Home / Berita Terkini / Mengembangkan Potensi Lokal Melalui Program SEED
Potensi lokal

Mengembangkan Potensi Lokal Melalui Program SEED

Alih-alih membiarkan hasil panen raya tomat menjadi busuk, para mahasiswa yang tergabung dalam Program Social Enterprise for Economic Development (SEED) mengubahnya menjadi manisan tomat.Potensi lokal

Kreatifitas membuat manisan tomat tersebut adalah salah satu contoh hasil SEED. Program yang dilaksanakan oleh Program Studi (Prodi) Sarjana Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dan berafiliasi dengan ASEAN Learning Network (ALN) ini telah dilaksanakan sejak 2016.

Adapun SEED adalah program lintas budaya yang memanfaatkan kewirausahaan sosial sebagai sarana menuju kemajuan ekonomi dan peningkatan taraf hidup dengan berbasis pada potensi lokal.

Disebut sebagai program lintas budaya karena kegiatan ini terbuka bagi mahasiswa dari perguruan tinggi nasional maupun luar negeri. Ketua SEED 2017 Fernando Mulia menyatakan, mahasiswa luar negeri diberi kesempatan untuk ikut bergabung agar tercipta gagasan atau kegiatan yang komprehensif, yang lahir dari kolaborasi antar budaya. Mahasiswa asing diharapkan membawa pengetahuan, sudut pandang, serta teknologi yang berbeda sesuai negara asal sehingga bisa berkontribusi besar dalam Program SEED.

Selain lintas budaya, SEED terbuka bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan. SEED tidak terbatas untuk mahasiswa yang datang dari Jurusan Ekonomi.

Pengalaman

Pada tahun ini, SEED akan memasuki tahun kedua. Pada 2016, selain diikuti oleh mahasiswa UNPAR, program ini juga berhasil menjaring peserta dari Universiti Malaysia Kelantan, Thaksin University (Thailand), dan Prince of Songkla University (Thailand).

Mereka dibagi dalam tiga kelompok dan tinggal hampir dua minggu bersama warga di tiga dusun yang berbeda. Lokasi yang dipilih adalah Desa Rawabogo, Ciwidey.

Tak hanya sekadar tinggal bersama masyarakat di sana, para mahasiswa ini juga merasakan pengalaman lintas budaya di luar kampus yang memberikan ruang kreatif untuk mengembangkan peluang bisnis, strategi pemasaran, dan penguatan perekonomian yang sesuai dengan potensi desa itu. Peserta juga mendapat manfaat penting lainnya yaitu berperan aktif dalam memajukan pendidikan transformatif melalui eksposur antarbudaya.

“Kita tidak berangkat dari apa yang kita punya, tetapi melihat apa yang daerah itu butuhkan,” tambah Fernando. Perspektif ini yang ditanamkan bagi peserta SEED saat menjalani live in bersama masyarakat. Potensi lokal adalah pijakan utama untuk berbagai ide, usulan, atau kegiatan yang akan dijalankan.

Satu hal yang membuat program ini berbeda dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah fokus SEED yang tertuju pada peningkatan dan pemberdayaan ekonomi daerah/lokal.

Program SEED sendiri adalah hasil kolaborasi dengan ASEAN Learning Network (ALN), sebuah organisasi yang beranggotakan guru besar, dosen dan peneliti dari beberapa institusi pendidikan tinggi di Asia Tenggara seperti San Beda College (Filipina), Thaksin University (Thailand), Ho Chi Minh City (Vietnam), dan beberapa perguruan tinggi asing lainnya. Dari Indonesia, terdapat Unpar, Institut Teknologi Bandung, ESQ Business School, dan Indonesia Center for Sustainable Development yang tergabung dalam lembaga ini.

Unpar, khususnya Prodi Sarjana Manajemen menganggap SEED sebagai sebuah program yang mengimplementasikan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi. SEED adalah bentuk nyata dari pengaplikasian konsep Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian Masyarakat.

Progam ini juga sesuai dengan visi Unpar yaitu “Menjadi komunitas akademik humanum yang mengembangkan potensi lokal hingga ke tataran global demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan”.

Melihat SEED sebagai program yang positif dan memberikan dampak baik bagi masyarakat, Prodi Sarjana Manajemen FE Unpar pun meneruskan kegiatan tersebut tahun ini. Pada 6 hingga 20 Juli, SEED Unpar 2017 dilaksanakan di daerah yang sama seperti tahun lalu yaitu di Desa Rawabogo, Ciwidey, Bandung.

Semangat yang diusung masih serupa. SEED diharapkan menjadi wadah pendidikan transformatif melalui eksposur antarbudaya yang memiliki output yang bermanfaat bagi masyarakat. Kegiatan ini memberikan kesempatan secara terstruktur bagi mahasiswa di seluruh dunia untuk bersatu, berinteraksi, dan melaksanakan penelitian langsung (on-site) sebagai dasar untuk mengembangkan business plan yang tepat.

Pada tahun ini, terdapat 34 peserta yang mendaftar SEED Unpar. Tujuh di antaranya adalah mahasiswa Unpar, dua datang dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, dan sisanya adalah mahasiswa asing dari Thaksin University (Thailand), Prince of Songkla University (Thailand), dan Universiti Malaysia Kelantan (Malaysia).

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 18 Juli 2017)