Home / Berita Terkini / Mengamalkan Ilmu, Melestarikan Kearifan Budaya
Budaya

Mengamalkan Ilmu, Melestarikan Kearifan Budaya

Pendidikan adalah salah satu jalan mencapai kesejahteraan bagi masyarakat. Melalui ilmu pengetahuan, manusia mampu meningkatkan kualitas hidupnya, dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di sekitarnya. Namun, bagi sebagian orang, memiliki ilmu menjadi pembenaran untuk meninggalkan budaya lokal, yang seringkali dianggap ‘kuno’ dan tidak relevan bagi kehidupan masa kini. Mungkin, pemikiran ini muncul dari anggapan bahwa ilmu dan modernitas berjalan bersama, meninggalkan yang tradisional di belakang.

Pendidikan tidak seharusnya mengorbankan kearifan lokal, hanya demi mengejar segala hal yang modern. Justru, melalui pendidikan, masyarakat belajar memanfaatkan sumber daya yang terkandung dalam kearifan lokal, serta meningkatkan kualitasnya sehingga mampu bersaing dalam arus globalisasi. Lewat pendidikan, budaya dan keunikan suatu masyarakat dapat dipelajari lebih dalam. Dari hasil inilah, dapat dikreasikan berbagai hal baru yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tentunya, berbagai peralatan dan metode yang modern dapat dikombinasikan dengan metode tradisional dalam mencapai hasil optimal.

Akademisi, yang memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan, dituntut untuk mampu mambantu masyarakat dengan implementasi ilmu yang mereka miliki. Tetapi, lebih dari itu, akademisi juga diharapkan dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya melestarikan kearifan lokal. Jangan sampai, melalui masuknya kalangan berpendidikan ke dalam masyarakat tradisional, justru menghilangkan potensi dan kearifan budaya yang mereka miliki.

Mahasiswa, sebagai akademisi muda, sedari dini dibangun untuk mampu mengidentifikasi berbagai potensi lokal, serta mengembangkannya sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu kegiatan yang memberikan mahasiswa pengalaman langsung dalam menyikapi kearifan lokal, adalah dengan kegiatan exposure (penyingkapan) dalam masyarakat tradisional. Dengan hidup bersama masyarakat, mempelajari berbagai aktivitas, serta mengamati fenomena yang  terjadi dalam keseharian mereka, mahasiswa dapat mempelajari berbagai potensi yang terkandung dalam kearifan budaya lokal. Lebih dari itu, mereka bisa menghasilkan konsep dan tindakan konkrit, untuk memanfaatkan potensi tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menyadari pentingnya mengamalkan ilmu sembari melestarikan kearifan lokal, terutama bagi para mahasiswa. Hal ini tertanam dalam sesanti Unpar, sebagai pengerucutan visi dan cita-cita para pendiri Unpar sejak dulu.

Berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang melibatkan mahasiswa, baik yang diselenggarakan oleh universitas maupun oleh organisasi kemahasiswaan. Sebagai contoh, Unpar secara rutin mengadakan Program Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), yang difasilitasi oleh Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH). P3M mengajak mahasiswa untuk turun langsung ke dalam masyarakat pedesaan, yang masih memegang teguh tradisi, serta meneliti berbagai potensi yang dimiliki oleh warga. Mahasiswa ditantang untuk mengaplikasikan ilmu mereka, sekaligus belajar menghargai kearifan lokal yang ada dalam masyarakat.

P3M bukan hanya satu-satunya tempat bagi mahasiswa untuk mengamalkan ilmu dalam kearifan budaya masyarakat lokal. Kegiatan seperti Social Enterprise for Economic Development (SEED) Unpar, tidak hanya mengajak mahasiswa dari Unpar saja, tetapi juga dari luar universitas, bahkan dari luar negeri, untuk mengidentifikasi, memahami, serta mencetuskan konsep dengan memanfaatkan budaya dan sumber daya yang ada. Mahasiswa juga mengembangkan kegiatan berbasis pengabdian masyarakat sendiri, seperti Ngabantos Sadaya (Tosaya), kegiatan tahunan Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Unpar; Bhakti Ganva, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur; serta Bakti Desa yang rutin dilaksanakan mahasiswa FISIP setiap tahunnya.

Lebih dari kegiatan-kegiatan itu, setiap mahasiswa, sebagai bagian dari masyarakat akademis, dituntut untuk memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat, sesuai dengan bidang ilmu yang ia kuasai. Dengan begitu, seorang akademisi mampu mengabdikan dirinya dengan baik, mengamalkan ilmu, sembari melestarikan kearifan budaya.