Home / Berita Terkini / Mengangkat Isu Internasional Minor Dalam PMUN 2020

Mengangkat Isu Internasional Minor Dalam PMUN 2020

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) yang tergabung dalam International Relations English Club (IREC) sukses menyelenggarakan Parahyangan Model United Nations (PMUN) 2020.

Kegiatan yang berlangsung dari Kamis, 27 Februari hingga Minggu, 1 Maret 2020 ini mengangkat tema ‘The Discernment of Vulnerability: A Global Quest for Justice and Well-Being’. Tema ini sengaja dipilih untuk memperkenalkan isu-isu minor dunia internasional yang jarang dibicarakan dalam masyarakat. 

Adapun rangkaian sidang PBB semu ini menghadirkan empat dewan atau councils, yaitu World Health Organization (WHO), Economic and Financial Committee (ECOFIN), UN World Tourism Organization (UNWTO), dan United Nations Security Council (UNSC).

Selain itu, diadakan pula social night yang mengambil tema Harlem Renaissance. Tema tersebut diambil dalam rangka memperingati seratus tahun gerakan kebudayaan Harlem, ditandai dengan perubahan sosial dan intelektual kulit hitam di New York, Amerika Serikat. Gerakan yang tertuang dalam ragam kreasi seperti literatur, seni rupa, dan teater ini mampu mendobrak stereotip dan mengubah pandangan masyarakat terhadap kaum minoritas kulit hitam.

Selain committee session, acara ini juga menghadirkan berbagai mata acara menarik seperti MUN Clinic, MUN 101, dan awarding ceremony. Di akhir rangkaian acara, PMUN 2020 ditutup dengan gala dinner yang bertempat di Hotel Grand Mercure Bandung.

Archangela Rachel selaku ketua pelaksana PMUN 2020 menyampaikan bahwa tujuan berbagai mata acara yang berbeda di tahun ini adalah meningkatkan rasa ketertarikan dan keterikatan delegasi. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan keinginannya untuk memberikan pengalaman yang berkesan bagi para delegasi yang hadir.

“(Dalam) PMUN kali ini, kita ingin lebih interaktif dengan delegasinya,” tutur Rachel. “Aku berusaha untuk mengurangi hal-hal yang ‘bikin bosan’ dan menggantinya dengan hal lain yang tidak kalah menarik,” jawabnya berkaitan dengan terobosan yang dihadirkan dalam PMUN kali ini.

Antusiasme yang tinggi ditunjukkan oleh delegasi-delegasi pada tahun ini. Banyak delegasi yang sebelumnya pernah mengikuti PMUN 2019 kembali hadir di tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa PMUN telah meninggalkan kesan dan pengalaman yang baik kepada delegasi. Hasil itu juga diharapkan Rachel agar kembali terulang di tahun setelahnya.

Melalui PMUN diharapkan isu-isu yang jarang diangkat lebih banyak diketahui masyarakat. Delegasi juga dapat mengasah kecakapannya dalam penyelesaian masalah dan mendapatkan solusi. Kedepannya, diharapkan PMUN dapat menarik lebih banyak antusiasme masyarakat dan meningkatkan substansi dari acara itu sendiri. (AKA/DAN – Publikasi)