Home / Berita Terkini / Mengajarkan Fisika Modern di Pelatihan Guru Fisika 2018

Mengajarkan Fisika Modern di Pelatihan Guru Fisika 2018

“Fisika itu sulit, memang sulit. Maka dari itu kita harus membuatnya lebih menarik untuk dipelajari,” kata Dr. Ferry Jaya Permana Dekan Fakultas Teknologi Industri dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS Unpar) dalam pembukaan acara Perlatihan Guru Fisika (PGF) 2018, pada Rabu (5/9) di Gedung 10 Unpar.

Mengusung tema “Inovasi Pembelajaran Fisika dalam Bidang Teknologi Digital: Menyongsong Revolusi Industri 4.0”, acara tersebut berupaya untuk mempertajam dan menambah kemampuan guru-guru fisika yang berasal dari jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

Kegiatan ini diikuti oleh para guru dari berbagai kota di Indonesia dan tidak hanya dari SMA di Bandung. Adapun, peserta terdiri dari para pengampu kelas fisika yang berasal dari sekolah negeri maupun swasta.

“Pendidikan menengah sangat penting untuk dimajukan karena amat berpengaruh pada pilihan anak-anak yang akan menempuh strata pendidikan tinggi,” ujar Phillips Gunawijaya dosen Fisika Unpar dalam kata sambutannya.

Dalam kesempatan ini, Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D hadir untuk membuka acara. Turut hadir pula Dr. Ir. Ahmad Hadadi M.Si selaku Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat. Beliau mengakui peran Unpar yang turut andil dalam pembangunan bangsa serta memuji kegiatan PGF ini sebagai salah satu ‘wahana’ bagi para guru mata pelajaran untuk memulai kiprahnya dalam pengajaran untuk mendukung Revolusi Industri 4.0 serta sebagai bentuk untuk mewujudkan generasi siswa yang mandiri, kreatif dan mampu bersaing sebagai sumber daya manusia Indonesia.

Salah satu pembicara dalam sesi hari ini adalah Dr. Aloysius Rusli. Beliau membahas tentang konsep-konsep dasar teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ia menjelaskan tentang perkembangan konsep digital dan analog, mengapa teknologi digital lebih efisien dibanding analog.

Bit, sekedar saya kasih tahu saja, bit itu bukan sebuah kata. Bit adalah singkatan dari binary digit (bilangan dwi-angka, merujuk pada penggunaan “1” dan “0”),” ungkap Dr. Aloysius memberikan trivia singkat.

Di sela sesi, moderator acara, Muhammad Arifin Dobson mahasiswa Fisika Unpar, memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengikuti eksperimen kecil yang dapat membantu pengajaran fisika kepada peserta didik.

Eksperimen yang menggunakan gas, sabun, dan api tersebut mencairkan suasana yang dingin menjadi menyenangkan karena para peserta menjadi lebih penasaran dengan contoh-contoh eksperimen lainnya yang dapat dilakukan di sekolah.

Acara yang diselenggarakan pada 5 hingga 7 September 2018 mendatang akan diisi oleh berbagai workshop dengan menggunakan instrumen TIK. Hal ini dipertimbangkan karena meningkatnya unsur strategis dan vital TIK dalam pendidikan saat ini yang berupaya mempersiapkan para lulusan sekolah untuk menyambut revolusi industri. Juga, guna membentuk lapangan kerja dengan karakteristik pengetahuan di bidang TIK.