Home / Berita Terkini / Mempersiapkan Diri Menghadapi Dunia Penuh Interkonektivitas

Mempersiapkan Diri Menghadapi Dunia Penuh Interkonektivitas

Kemajuan di bidang komunikasi digital dan teknologi informatika telah menyebabkan berbagai bentuk perubahan, terutama dalam kondisi sosial masyarakat kontemporer. Hal ini tidak bisa lepas dari betapa terhubungnya setiap insan di dunia masa kini.

Hubungan yang terbuka dan dapat diakses oleh semua orang muncul dengan adanya revolusi digital dan meluasnya jaringan internet. Fenomena inilah yang disebut sebagai interkonektivitas (interconnectiveness), suatu fenomena baru di masa kontemporer.

Dunia yang serba terhubung ini adalah penyebab perubahan gaya hidup dan kondisi sosial saat ini. Dalam dunia pendidikan saja, digitalisasi sudah mengubah interaksi antara pengajar dan siswa atau mahasiswa. Contohnya, kini sudah terbentuk Massive Open Online Course (MOOC). Gambaran besarnya, MOOC membuat siapa saja yang terhubung dengan internet dapat menempuh pendidikan yang berkualitas. MOOC membawa pendidikan langsung kepada masyarakat kebanyakan. Berbagai skema MOOC telah diterapkan di seluruh dunia, sementara skala lokal dari sistem tersebut telah dipakai di berbagai instansi pendidikan tinggi, termasuk di Indonesia.

Pusat Inovasi Pembelajaran Universitas Katolik Parahyangan (PIP Unpar) menyadari bahwa perubahan era digital mengakibatkan kebutuhan setiap manusia dan institusi untuk berubah dan berinovasi. Untuk itu, PIP Unpar mengundang Dr. Anuncius Gumawang Jati untuk membagikan ilmu dan menjelaskan pentingnya digital literacy bagi insan masa kini, khususnya dosen dan mahasiswa selaku insan pendidikan. Dalam seminar ini, pesan utama yang disampaikan adalah mempersiapkan diri menghadapi dunia yang saling terhubung (interconnected).

Mengapa persiapan ini penting? Pada dasarnya, perubahan yang terjadi dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi telah mengakibatkan berbagai perubahan yang tidak terduga, bahkan tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagai contoh, berbagai bentuk pekerjaan baru terbentuk hanya karena adanya interkonektivitas lewat internet, misalnya media social manager, sustainability expert, app developer. Hal ini menuntut perubahan dalam sistem pendidikan, yang kini harus menyiapkan peserta didik pada masalah yang tidak ada saat ini, tapi ada di masa depan, menggunakan metode dan teknologi yang juga belum kita ciptakan.

Pentingnya “digital literacy”

Lalu, bila kita belum memiliki pandangan mengenai dunia masa depan, bagaimana kita mempersiapkan diri? Tentu saja, setiap orang, khususnya pegiat bidang pendidikan, harus merubah pola pikir dan mempelajari pendekatan dan keahlian baru dalam menghadapi dunia yang serba terhubung ini.

Ada berbagai keahlian dan kemampuan yang kita butuhkan, antara lain sense making, social intelligence, cross cultral competencies, computational thinking, new media literacy, transdisciplinarity, designed mindset, dan virtual collaboration. Berbagai keahlian dan kemampuan tersebut merupakan bagian dari kompetensi yang dibutuhkan oleh setiap orang untuk mencapai suatu pemahaman akan dunia digital, atau yang dikenal sebagai literasi digital (digital literacy).

Pentingnya literasi digital terkait dengan generasi yang dihadapi oleh dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Generasi baru yang acap kali disebut generasi Z atau Millenials ini adalah generasi yang kini “menguasai” media dan internet. Dengan kemampuan yang besar untuk beradaptasi dan menguasai teknologi baru, generasi Z menjadi sadar akan era keterbukaan dan keterhubungan masa kini. Generasi baru ini menuntut cara-cara yang baru, inovatif, lebih kritis dan terbuka dalam proses pengajaran, khususnya dalam perkuliahan. Tentu saja, hal ini bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh oleh tenaga pendidik maupun institusi pendidikan.

Perubahan dalam pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, diperlukan untuk menyelaraskan diri dengan perubahan dan fenomena sosial kontemporer. Pendidikan kini diharapkan untuk menghasilkan lebih banyak lagi insan yang kritis dan dinamis, dengan kemampuan analisis yang baik dalam berbagai bidang.

Lewat pendidikan pula, setiap insan dituntut untuk tidak hanya menjadi spesialis, yang menguasai satu bidang secara mendalam (in-depth), melainkan mampu membangun pemahaman akan suatu permasalahan lewat berbagai pendekatan bidang ilmu, secara interdisipliner. Tentu saja, sebagai penggerak utama revolusinya, pendidikan juga dituntut untuk menghasilkan insan dengan kesadaran yang tinggi akan dunia digital masa kini, dengan kata lain menjadi insan yang “melek” digital.

Dunia yang penuh dengan interkonektivitas telah mengakibatkan revolusi sosial yang luar biasa. Perubahan yang terjadi menyertainya menuntut adaptasi terhadap berbagai bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Setiap institusi dan insan pendidikan tinggi, baik mahasiswa maupun dosen dan tenaga pendidik, diharuskan untuk melakukan perubahan, guna mempersiapkan diri dalam menghadapi dunia yang penuh interkonektivitas.

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 14 Februari 2017)