Home / Berita Terkini / Menanamkan Nilai Pancasila melalui Debat Nasional
Nilai Pancasila

Menanamkan Nilai Pancasila melalui Debat Nasional

Dasar falsafah dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah Pancasila. Pancasila juga berperan sebagai pandangan dan pedoman hidup, serta kepribadian bangsa.

Berdasarkan hukum yang berlaku, TAP MPR No. 2 Tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa) menimbang bahwa Pancasila yang merupakan pandangan hidup bangsa dan dasar NKRI perlu dihayati dan diamalkan secara nyata untuk menjaga kelestarian dan keampuhannya demi terwujudnya tujuan nasional serta cita-cita bangsa seperti tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pada hakikatnya, sila-sila Pancasila sebagai sebuah sistem nilai merupakan kesatuan sistematis dan fundamental, seperti tercantum dalam TAP MPR No. 10 Tahun 1996. Setiap butir sila saling meliputi dan menjiwai sila yang lainnya. Di dalam setiap sila Pancasila mengandung nilai-nilai yang wajib dimiliki setiap masyarakat Indonesia, yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Mendiang Guru Besar Filsafat Hukum Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Prof. Bernard Arief Sidharta menyebutkan dalam bukunya Refleksi Tentang Struktur llmu Hukum, Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia tentang hubungan antara manusia dan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dengan alam semesta yang berintikan keyakinan tentang tempat manusia individual di dalam masyarakat dan alam semesta.

Namun, pengejawantahan sehari-hari berbanding terbalik dengan ajaran Pancasila yang seharusnya tertanam dalam setiap diri manusia Indonesia. Misalnya, korupsi, kejahatan terhadap hak milik, penipuan, penggelapan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan penganiayaan yang dilakukan terhadap anak-anak di bawah umur.

Menyikapi kondisi itu, Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum (HMPSIH) Unpar menyelenggarakan Kompetisi Debat Tingkat SMA (Kodema) Nasional ketiga yang bertemakan “Moralitas Generasi Muda Terhadap Globalisasi”. HMPSIH ingin menanamkan dan meningkatkan kesadaran mengenai nilai-nilai Pancasila di kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA).

Selain itu, untuk menuntun pola pikir generasi muda supaya dapat menyikapi globalisasi dengan kritis sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dapat dimanfaatkan dengan bijak. Tujuan lainnya adalah untuk memperkenalkan pemikiran mendiang Prof. Bernard Arief Sidharta mengenai kesadaran moral pancasila sebagai pedoman bagi generasi muda dalam menghadapi globalisasi. HMPSIH menargetkan kalangan pelajar SMA karena dianggap telah memiliki ilmu yang cukup untuk memaknai nilai Pancasila secara utuh dikaitkan dengan tantangan globalisasi dan dampaknya terhadap moralitas bangsa.

Tahun ini, sebanyak 12 delegasi mengikuti Kodema 2017 yang tiap SMA mengirim satu hingga dua delegasi, di antaranya SMA Santa Maria 1 Bandung, SMAK Penabur 1 Bandung, SMAN 1 Garut, SMAN 12 Bandung, SMAK Penabur Tangerang, SMAN 1 Bandung, SMA BPI Bandung, dan SMA Cahaya Bangsa Bandung.

Berlangsung selama tiga hari berturut-turut, KODEMA terbagi ke dalam tiga tahap seleksi, yaitu penyisihan, semi-final, dan final. Panitia juga mengundang sejumlah alumnus serta dosen Fakultas Hukum (FH) Unpar sebagai dewan juri selama kompetisi berlangsung.

Setelah melewati proses final pada Minggu (2/4), peserta yang berhasil meraih gelar juara pada Kodema tahun ini adalah SMAK Penabur 1 Bandung (Juara 1), SMAN 1 Garut (Juara 2), dan SMAN 12 Bandung (Juara 3). Terpilih sebagai best speaker, yaitu SMA BPI 1 Bandung.

Ketua Kodema 2017 Bibil Maruf menyebutkan, tidak hanya lembaga pendidikan saja yang harus bertanggung jawab menghadapi peristiwa ini, tapi keluarga, kelompok sebaya (peer group), dan seluruh elemen masyarakat harus terlibat. Menurutnya, perkembangan iptek dan globalisasi tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman nilai moral Pancasila.

Dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 9 Ayat 2 menyebutkan bahwa dalam setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat pendidikan pancasila. Namun, seluruh elemen masyarakat dan negara juga perlu saling bermusyawarah untuk menghadapi dan mencari solusi terhadap peristiwa yang semakin marak terjadi di kalangan generasi muda Indonesia karena peran yang diemban oleh masyarakat dan negara cukup besar.

Nilai dasar falsafah negara dan pandangan hidup bangsa, yakni Pancasila harus senantiasa ditanamkan dalam diri generasi muda yang merupakan agen perubahan. Hal ini ditujukan agar mereka mampu menjiwai semangat para pendiri negara, mencapai tujuan dan cita-cita bangsa, serta bergerak maju ke arah kemakmuran dan keadilan sosial, sesuai dengan Pancasila. Para peserta Kodema diharapkan dapat memahami nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan kejujuran yang coba disemaikan melalui penyelenggaraan debat.

Sumber: Kompas – Griya Ilmu (Selasa, 2 Mei 2017)