Home / Berita Terkini / Menemukan Figur Dosen dalam Pembelajaran Daring

Menemukan Figur Dosen dalam Pembelajaran Daring

GENIAL.Opini – Pandemi Covid-19 memaksa proses belajar-mengajar di semua lembaga pendidikan, tidak terkecuali perguruan tinggi, yang beralih dari kelas tatap muka reguler ke pembelajaran dalam jaringan (daring). Beruntung dalam semester genap yang dimulai pada akhir Januari 2020 lalu, mahasiswa masih memiliki kesempatan mengenal sosok dosennya melalui kelas tatap muka selama setengah semester sebelum terbit Surat Edaran Mendikbud, tanggal 17 Maret 2020 tentang penyelenggaraan pembelajaran secara daring terkait pencegahan menyebarnya Covid-19.

Ketika pembelajaran daring harus diselenggarakan secara penuh sejak awal perkuliahan, mahasiswa dipaksa untuk menebak-nebak atau bahkan kehilangan figur dosen. Tanpa penguasaan teknologi yang cukup, dosen bakal kesulitan menghasilkan inovasi yang dibutuhkan mahasiswa untuk bisa mengambil manfaat secara optimal lewat keterlibatan aktif dalam pembelajaran daring. 

Figur Dosen dalam Pembelajaran Daring

Beberapa penelitian menyatakan bahwa figur dosen yang secara spesifik terkait dengan pembawaan yang ramah, humoris, menarik, mempunyai variasi metode dalam menyampaikan materi, sekaligus mampu menjalin interaksi sosial dengan mahasiswa baik dalam durasi jam kuliah maupun di luar kuliah, dianggap mampu memicu motivasi belajar mahasiswa yang tentunya berpengaruh terhadap keberhasilan capaian pembelajaran. Singkatnya, figur dosen secara tidak langsung menjadi salah satu penentu keterlibatan mahasiswa (student engagement) secara emosional dalam keberhasilan proses belajar mengajar (Fredericks et all : 2004). Pembelajaran secara daring menuntut kehadiran figur dosen yang berbeda dibandingkan kelas tatap muka.

Jika figur dosen tak lagi berhubungan dengan sosok secara fisik dan pembawaan gaya mengajar, maka keterlibatan mahasiswa dan motivasi belajar mahasiswa dalam pembelajaran daring, akan sangat bergantung pada kepiawaian dosen memanfaatkan teknologi dengan variasi metode, aplikasi, dan membawakan diri dalam media sosial yang dapat diakses mahasiswa. Walaupun tak dapat dipungkiri juga bahwa figur tersebut berkaitan juga dengan kompetensi pedagogik sang dosen yang ditunjang dengan kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial secara daring (Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, 2009, hal. 32- 33).

Pembelajaran daring harus direncanakan secara daring tidak hanya memindahkan pembelajaran luring ke daring saja. Memindahkan tatap muka luring menjadi kelas daring tidak sesederhana men-digital-kan materi pembelajaran dalam bentuk daring, melainkan lebih pada berinovasi dengan teknologi sebagai alat dalam menyampaikan materi. Dengan inovasi ini, dosen mampu memberikan berbagai macam pilihan dan konten yang terstruktur bagi peserta didik sehingga mereka dapat mendemonstrasikan apa yang dipelajarinya, seperti yang dikatakan dalam artikel Beth Holland, 2017 dalam edutopia,org. Jika penguasaan dosen akan teknologi terbatas, maka bisa ditebak, variasi media pengajarannya juga akan terbatas sehingga keterlibatan mahasiswa pun akan berkurang, apalagi jika mahasiswa sejak awal tidak mengenal sosok dosennya tersebut. Dengan kata lain, penguasaan dosen akan teknologi yang terbatas menyebabkan sedikitnya kadar interaksi sosial secara daring, yang mengakibatkan terbatasnya keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Inilah yang membuat mahasiswa menjadi pihak yang lebih banyak dirugikan dalam pembelajaran daring.

