Home / Berita Terkini / Memulai dan Menumbuhkan Bisnis dengan E-Commerce

Memulai dan Menumbuhkan Bisnis dengan E-Commerce

Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Katolik Parahyangan menggelar webinar bertajuk “How to be Agile and Still Growing Your Business using E-Commerce” pada Jumat, (15/5/2020). Acara mengundang Januarius Gunawan (Sales Activation Specialists, Managing Director at TGAS) sebagai pembicara. 

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian acara “Webinar Series Unlocking Skill” yang digarap oleh Program Studi Sarjana dan Magister Administrasi Bisnis serta Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis (HMPSIAB) Unpar. Rangkaian webinar bertujuan untuk mengembangkan keahlian peserta yang berfokus ke bisnis dengan mengangkat topik-topik menarik, seperti teknologi, e-commerce, kesehatan dan hobi menguntungkan sambil menyikapi keadaan saat ini. 

Webinar kali ini membahas tentang apa yang harus disiapkan dan bagaimana memanfaatkan komunitas dan teknologi untuk keberlangsungan usaha. Webinar dibuka dengan penjelasan mengenai opportunity dan challenge yang dihadapi oleh pelaku bisnis di Indonesia. 

Saat ini, kebanyakan usaha bergerak dalam mode bertahan hidup dengan hantaman badai keadaan dunia saat ini. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri, terdapat pula sektor yang justru berkembang, seperti di bidang kesehatan atau keperluan konsumsi. Perlu diketahui, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 260 juta penduduk yang sangat tersebar menyediakan peluang untuk berbisnis. Namun kesempatan yang begitu besar tentu menghadirkan tantangan pula bagi pelaku bisnis. 

Berbagai Tantangan

Tantangan pertama bagi pelaku bisnis dalam keadaan infrastruktur yang berbeda di setiap kota. Indonesia belum memiliki kemampuan distribusi standar untuk dapat mencapai konsumen di seluruh Indonesia. Hal ini membutuhkan strategi usaha yang dapat menyama-ratakan jangkauan usaha di setiap daerah. Selain itu, terdapat peraturan daerah yang berbeda-beda dapat menghambat usaha atau memerlukan strategi pemasaran yang berbeda pula, terlebih dengan adanya kebijakan PSBB yang turut mempengaruhi operasional perusahaan. 

Belum lagi permasalahan seperti kemudahan pembayaran, penetrasi online shop untuk masyarakat Indonesia di daerah terpencil, koneksi internet, dan perpajakan yang masih terus dikaji. “Kita punya banyak kesempatan. Di masa pandemic ini, memang uncertainty becoming so certain. Kita sadar, resiko pandemiknya adalah pelanggan udah ga bisa nunggu. Walaupun metode belanjanya sudah ada online, tapi maunya (transaksi) yang lebih cepet,” tanggap Januarius. 

Menyikapi Keadaan

Lalu, bagaimana seharusnya pelaku bisnis menyikapi keadaan dan menjalankan bisnisnya di saat pandemic seperti ini?

Perusahaan tentu memiliki target, akan tetapi Januarius menganggap bahwa target itu harus ditunda dengan memfokuskan aksi apa yang bisa dilakukan saat ini. “Berdasarkan belajar dan sharing dengan sesama pengusaha, yang harus dilakukan pertama adalah, fast forward to the new normal,” ungkap Januarius. Ia menggunakan teori organisasi forming, storming, norming, dan performing oleh Bruce Tuckman sebagai salah satu cara yang dapat diterapkan pelaku usaha dalam menghadapi situasi saat ini. “Jadi, semakin cepat kita menerima keadaan sekarang ini, maka kita dapat melalui badai lebih cepat, dan apabila kita sudah terbiasa dengan kondisinya, maka akan menjadi sebuah keadaan yang normal  untuk kita, baru setelah itu usaha kita bisa perform,” jelasnya.

Berikutnya, pelaku usaha harus paham siapa yang menjadi pelanggan/channel yang diutamakan, “Itu yg harus kita perhatikan dan buat relasinya, berhubungan dgn mereka, apa yang kita bisa bantu untuk mereka supaya mereka bisa bantu kita,” tutur Januarius. “Kita juga harus melindungi team kita sendiri, karena merekalah yang membawa bisnis kita sampai ke titik ini,” tambahnya.

Terakhir, Januarius menekankan pada aspek fleksibilitas dan kemampuan perusahaan untuk beradaptasi sebagai game plan–nya dengan menggunakan teknologi sebagai kurs usaha. Ia mengingatkan bahwa keadaan pandemic tidak memperlambat tumbuhnya populasi manusia, sehingga ekonomi pun akan tetap tumbuh lebih baik lagi. Selain itu, kebiasaan masyarakat dan konektivitas serba-serbi online telah berubah, terlebih semenjak pandemic muncul. Perubahan yang drastis dan cepat menjadi akselerasi bisnis e-commerce di Indonesia. “Kita harus cari channel alternatif, dan yang ingin saya share adalah melalui e-commerce,” tambahnya.

Tetap Relevan

Dengan memasuki e-commerce, pelaku usaha perlu memperhatikan banyaknya perubahan dalam model dan proses yang dapat menentukan keberhasilan perusahaan. “Tantangan itu selalu ada, tapi kalau berhenti di situ, ya hanya selesai di situ. Jadi, kita harus mencari cara bagaimana bisa usaha kita relevan untuk sekarang,” pesan Januarius. Ia juga menekankan bahwa pelaku bisnis perlu memiliki pemahaman yang tinggi akan keadaan demografis pasar sebelum terjun ke dunia bisnis. Hal ini dapat membantu mempertimbangkan platform bisnis apa yang cocok dengan sasaran atau segmen usahanya.Webinar ditutup dengan sesi tanya jawab. Antusiasme para peserta yang melontarkan beragam pertanyaan menghasilkan diskusi yang mendalam. Melalui webinar ini, pembicara dan panitia acara berharap agar dapat menginspirasi peserta untuk memulai bisnisnya dan tidak patah semangat menjalankan usaha agar terus tumbuh dengan memanfaatkan e-commerce. (MGI/DAN – Divisi Publikasi)