Home / Berita Terkini / Menemukan Berkat Di Tengah Masa Pandemi

Menemukan Berkat Di Tengah Masa Pandemi

Bisakah kita menemukan berkat di tengah situasi pandemi global saat ini? 

Hal ini menjadi pertanyaan yang diangkat dalam Seminar Daring Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) bertajuk “Hidup dalam Rentang Covid-19: Derita atau Berkat?” pada Rabu (3/6/2020). Seminar yang terbuka untuk dosen dan tenaga kependidikan Unpar ini terlaksana berkat kerjasama Divisi On Going Formation Sindu Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) dan Divisi Kepegawaian Biro Pengembangan Modal Insani (BPMI) dalam meningkatkan kualitas modal insani Unpar melalui edukasi dan sosialisasi Spiritualitas dan Nilai Dasar (Sindu) Unpar..

Membuka acara, Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D. mengungkapkan refleksi institusional Unpar di mana pandemi kini menjadi suatu kesempatan bagi komunitas Unpar untuk berbuat lebih bagi masyarakat. “Ada ekspresi, ungkapan peduli yang luar biasa dari gerakan aksi kemanusiaan yang dilakukan,” ungkapnya. Misalnya, melalui usaha komunitas Unpar menggalang dana kemanusiaan bagi mahasiswa dan masyarakat. “Gerakan solidaritas ini barangkali menjadi sebuah berkah yang muncul dan diperjelas dalam pandemi ini.” 

Ia sekaligus mendorong seluruh komunitas Unpar untuk menjadi sumber solusi, khususnya secara intelektual. ”Unpar perlu ikut terlibat mencari solusi,” tegasnya. Gagasan, ide, dan rekomendasi bagi masyarakat, pemerintah serta aktivisme sosial perlu digalakkan secara menyeluruh. Aksi intelektual ini menjadi bagian dari tanggung jawab Unpar dalam merealisasikan Sindu dalam kehidupan.

Ritus Hidup

Seminar dan refleksi dibawakan oleh Kepala LPH Unpar Romo Yohanes Driyanto Pr. dengan moderator Edy Syahputra Sihombing dari LPH. Bagi Romo Dri, kondisi krisis saat ini menghasilkan tantangan dan peluang bagi kreativitas dan daya adaptif manusia. “Kita justru ingin terdorong: saat inilah kesempatan baru,” tuturnya.

Romo Dri membuka paparan dengan menjelaskan tiga hal yang terkandung dalam diri manusia: pola hidup yang terwujud dalam pola pikir, sikap dan perilaku; standar atau tolak ukur serupa Sindu bagi Komunitas Unpar; serta norma berperilaku. Ketika hidup manusia sudah memiliki ketiga hal ini, lanjutnya, maka akan tercipta ketentraman (rasa aman dan nyaman) lalu kedamaian (harmonis) yang berujung pada sukacita (suasana positif), sebuah pattern of life. “Kita hidup sesuai ritus (pola) kehidupan (ini),” jelas Romo Dri.

Lalu, bagaimana dengan kondisi saat ini? 

Shock hingga Joy

Hadirnya Covid-19 tanpa antisipasi mengundang kekacauan dalam keteraturan ini. Manusia mengalami ‘shock’ karena dipaksa untuk mengubah pola pikir, standar hidup, serta menaati norma yang asing.  “Orang dipaksa untuk berubah dari pattern of life-nya,” kata Romo Dri. Akibat berikutnya yaitu stress. Diam tidak nyaman, bergerak berbahaya, serasa tidak ada jalan keluar dan semua serba salah. Hal ini bisa menyebabkan perilaku yang nekat dan aneh dalam kehidupan sebagian manusia.

Namun, Romo Dri melanjutkan adanya fase berikutnya jika manusia dapat melewati hal tersebut: Surprised. “Mulai banyak orang menyadari betapa ‘hebatnya’ diri sendiri,” ujarnya. Betapa kemampuan adaptif luar biasa ternyata ada di dalam diri manusia. Krisis menjadi kesempatan untuk, “Menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan.” yang dulu menakutkan jadi menyenangkan, serta muncullah suatu fase manusia menjadi kreatif. Dengan melalui fase ini, ”Sampailah kita pada yang namanya ‘Joy’.” Manusia kini menjadi akrab dengan keadaan, memiliki semangat, dan menjadi produktif di tengah situasi yang berubah.

New Normal

Kini, kita akan menghadapi kehidupan berbeda yang harus terjadi menjadi ritus kehidupan kita, yaitu kehadiran Normal Baru (New Normal) yang tentu mengubah pola kehidupan dan mendorong manusia beradaptasi. Untuk itu, Romo Dri mengajak komunitas Unpar untuk bersikap adaptif dan positif, melampaui momen shock dan stress, hingga mencapai fase surprised dan menemukan kebahagiaan atau joy ini. 

“Semoga benar-benar (melalui) peristiwa ini, kita tidak menyatakannya sebagai derita,” kata Romo Dri, “tetapi bisa menjadi berkat bagi kita semua, di Unpar, di Indonesia, dan kemanusiaan selanjutnya.” “Ini bukan derita tapi berkat!” pungkasnya.

Manusia memiliki kemampuan adaptif yang luar biasa hebat. Di tengah situasi krisis ini, manusia ditantang untuk tetap berpikir dan berperilaku positif, menyesuaikan diri, hingga mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya. Penguatan Sindu bagi komunitas Unpar menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan diri menjadi berkat dalam kehidupan yang baru melampaui masa sulit ini. “Mari kita ber-Sindu dan bersyukur, menjadikan Chronos menjadi Choiros!” (DAN – Divisi Publikasi)