Figur Dosen dalam New Normal

Meminjam istilah dalam pandemi Covid-19  ini, istilah new normal untuk sosok dosen, jika pembelajaran daring dilakukan 100 persen, maka penampilan dan keunikan gaya mengajar dosen tak lagi berpegang pada pertemuan tatap muka regular, melainkan dikendalikan oleh media pemelajaran dan strategi yang tepat, yang tentunya berpengaruh pada keterlibatan siswa di dalam kelas daring, dan juga dalam capaian hasil belajar. Sosok dosen yang suportif, mampu berempati dan toleran terhadap keterbatasan mahasiswa, mampu memotivasi, selalu memberikan umpan balik, mempunyai antusiasme tinggi dalam membagikan pengetahuannya di media daring, bahkan dalam situasi yang formal ataupun informal, dan juga mampu menggiring mahasiswa untuk tetap berkomunikasi dan berdiskusi, tetap menjadi hal yang utama.

Pemanfaatan interaksi langsung atau syncrounous yang berupa penjelasan kontrak awal kuliah menjadi impresi pertama mahasiswa terhadap figur dosennya dalam pembelajaran daring. Rencana Pembelajaran Semester (RPS) menjadi dasar pertemuan pertama yang biasanya disertai dengan setumpuk aturan, metode penyampaian materi, jenis penugasan, rubrik penilaian, termasuk sangsi jika melanggar. Sehingga, seakan-akan mahasiswa dipaksa terlibat dalam satu semester karena faktor komitmen pada kontrak kuliah tersebut. Hal inilah yang terkadang  membuat mahasiswa kemudian mencari figur dosen yang bersangkutan dan bertanya-tanya dapatkah dosen tersebut mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat mahasiswa lebih terlibat dan termotivasi dalam keberhasilan capaian pembelajaran di akhir semester nanti? Maka dari itu, cara penyampaian kontrak kuliah diharapkan disampaikan dengan juga menanyakan ekspektasi dan kesulitan mahasiswa dalam mengikuti pembelarang daring dalam satu semester.

Menyetujui yang dikatakan Schelechty dalam situs  https://www.schlechtycenter.org/ , bahwa keterlibatan siswa tidak hanya menuntut komitmen, namun juga perhatian dan persistensi. Ketiganya harus ditunjukkan tanpa kecemasan karena mendapatkan sangsi karena melanggar aturan kontrak kuliah. Oleh karena itu, dalam pembelajaran daring, seorang dosen dituntut dapat memotivasi mahasiswa melalui figurnya dalam menguasai berbagai jenis media pembelajaran daring (sumber), yang sejalan dengan salah satu pengembangan kompetensi pedagogik dan profesional seorang dosen dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran demi pengembangan mahasiswa dalam mengaktualisasikan potensi dalam dirinya. Namun, tentunya juga mempertimbangkan bagaimana mahasiswa dapat mengakses, memahami, mengeksplorasi konten, dan mendemosntrasikan apa yang dipelajari dalam bentuk yang lebih otonom dengan beberapa pilihan. Oleh karena itu, dukungan komunikasi yang terbuka antara kedua belah pihak perlu dilakukan secara efektif dalam kondisi sosial yang kondusif dan juga normatif tentunya.

Sigkatnya, Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang terjadi adalah bagaimana mempertahankan sosok tersebut secara daring. Hal ini tak semudah memindahkannya dari cara luring menjadi daring, karena dibutuhkan kemauan, kemampuan, dan kepiawaian dosen mengelola strategi dan media pengajaran daring. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk universitas. Universitas tentu memfasilitasi (baik memaksimalkan penggunaan LMS resmi perguruan tinggi),  merancang banyak pelatihan dan tata cara manual agar semua dosen dapat melakukan pemelajaran daring tanpa terkecuali.

Secara umum, mirip dengan pembelajaran luring, mahasiswa dapat menentukan dan meneguhkan sosok dosennya , jika sang dosen secara daring mau memberikan waktu untuk berkomunikasi secara efektif dan efisien, termasuk di dalamnya menjelaskan tentang tujuan pembelajaran dan rencana penggunaan metode pemelajaran daring selama satu semester. Menguasai media pembelajaran daring memang membutuhkan waktu, dalam hal ini dosen juga seorang siswa yang perlu belajar banyak.  Tidak mudah, namun juga tidak mustahil dilakukan,  jika dikembalikan pada motivasi dan tujuan dosen dalam mengajar. [*]

Penulis: Kristining Seva, S.S.M.Pd., Dosen Fakultas Filsafat-Lembaga Pengembangan Humaniora, Universitas Katolik Parahyangan

Sumber: Genial.id, 17 Juli 2020