). “Istirahat di rumah udah cukup buat saya,” ucapnya kembali tertawa.

Setelah lulus nanti, ia berharap bisa menjalankan profesi sebagai konsultan atau side-manager. “Impian saya masih kerja lapangan. Cocok aja, lebih terbuka, dan bisa jalan-jalan dari proyek satu ke proyek lain,” ungkapnya.

Jika ada peluang dan kesempatan, ia juga tertarik untuk melanjutkan studinya di bidang Teknik Sipil. Tentunya, dengan mencari kesempatan beasiswa studi lanjut.

Rosdina mengajak Unparian untuk bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya selama berkuliah di Unpar. Menurutnya, pengalaman berorganisasi ataupun kegiatan di luar kelas, menjadi bekal penting untuk terjun ke dunia kerja.

Baginya, berkuliah di Teknik Sipil Unpar banyak memberikan pengalaman-pengalaman seru di samping kebersamaan yang erat antar keluarga Teknik Sipil. “Menurut saya, teknik sipil (Unpar) itu keluarga. Jadi, kalo masuk sini, kalian engga cuma dapet pendidikan, tapi kalian juga dapet keluarga yang sangat besar. Dan pastinya ke depannya bakal sangat berarti,” ungkapnya.