Home / Berita Terkini / Mengawali Peringatan “Pidato Bung Karno” Bersama Wakil Rakyat

Mengawali Peringatan “Pidato Bung Karno” Bersama Wakil Rakyat

“Namanya bukan Panca Dharma, tetapi—saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa—namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi… Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit … janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan”, merupakan cuplikan singkat pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang mengawali momentum lahirnya Pancasila.

Sebagai bagian dari rangkaian Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, pada Senin (30/5), Perpustakaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI) mengadakan acara “Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat”, bertempat di Ruang Tangkuban Parahu, Gedung Merdeka, Bandung. Sejak tahun 2004, dalam penyelenggaraannya, panitia bekerja sama dengan institusi pendidikan, komunitas buku, rumah baca, dan perpustakaan setempat. Mengambil tema “Pancasila Ideologi Bangsaku, Gotong Royong Semangat Negeriku”, kegiatan ini terbagi ke dalam dua sesi diskusi buku.

“Kegiatan bedah buku ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan di Perpustakaan MPR Jakarta dalam rangka pengalihan aspirasi masyarakat karena MPR memiliki tugas untuk melakukan kajian terhadap sistem ketatanegaraan, konstitusi, dan implementasinya. Kami harapkan kegiatan ini tidak hanya sampai pada tataran kognisi kita tetapi juga pada perilaku kita dalam memaknai kembali nilai-nilai pancasila,” ujar Ma’ruf Cahyono, Sekretaris Jenderal MPR, saat meresmikan pembukaan acara tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Ridwan Kamil, ST., MUD., Walikota Bandung, menyampaikan, “Saya ingin negeri ini kita bangun dengan kekokohan pancasila yang sudah menjadi takdir kita, kita terjemahkan sesuai dengan tantangan-tantangan yang ada sehingga pancasila itu relevan, bukan sekadar dihapalkan setiap upacara”, kata pria yang akrab disapa Kang Emil dalam pidatonya.

Pada sesi pertama, dilaksanakan diskusi buku berjudul “Pancasila, Kekuatan Pembebas” bersama Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Barat (Jabar). Buku tersebut merupakan hasil kajian dari Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) Unpar. Adapun pokok-pokok bahasan dalam buku ini mencakup pemaparan mengenai justifikasi dasar negara RI, sejarah pancasila, dan bahasan mengenai kelima sila dalam pancasila yang dikaitkan dengan isu-isu terkini.

Bersama dengan Andreas Doweng Bolo, S.S.,M.Hum., dalam diskusi buku tersebut, Dr. Stephanus Djunatan, S.Ag.,M.Ph., membahas mengenai pengamalan sila-sila Pancasila dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.

“Buku ini mengajak untuk melihat Indonesia dengan Pancasila, jangan menggunakan Pancasila sebagai objek, tetapi memandang Indonesia dengan Pancasila. Kita bersama-sama menjadi masyarakat mandiri untuk menjadikan Indonesia negara yang makmur. Kami juga mengajak mahasiswa untuk punya cara berpikir Pancasila. Dengan begitu, tindakannya menjadi pancasilais,” jelas Dr. Djunatan dalam pembahasan buku “Pancasila, Kekuatan Pembebas”.

Diskusi buku kemudian dilanjutkan dengan sesi ke-2 bersama Asia Afrika Reading Club dengan anggota DPR RI Dapil Jabar. Buku yang dibahas yaitu “Memahami dan Memaknai Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara” yang dimoderatori oleh perwakilan Kompas Bandung. Adapun pembicara dalam sesi ini di antaranya, anggota DPR RI Dapil Jabar; Dr. Elly Malilah, M.Si.; Dr. Mupid Hidayat, M.A.; dan Dr. Encep Syarief, M.Pd., M.Si.; dan Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia).

Tidak hanya itu, acara juga dimeriahkan dengan penampilan Musikalisasi Pidato oleh Adew Habtsa dan Rekan. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pagelaran wayang golek di pelataran Gedung Merdeka.